Populer

Cari Blog Ini

Music Listening

AI MUSIC GENERATOR

Tampilkan postingan dengan label Ulama Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama Nusantara. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2021

SUNAN GIRI PENDAKWAH ISLAM PERTAMA DI KALIMANTAN

 SUNAN GIRI

PENDAKWAH ISLAM PERTAMA DI KALIMANTAN







Ada satu fakta sejarah yang jarang diungkap oleh para peneliti, apalagi diketahui jamak oleh orang awam bahwa pengaruh masuknya Islam di bumi Banjar tak terlepas dari pengaruh dakwah walisongo (wali sembilan) khususnya Sunan Giri .

Saya secara pribadi tidak melihat kiprah dakwah itu sebagai bagian dari dakwah politik kerajaan Islam Demak, sebab kiprah Raden Paku atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Giri itu sudah lebih dahulu dari berdiri dan tumbuhnya Kerajaan Islam Demak sebagai kekuatan baru pesaing kerajaan Hindu Majapahit yang sudah mulai runtuh ketika itu.


Jika dilihat dari kronologis sejarahnya, kiprah dakwah Sunan Giri telah ada berlangsung pada awal abad ke-15 Masehi di Kalimantan Selatan. Kedatangan Sunan Giri ditengarai pada tahun 1470 M; 

Dimana ketika itu pusat perdagangan di Pelabuhan Bandar Masih (yang kemudian berganti nama penyebutannya menjadi Banjarmasin) sedang mengalami puncak keramaian interaksi pedagang dari pelbagai Negara (Mancanegara).

Ada pula penelitian yang menyebutkan kedatangan Sunan Giri pertama kalinya di pelabuhan Muara Bahan ( Bandar Utama Kerajaan Negara Daha /Pra Kesultanan Banjar)  yang hari ini dikenal dengan nama Marabahan. Kedatangan beliau bukan sekedar misi dakwah, namun juga dalam rangka perdagangan, sebab kedatangan beliau bersama tiga buah kapal dagang.

Terlepas apakah misi beliau dalam rangka berdagang atau berdakwah semata, namun catatan sejarah yang tidak bisa dilupakan bahwa orang-orang dayak Bakumpai atau Urang Bakumpai yang tinggal di pesisir Muara Bahan, ternyata mereka telah ditemukan memeluk Islam lebih dahulu berbanding, masuknya Islam Raja Pertama Banjar;

KDYMM Sultan Suriansyah pada kisaran tahun 1526 M dengan diutusnya Khatib Dayan dari kerajaan Demak atas bantuan bala tentara Demak membantu memenangkan peperangan Pangeran Samudera (nama lain KDYMM Sultan Suriansyah sebelum memeluk Islam ).


Saya melihat kiprah Sunan Giri di Kalimantan pada umumnya, khususnya di bumi Banjar sebagai tanggung jawab serta tugas para pendakwah khususnya bagi kalangan Alawiyyin yang memiliki misi meng-islamkan bumi Nusantara, termasuk bumi kerajaan Banjar yang ketika itu masih dipimpin oleh kerajaan Daha yang memeluk agama Hindu.


Meskipun faktanya, kerajaan Daha memeluk agama Hindu, namun pada masyarakat Banjar yang notabene suku Melayu tidak ditemukan adanya kepercayaan agama Hindu yang mengakar kuat pada keyakinan masyarakatnya, terkecuali hanya beberapa tradisi simbolik dalam beberapa aspek kecil saja yang kemudian berasimilasi dengan nilai-nilai Islami .


Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan dan mengakar dari agama Hindu bagi masyarakat Melayu Banjar, hingga datangnya pengaruh Islam yang benar-benar menjadi roh dan nafas kehidupan bagi masyarakat orang Melayu Banjar.


Jika dirunut lebih mendalam lagi, 

Sunan Giri merupakan keturunan Rasulullah SAW

melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad an-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Ibrahim Zainuddin Al-Akbar As-Samarqandy (Ibrahim Asmoro), Maulana Ishaq, dan Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Dengan demikian, sumber dakwah Islamnya masyarakat Melayu Banjar boleh dikatakan bukan semata dari pengaruh Islam Demak di Jawa, akan tetapi lebih awal memang bersumber langsung dari keturunan Ahlul Bait yang sumber utamanya bermuara pada datuk pertama mereka Al-Imam Ahmad bin Muhajir di Yaman.

Secara kajian ilmiah, saya secara pribadi tidak menemukan adanya pengaruh kekhalifahan Turki Utsmani pada periodesasi ini. Sebab pada rentang abad ke-15 M yang ketika itu bertepatan dengan kepemimpinan Sultan Muhammad al-Fatih Sang Penakluk Constantinopel (1451-1481 M) atau jika ditarik lebih awal lagi pada masa pemerintahan ayahnya Sultan Muhammad I (1421-1451 M).


Pada masa itu, kekhalifahan Turki Ustmani (Ottoman Empires)  tengah menghadapi banyak peperangan dan penaklukan pasca peperangan Salib yang sedang bergelora di Eropa. Dengan pengertian lain, kekhalifahan Turki Ustmani belum memusatkan adanya hubungan kerjasama politik atau pun militer dengan kerajaan Islam di Nusantara.

Kembali pada Islamisasi di bumi Kerajaan Banjar awal bahwa jelas di sana belum ada pengaruh politik, baik dari kerajaan Islam di Jawa maupun kerajaan Islam yang tengah berkuasa di Asia atau di Timur Tengah kala itu.

Semangat dakwah yang pertama kali tertancap di bumi Kalimantan murni atas dasar kemurniaan dakwah mengenal keagungan Islam secara kultural yang bersumber langsung dari para ulama dan dai yang ikhlas lillahi ta'ala. 

Selanjutnya, pengaruh kultural ini akan terlihat pada sepak terjang perjalanan Islam di bumi Banjar mulai abad ke-15 M hingga abad 21 hari ini yang nampak jelas pada praktik keberagamaan masyarakat muslimnya yang lebih nyaman dengan gaya sufistik, ketimbang gaya pergerakan Islam progresif atau revolusioner. 


Dengan kata lain, masyarakat muslim Banjar tidak terlalu tertarik dengan gaya Islam pergerakan atau revolusioner. Dan tidak ada fakta sejarah atau situs sejarah adanya pengaruh kekhalifahan Turki Ustmani pada masa kerajaan Banjar pada periodesasi awal ini.

Inilah mengapa kultur budaya dan nuansa keislaman bagi orang Melayu Banjar menyatu dengan kehidupan mereka yang lebih senang merindukan kebersamaan bersama Tuhan dan Rasulnya dalam amaliah-amaliah 


Wallahu Ta'ala A'la

Penulis : Ustaz Miftah El-Banjary

(Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur'an)


#FolksOfBanjar #KesultananBanjar #IslamBanjar #SejarahBanjar #MelayuBanjar #SejarahMasuknyaIslamDiKalimantan



Kamis, 28 Februari 2019

SHEIKH ALI BIN ABDULLAH AL-BANJARY


SHEIKH ALI BIN ABDULLAH AL-BANJARY
JURU TULIS KITAB I'ANAH ATH-THALIBIN

Di kalangan santri di Indonesia dan Santri Alam Melayu kitab I’anah Ath-Thalibin sangat dikenal. Namun siapa sangka, penulisnya (juru tulis Syekh Bakri Satha) ternyata seorang syekh keturunan Banjar , Kalimantan Selatan
Syekh keturunan Banjar itu bernama Syekh Ali bin Abdullah bin Mahmud bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau dilahirkan di Makkah Al Mukarramah tahun 1285 Hijriyah bertepatan dengan tahun 1868 Miladiyah (Masihi), dan tumbuh di dalam keluarga shaleh dan shalehah.
Ayahnya, Syekh Abdullah bin Mahmud Al Banjari merupakan ulama karismatik di Makkah Al Mukarramah. Beliau dijuluki dengan julukan Syekh Abdullah Wujud dikarenakan apabila beliau berdzikir, tubuhnya tidak lagi nampak terlihat, melainkan hanya pakaian dan sorbannya saja.
Di dalam keluarganya yang shaleh dan menjunjung tinggi ilmu agama itulah Syekh Ali tumbuh besar, hingga beliau mewarisi kecintaan pada ilmu agama sebagaimana ayah, kakek, dan datuknya yang lebih dulu menjadi ulama besar di zaman mereka.
Syekh Ali tak mau menjadi pemutus “nasab emas” keilmuan para leluhurnya, beliau pun dengan gigihnya menimba ilmu kepada banyak ulama, di antaranya kepada Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha, Syekh Said Yamani, Syekh Yusuf Al Khaiyat, Sayyid Husein bin Muhammad Al Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan As Saqaf (Assegaf), Mufti Abid bin Husein bin Ibrahim Al Makki, Habib Ahmad bin Hasan Al Atthas, Habib Umar bin Salim Al Atthas, Syekh Mahfuz Termas, Syekh Ahmad Fathani, Syekh Zainuddin As Sumbawi dan lainnya.
Dalam ilmu nahwu, sharaf, dan Fiqih Syekh Ali belajar kepada Syekh Abu Bakar Satha, Syekh Said Yamani, dan Syekh Mahfuz Termas (Ulama dari tanah Jawi). Dalam bidang hadits beliau berguru kepada Syekh Said Yamani, Sayyid Husein bin Muhammad Al Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan As Saqaf (Assegaf), Mufti Abid bin Husein bin Ibrahim Al Makki. Adapun dalam ilmu falaq, Syekh Ali belajar kepada Syekh Yusuf Al Khaiyat. Tafsir, kepada Sayyid Abu Bakar Satha. Dan, mengambil ijazah Thariqah Sammaniyah kepada Syekh Zainuddin As Sumbawi.
Menjadi Juru Tulis Gurunya
Guru dari Syekh Ali, Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha adalah salah satu ulama besar bermazhab Syafi’i yang hidup pada akhir abad ke-13 H dan permulaan abad ke-14 H. Kala itu, Sayyid Abu Bakar as Satha mengajar kitab syarah Fath al Mu’in karya Al Allamah Zainuddin al-Malibari, di Masjidil Haram.
Selama mengajar Kitab Fathul Mu’in, Sayyid Abu Bakar Satha menulis catatan sebagai penjelasan dari kalimat-kalimat yang terdapat dalam Kitab fathul Mu’in.
Catatan-catatan inilah yang kemudian diminta untuk dikumpulkan oleh para sahabat beliau, guna dijadikan sebuah kitab (hasyiyah) untuk memahami Kitab Fathul Mu’in.
Saat itu, Syekh Ali menjadi perhatian di antara sekian banyak murid yang mengaji kepada Sayyid Abu Bakar Satha. Kecakapannya dalam bidang ilmu fiqih membuat Sayyid Abu Bakar menunjuk Syekh Ali sebagai katib (Juru tulis) kepercayaannya ketika mengarang kitab. Salah satu kitab yang diketahui merupakan hasil tulis dari Syekh Ali adalah Kitab ‘Ianah Ath-Thalibin, syarah (penjelasan ) dari Kitab Fathul Mu’in karya Al Allamah Zainuddin al-Malibari.
“Kitab asli tulisan tangan beliau itu ada di Sumatra,” kata Ustadz Muhammad bin Husin bin Ali Al Banjari.
Kitab ini merupakan tulisan bermodel hasyiyah, yaitu berbentuk perluasan penjelasan dari tulisan terdahulu yang lebih ringkas. Kitab I’anah Ath-Thalibin ini selesai ditulis pada Hari Rabu ba’da Ashar, 27 Jumadil al-Tsani Tahun 1298 H.
Kitab I’anah Ath-Thalibin memiliki kelebihan sebagai fiqh mutakhkhirin yang lebih aktual dan kontekstual karena memuat ragam pendapat yang diusung ulama mutaakhkhirin utamanya Al-Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar dan banyak lainnya yang tentunya lebih mampu mengakomodir kebutuhan penelaah akan rujukan yang variatif dan efektif.
Rujukan penyusunan kitab ini adalah kitab-kitab fiqh Syafi’i mutaakhkhirin, yaitu Tuhfah al-Muhtaj, Fath al-Jawad Syarh al-Irsyad, al-Nihayah, Syarh al-Raudh, Syarh al-Manhaj, Hawasyi Ibnu al-Qasim, Hawasyi Syekh ‘Ali Syibran al-Malusi, Hawasyi al-Bujairumy dan lainnya.
Mursyid Thariqah Sammaniyah
Dalam bidang tasawuf, Syekh Ali Al Banjari diketahui pernah mengambil ijazah Thariqah Sammaniyah kepada Syekh Zainuddin As Sumbawi, hingga menjadi mursyid dalam thariqah tersebut. Hal ini diketahui dengan adanya catatan silsilah masyaikh (keguruan) pada Thariqah Sammaniyah yang terdapat nama beliau di dalamnya.
Thariqah Sammaniyah adalah thariqah yang didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani. Di antara murid Syekh Muhammad Samman adalah Datuk Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliaulah yang membawa thariqah ini ke tanah Banjar, dan meng-ijazahkannya kepada keluarga dan pengikut beliau. Dari keluarga dan pengikut beliau inilah kemudian thariqah tersebut terjaga hingga sekarang.
Mursyid Thariqah Sammaniyah yang masyhur dari keturunan Datuk Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Tuan Guru Sekumpul). Di antara mata rantai sanad keguruan Tuan Syekh Muhammad Zaini dalam bidang Thariqah Sammaniyah ini, terdapat nama Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari. Berikut perinciannya sanad keguruan dari Syekh Samman hingga Syekh Muhammad Zaini:
Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani,
Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari,
Syekh Syihabuddin Al Banjari
Syekh Nawawi bin Umar Al Bantani
Syekh Zainuddin bin Badawi As Sumbawi, Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari
Syekh Muhammad Syarwani bin Haji Abdan Al Banjari
Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari.
Mengajar di Masjidil Haram
Setelah dinilai guru-gurunya mumpuni dalam bidang keilmuan, Syekh Ali pun diizinkan mengajar di Masjidil Haram dalam mata pelajaran Nahwu, Sharaf, dan Fiqih Mazhab Syafi’ie.
Sejak saat itu pula, rumahnya di Daerah Syamiyah, Jabal Hindi, menjadi tempat tujuan para penimba ilmu. Terlebih, ketika umat Islam Seluruh dunia berdatangan untuk menunaikan ibadah haji. Momentum ibadah haji ini biasanya dimanfaatkan para muslimin untuk menimba ilmu dari ulama-ulama besar di tanah haram, tak terkecuali dengan Syekh Ali.
Dari sekian banyak murid Syekh Ali Al Banjari yang datang dari tanah Banjar dan kemudian menjadi ulama besar, di antaranya: Tuan Guru Zainal Ilmi (Dalam Pagar,Martapura), Syekh Sya’rani bin Haji Arif (Kampung Melayu), Syekh Muhammad Syarwani bin Haji Abdan Al-Banjary (Bangil, Surabaya), Syekh Seman bin Haji Mulya (Keraton,Martapura), Syekh Hasyim Mukhtar, Syekh Nasrun Thahir, Syekh Nawawi Marfu’, Syekh Abdul Karim bin Muhammad Amin Al Banjari (wafat di Makkah).
Berhenti Mengajar di Masjidil Haram
Setelah sekian lama tanah haram hidup tenang, dan Syekh Ali tenang menjalani rutinitasnya sebagai pengajar di Masjidil Haram, Saudi Arabia dilanda perpecahan. Perang antara kubu Syarif Husein (Turki Usmani) dengan kubu Muhammad Su’ud bin Abdul Aziz.
Peperangan tersebut tidak hanya berkisar perebutan daerah, tapi juga keyakinan dalam beragama. Kubu Muhammad Su’ud yang membawa keyakinan Wahabi kemudian membuat “onar” di tanah haram. Para ulama Ahlussunnah di zaman itu dipanggil, tak terkecuali dengan Syekh Ali.
Sempat terjadi perdebatan sengit antara Syekh Ali dengan ulama wahabi tentang firman Allah Ta’la, “Yadullah fauqa aidihim”(Al Fath ayat 10). Ulama Wahabi berpandangan lafaz “Yad” disana adalah tangan, dan Syekh Ali dengan tegas tidak menerima pandangan Mujassimah (menyerupakan Tuhan dengan makhluk, red) tersebut. Beliau cenderung dengan pandapat tafsir tentang ayat tersebut yang menyatakan: Bermula kekuasaan itu atas segala kekuasaan mereka itu. Lafadz “Yad” dimaknai Qudrat. Dalam debat itu, beliau menang telak atas ulama Wahabi. Sehingga, Syekh Ali yang tadinya akan dipancung, urung dilaksanakan.
Dalam masa peperangan itu-lah, Syekh Ali Al Banjari menitipkan anaknya Husin Ali kepada Tuan Syekh Kasyful Anwar Al Banjari untuk dibawa ke tanah Banjar. Syekh Kasyful Anwar adalah sahabat Syekh Ali ketika mengaji kepada Sayyid Abu Bakar Satha, yang juga keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Sejak perpecahan itu-lah Syekh Ali Al Banjari tak lagi mengajar di Masjidil Haram. Namun, beliau masih menerima orang-orang yang datang menemuinya. Baik yang menimba ilmu atau yang hanya meminta doa. Karena nama Syekh Ali tidak hanya besar disebabkan kedalaman ilmunya, tapi juga kemustajaban doanya. Sehingga, banyak orang yang datang menemuinya hanya untuk didoakan beliau.
Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari wafat di Makkah Al Mukarramah, Khamis malam (Malam Jumaat) 12 Dzulhijjah 1307 Hijriyah dimakamkan di Mu’alla, Mekkah.
Silakan share , tapi sertakan nama penulisnya. Sebab, suatu saat mungkin ada yang menjadikan referensi penelitian. Tulisan ini bersumber dari wawancara penulis dengan Ustadz Muhammad Husein Ali bin KH Husin Ali bin Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari (Cucu Syekh Ali di Martapura).
Jika ada salah dan khilaf, baik di sengaja maupun yang tidak disengaja, penulis menghaturkan ampun dan maaf yang sebesar-besarnya. Semoga Allah membukakan pintu tobat, ampunan, taufiq, hidayah, istiqomah, dan husnul khotiman pada kita sekalian baik bagi penulis maupun pembaca berkat Rasulullah SAW, Syaikhuna Sekumpul, berkat Syekh Ali Al Banjari, dan berkat orang-orang shaleh dulu-sekarang hingga akhir zaman, amin ya Rabbal ‘alamin
SOURCE & WRITER :
Penulis: Muhammad Bulkini Ibnu Syaifuddin
# FolksOfBanjar # # I ’anahAth-Thalibin
# SheikhAli

Selasa, 05 April 2016

Jadwal Haul Para Tokoh Ulama & Habaib Di Kalimantan Selatan

haul3.jpg

JADWAL HAUL TOKOH ULAMA & HABAIB DI KALIMANTAN SELATAN ------------------------------------------------------ - BANJARMASIN : 1. Sultan Surian Syah (Sultan Banjar Pertama): 12 Rabiul Awal / 24 Des 2015 & 12 Des 2016 2. Habib Hamid bin Abbas Bahasyim ( Habib Basirih ) : 18 Jumadil Awal / 27 Feb 2016 3. Tuan Sheikh Mufti Haji Jamaluddin Al-Banjary ( Surgi Mufti ) : 8 Muharram / 21 Okt 2015 / 21 Okt 2016 4. Tuan Guru Sheikh Muhammad Amin bin Ya'qub ( Datuk Amin Benua Anyar ) : 30 Syawal / 30 Juli 2016 5.Tuan Guru Haji Ahmad Bakeri ( Guru Bakeri ) : 20 Rabiul Awal 6. Tuan Guru Haji Muhammad ( Ayahanda Tuan Guru Ahmad Zuhdiannor / Guru Zuhdi : 17 Muharram ------------------------------------------------------ - Kab.Banjar ( Martapura ) : 1. Datuk Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjary ( Datuk Kelampayan )(Pengarang Kitab Sabil Al-Muhtaddin) : 6 Syawal / 11 Juli 2016 2. Datuk Sheikh Abdul Hamid ( Datuk Abulung ) : 12 Dzulhijjah / 26 Sept 2015 & 14 Sept 2016 3. Tuan Guru Sheikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjary ( Tuan Guru Sekumpul ) : 5 Rajab / 10 April 2016 4. Tuan Guru Sheikh Muhammad Kasyful Anwar bin Ismail Al-Banjary ( Guru Kasyful ) : 18 Syawal / 23 Juli 2016 ------------------------------------------------------ - BANJARBARU : 1. Sharifah Badrun binti Syed Yusuf Al-Qodiry Al-Hasani ( 29 Syawal / 3 Agustus 2016 ------------------------------------------------------ - Kab Barito Kuala: 1.Datuk Sheikh Haji Muhammad Abdusshamad Al-Banjary ( Datuk Bakumpai ) : 13 Safar / 25 Nov 2015 / 13 Nov 2016 ------------------------------------------------------ - Kab. TAPIN : 1. Datuk Sheikh Muhammad Abdush Shamad ( Datuk Sanggul ) : 28 Dzulhijjah / 12 Okt 2015 & 30 Sept 2016 2. Datuk Sheikh Abdul Mu'in ( Datu Nuraya Padma Tunggal ) : 15 Dzulhijjah / 29 Sept 2015 / 17 Sept 2016 3. Datuk Suban : 14 Syawal / 21 Mei 2016 4. Datuk Sheikh Shalman Al-Farisi ( Datuk Gadung ) : 9 Dzulhijjah / 23 Sept 2015 / 11 Sept 2016 ------------------------------------------------------ - Kab.Hulu Sungai Selatan : 1. Datuk Sheikh Haji. Sa'dudin ( Datuk Taniran ) : 5 Safar / 17 Nov 2015 / 5 Nov 2016 2. Al-Habib Ibrahim Al-Habsyie : 14 Safar / 26 Nov 2015 / 14 Nov 2016 3. Datuk Muhammad Thaher bin H. Syahbuddin ( Datuk Daha ) : 10 Syawal / 15 Juli 2016 ------------------------------------------------------ Kab.Hulu Sungai Tengah : 1. Tuan Guru Haji Muhammad Ramli ( Wali Katum ) : 29 Sya'ban / 4 Juni 2016 2. Tuan Guru Haji Ahmad Mughnie Ayahanda Daripada Tuan Guru Haji Mohd Bakheit Barabai 12 Dzulhijjah / 14 Sept 2016 ------------------------------------------------------ Kab.Hulu Sungai Utara: 1. Sheikh Abdurrasyid ( Pendiri Pondok Pesantrian Rakha Desa Pekapuran ) : 12 Syawal / 17 Juli 2016 2. Tuan Guru Haji Ahmad Riduan ( Guru Lok Bangkai ) : 12 Sya'ban / 19 Mei 2016 ------------------------------------------------------ - Kab.Tabalong: 1. Datuk Sheikh Muhammad Nafis bin Idris Al-Banjary (Datuk Nafis) Pengarang Kitab Ad-Durrun Nafis : 14 Rabiul Akhir / 24 Jan 2016 ------------------------------------------------------ - Kab.Balangan: 1. Datuk Kandang Haji : 17 Rabiul Akhir / 27 Jan 2016 ------------------------------------------------------ Kab. Tanah Laut: 1. Habib Muhammad bin Abdullah Al-Athas : 11 Shafar / 23 Nov 2015 & 11 Nov 2016 2. Datuk Insad : 5 Rabiul Awal / 17 Des 2015 & 5 Des 2016 ------------------------------------------------------ - Kab. Tanah Bumbu : 1. Syarifah Hajjah Aminah binti Al-Habib Salim Assegaff ( Ibu Ifah Kuning ) : 7 Jumadil Awal / 16 Feb 2016 2. Habib Mushaffa Ahmad bin Al-Habib Shaleh Al-Aydrus : 11 Rabiul Akhir / 21 Jan 2016 3. Sheikh Muhammad Riduan Shaleh : 3 Jumadil Akhir / 12 Maret 2016 4. Habib Mukhtar bin Habib Husein Al-Aydrus : 24 Jumadil Awal / 4 Maret 2016 5. Syarif Ali bin Pangeran Syarif Abdurrahman Al-Aydrus : 7 Syawal / 12 Juli 2016 6. Mufti Haji Muhammad Arsyad Lamak bin Mufti Haji Muhammad As'Ad Al-Banjary ( Kubah Pagatan ) : 23 Rabiul Awal / 4 Jan 2016 & 23 Des 2016 7.Habib Muhammad bin Ali Al-Aydrus (Habib Mancung) : 14 Dzulqaidah / 17 Agustus 2016 8. Habib Mustafa bin Pangeran Syarif Ali Al-Aydrus : 27 Jumadil Awal / 7 Maret 2016 9. Habib Usman bin Segaf Al-Aydrus : 27 Jumadil Awal / 7 Maret 2016 10. Habib Alwy bin Syarif Umar Al-Aydrus : 8 Rabiul Awal / 20 Des 2015 / 8 Des 2016 11. Habib Husein bin Syarif Umar Al-Aydrus : 10 Sya'ban / 17 Mei 2016 ------------------------------------------------------ - Kab.Kota Baru : 1. Syarif Umar bin Pangeran Syarif Ali Al-Aydrus : 21 Sya'ban / 28 Mei 2016 2. Syarif Alwy bin Al-Habib Hasan Al-Aydrus : 27 Rajab / 5 Mei 2016 3. Tuan Guru Sheikh Muhammad Dahlan ( Guru Cantung ) : 25 Rabiul Awal / 6 Jan 2016 & 25 Des 2016 4. Sheikh Qusyairin Iman Shah: 7 Dzulqaidah / 10 Agustus 2016 ------------------------------------------------------
* WAKTU PELAKSANAAN HAUL BESAR DITENTUKAN OLEH PANITIA PELAKSANA, SEHINGGA PELAKSANAAN HAUL BISA BERBEDA DENGAN TANGGAL WAFATNYA.
* Semoga dengan adanya tulisan ini, Jadwal Haul Para Tokoh Agama, Habaib dan Ulama Kalimantan Selatan ini, akan lebih memudahkan kita untuk mengingat dan mempersiapkan diri untuk berhadir di acara Haul-haul beliau-beliau nantinya  Semoga ada berkahnya untuk kita semua. Aamiin Allahumma Aamiin

SILAHKAN DI SAVE / SHARE - SEMOGA BERKAH & BERMANFAAT UNTUK KITA SEMUA. AAMIIN.

N/B: Apabila ada Tokoh, Habaib atau Ulama yang tidak terjadwal di atas Agar kiranya memberitahukan Nama lengkap beliau, Tanggal Haulnya beserta Daerahnya. Insya Allah nanti akan kami tambahkan di daftar. Afwan 

Sabtu, 02 April 2016

Panitia Haul Ke 11 Allahyarham Tuan Guru Sheikh Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani Siapkan 423.500 Kotak Nasi Samin

haul-ke-11-guru-sekumpul.jpg

Martapura (Kalimantan Selatan) Haul Guru Sekumpul Ke 11 10 April 2016

Jelang berlangsungnya haul ke-11 Almarhum KH Zaini Abdul Ghani atau Guru Sekumpul, warga di Sekumpul, Martapura, Kabupaten Banjar mulai menyiapkan peralatan memasak. Seperti di dapur umum Gang Hijjrah Sekumpul terlihat panci berukuran raksasa menumpuk di depan dapur setempat.ini panci berukuran raksasa menumpuk untuk Haul ke-11 Guru Sekumpul. Menurut Koordinator Haul ke-11 Guru Sekumpul, H Abdurahram, di dapur tersebut akan mengolah dan menyiapkan nasi samin.

Tidak sedikit, dari dua dapur umum di Gang Hijrah mereka menyiapkan sebanyak 56,625 bungkus atau kotak nasi samin. "Total tahun ini sebanyak 423.500 nasi kotak atau bungkus disiapkan oleh panitia haul Guru Sekumpul untuk jemaah yang hadir. Semua itu, diolah dan disiapkan ada 27 dapur umum," ungkap H Abdurahman.

Rabu, 30 Maret 2016

Sebahagian Cerita Keramat Guru Sekumpul

SEBAHAGIAN KERAMAT GURU SEKUMPUL
images-picsay.jpg
(Tuan Guru Sheikh Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani Al-Banjary) Diceritakan sewaktu Guru Sekumpul r.a masih Balita, Beliau sering disenandungkan atau ditimang2 dgn kalimat-kalimat TAUHID oleh nenek SALBIYAH rahmatullah 'alaiha. Dalam Manaqib oleh Guru Ridwan Kapuh diinformasikan bhw nenek SALBIYAH ini mengetahui bhw cucu Beliau ini seorang WALIYULLAH. Siapakah gerangan nenek SALBIYAH ini? Guru Sekumpul bercerita tentang nenek Beliau ini. Ternyata nenek Beliau ini seorang SYARIFAH, AHLUL BAIT. Kata Guru Sekumpul, nenek Salbiyah dzurriat daripada Pangeran Abdurrahim, Pangeran Abdurrahim ini adalah Dzurriat daripada Sepupu SUNAN GIRI, ujar Guru Sekumpul lg,"bila Sunan Giri seorang HABIB, maka sepupunya juga HABIB". Ujar Guru Sekumpul lagi, Pangeran Abdurrahim mempunyai 3 saudara adik-beradik, yaitu seorang wali perempuan penuh karamah dan perawan yakni FATIMAH KANZUL 'ARSY, dr seorang perempuan inilah tempat tinggal Beliau (Fatimah) dinamakan Kampung Keramat Martapura. Saudara Pangeran Abdurrahim lg adalah Pambakal Musa,Ahli Buaya Kuning, yg menurunkan orang2 Kelua. Yang lain nya ada di Karang intan yg menurunkan org2 Karang Intan, dan terakhir seorang lg (jg tak disebut namanya) di Pengaron, yang bnyk dzurriyatnya di Pengaron.

Inilah segelintir nasab Guru Sekumpul, hampir setiap daerah Banjar terpaut nasab dgn Beliau. Sebagaimana Rosululloh Saw setiap bangsa Arab ada terpaut nasab dgn Beliau. Wajar aja warga Banjar merasa memiliki Beliau yg amat kuat dan dalam, krn ada ikatan DARAH DAN BATHIN. Afwan

---------------

pernah ulun dengar cerita dari Guru Khaderawi HK(pimpinan majelis Raudhaturrahmah KM 9)ketika bliau ceramah didesa dalampagar(kampung halaman Datu Kalampayan)ceritanya kurang lebih begini:" suatu ketika beliau(Guru Khaderawi HK) menemani seorg Habib(ana lupa nama beliau)bertamu kerumah Abah Guru Sekumpul,kmudian keduanya bermalam dirumah Guru,tengah malam sang habib ingin merokok,tp sayang rokok yg dicari sulit didapat(rokok BENTOEL),stlah cari kesana kemari tdk ketemu,akhir cerita Abah Guru msuk kmr,kmudian keluar membawa rokok BENTOEL 1 kotak(isi 10 bungkus)habib itu pun sngat senang menerimanya.wallahu a'lam.

-------------

Muhammad Miftah Farid Pernah mendengar kisah dari guru ulun tentang Guru Ahmad Dahlan atau lebih dikenal dengan Guru Cantung.dalam majlis ilmu Guru Sekumpul,Beliau Guru Dahlan kada mw baparak atau masuk kedalam ketempat acara majlis berlangsung di Sekumpul.Sidin biasanya diurutan paling belakang atau paling pinggir dari semua jamaah.mungkin Sidin lebih mendahulukan orang yang datang dari tempat tinggal yang jauh dan memberikan kesempatan jamaah yang datang dari tempat yang jauh tersebut untuk masuk kedalam dan bisa berhadap pandang dengan Guru Sekumpul. Entah kenapa suatu ketika acara berlangsung,Guru Sekumpul yang brada didalam dan Guru dahlan yang berada jauh di luar menyebut nama Sidin karna Beliau Kasyafnya. Karna tidak mungkin dapat melihat Guru Dahlan yang berada karna jamaah ribuan banyaknya.kata Guru Sekumpul...

"Guru Dahlan...jaka baparak kasini nah jangan di buncu/dipinggir aja"

Subhanallah semua orang tertegun dan mungkin di dalam hati bertanya2 siapakah Guru Dahlan yang di sebut2 Guru Sekumpul.

Allahumma Yarham 'alaihi.

Wallahu'alam...

Muhammad Miftah Farid said :

Jar Guru ulun,Guru Sekumpul pernah membahas mengenai khalwat yang maksud kata Beliau:

semisal anda hendak berkhalwat mengasingkan diri untuk tujuan semata mata ibadah maka di dalam hati jangan lah merasa lebih baik dari orang-orang yang hendak di tinggalkan. Merasa hina lah atas diri sendiri dan merasa diri sendirilah yang tiada baik yang tidak pantas,yang akan merusak orang-orang di sekelilingnya.lalu ia berkhalwat,maka ini lah khalwat sesungguhnya. Kebanyakan orang niat khalwat mengasingkan diri yang katanya untuk ibadah tetapi hatinya membenci orang-orang di sekitar dan ia merasa akan rusak apabila masih berkumpul di lingkungan orang-orang yang di tempatinya.karna dia merasa lebih baik dari orang-orang tersebut.lalu ia berkhalwat.Maka ini adalah niat dalam hati berkhalwat yang salah. Dan lagi sampai kapanpun semisal ratusan tahun ia beribadah dalam khalwatnya,maka tiada hasil khalwatnya melainkan sia-sia saja tiada jadi ia. Wallahu'alam. Mudahan manfaat.

Aziz Al-jaboeli Man Jar abah guru sakumpul MARTAPURA = MARilah TAqwa Para Umatnya RAsulullah SALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM

Saip Camel Nose

Berkata Tuan Guru Sekumpul r.a : "orang yg mengamalkan Thariqot Syadziliyah dimudahkan Allah Swt urusan dunianya".

Alhamdulillah qt ditinggali Guru Sekumpul r.a amaliah2 yg berasal dari Thariqat Syadziliyah seperti Hizbul Bahr, Qasidah Burdah, dan Sholawat Dalail Khoirot. Tinggal qt ja lg mau memakainya. Mudahan qt bisa mengamalkan secara istiqamah. Aamiin Saip Camel Nose Guru Sekumpul itu amat alim, abid, akhlaq luar biasa, lbh2 kpd Guru, seorang ahlul bait yg amat cinta dan menghormati ahlul bait, amat sayang kpd umat Rosululloh Saw, amat tawaddhu', dan lain2, silahkan pian sebut sendiri sesuai yg ada di benak pian. Afwan

Pria ba'Iman ba'Untung ba'Tuah

‎* Pada ketika Abah Guru dimobil {ketika ingin menuju swatu tmpt}, juga bersama Kai Abbas [Ipar Guru Bangil]. Saat ditengah perjalanan Mereka melihat seseorg wanita (tidak menutup 'awrot) jatuh dr kendaraan/spd mtor & luka berdarah. Maka mlihat akn hal itu trjadilah prckapan nan sarat HikmaH;

+Abah Guru:"Abbas, ikam mlihatlah babinian tuh gugur luka, kasianlah?!" +Kai Abbas:"Inggih, kasian bnr Guru'ai" +Abh Gr:"Pintangan mana ikam kasian lwn si bibini ngitu?" +K.Abbas:"Naa,, amun pintangan kasian nang pas Pian nang lbih tahu, krna Pian duduk pamukaan [disamping supir], ada ulun duduk dibelakang?!" «Ini menyatakan kpd kita adab Kai Abbas kpd Abah Guru yg tdk mau "bebisa2" mnjwab mndahului PaGuruan! Sma spt adab Para Shohabat kpd Bginda Nabinya saw» +Abh Gr:"Aku kasian pintangan inya kaluar [pd rumah] kada batutup 'awrat!". # Artinya Org2 Sholih; swatu musibah Mereka memandang kpd musibah Akhirotnya [condong keAgama] daripada musibah duniyanya. Krna jika tdk Tawbat mka swatu dosa akn snntiasa dibwa kekal diAkhirot. aFwaN kaTsier.

Didin Banjarmasin

Riwayat Shahih, 100 % dapat dipertanggungjawabkan. ____________________________ _____________ Paman Saya (Haji Lukman Adi), sejak tahun 83 bermukim di SBY. Pada suatu Haul Habib Hamid Basyaiban Pasuruan, beliau ikut serta. Sebelum acara, beliau sowan ke seorang Habib di sana, yg bernama Ma'shum (Beliau tak tahu, famnya).. Habib Ma'shum: Sampeyan aslinya mana? Paman : Banjar HM: Martapura? Paman : jauh lagi, Barabai HST HM: Kenal Guru Zaini? Paman: Kenal, namun tak pernah berguru langsung HM: dia itu Wali Allah. Paman; Darimana jenengan tahu? HM: tadinya saya tak percaya dengan kewaliyan beliau. Saya berkata: Jika guru Zaini itu betul2 wali Allah, maka hutangku 21 juta rupiah lunas. Lalu saya sowan ke Sekumpul, disambut oleh beliau.. Setelah bercakap2 beberapa saat, tiba2 datang seseorang menyerahkan cek kepada beliau. Beliau berikan cek itu kepada saya, saya lihat jumlahnya persis 21 juta. Beliau berikan cek itu untuk saya, untuk melunasi hutang. Padahal saya tak mengatakan pada beliau ttg hutang saya itu. sejak itu, SAYA BETUL2 TAK BERANI KURANG AJAR LAGI SAMA BELIAU... ---------------------

Dalam riwayat ini, ada dua karaamah yg nampak 1. Tahunya Guru bahwa sang tamu, punya hutang dan punya hajat untuk membuktikan kewaliyan beliau. 2. Ini yang paling penting, kedermawanan beliau. betapa beliau memberikan uang 21 juta rupiah tanpa ada keinginan menyimpan sedikit. Betapa dunia, benar2 tak dianggap oleh beliau.. Semoga percikan madad dari beliau selalu tercurah untuk kita.... Pria ba'Iman ba'Untung ba'Tuah ‎* Ingat banget ujar Sayyid Syaikh Sekumpul r'anhu: ''Datu Kalampayan bahari amun beBURDAHan pakai Tarbang nang gonol-gonol''. [''Mawlana Syaikh M.Arsyad AlBanjary r'anhu dahulu jika mengadakan pembacaan SHOLAWAT BURDAH memakae Rebana yg besar/gede''].

'Benny Arisona Halabi'

karomah abah guru sekumpul yang paling besar dan mulia adalah ketika beliau sedang sakit parah yang mengakibatkan beliau tidak bisa apa2 dan sedang saat hari itu pengajian beliau, entah hr mnggu atawa hari kamis atawa hari laennya, yg intinya adalah pengajian yg limbah asar, setelah abah guru tidak bisa apa2 krna menyandang bala, maka ROSULULLAH datang dan menyerupa sabigian nangkaya abah guru dan trn ke musholla memimpin sholat asar dan pengajian,,hal ini dilihat dan diketahui oleh habib yg wali di tarim hadramout,kata beliau"beruntung murid syaikh zaini telah dipimpin langsung oleh ROSULULLAH dgn menyerupa sabigian Syaikh zaini sekumpul"

mudahn kita termasuk saat majlis yg demikian, dan mudahan kita dapat berkat dari kisah ini.. amin yaaallah

H Zany Albanjary Didlm kitab ilmun Nibras..FALWALY HAQIIQATUN NABI.. RASULULLAH menyerupa Abah Guru itu adlh kata2 Hakikat orang2 yg sdh terbuka hijab(ma'rifat) tiada lg memandang kpd Basyariah Abah Guru melainkan memandang Rasulullah,krn Abah guru adlh Khalifah yg sempurna.

Abah Guru Sekumpul menjadi Khalifah yg sempurna sejak usia muda (kira2 antara 15 ampe 30 thnan). Yg jd pertanyaan kaya apa maqom Sidin sampai umur 65 tahunan. Wajar haja mun Wali Quthub sesudah sidin, Habib Abdul Qadir Jeddah rhm mengaku kd kw me-radar maqom kewalian Sidin. Afwan

Ridwan Al Arsyadi al hamdulillah ana hadir di waktu itu karna sebelum nya di beritahu oleh wali allah yg mastur kalau hari ini rasulullah yg langsung mimpin acara

Shodiqur Rifqi Abah Guru , kada suah d muha sidin wktu mngajar tu talihat muha kauyuhan , bahkan kd suah talihat sidin manguap , ....tamasuk pas sidin gagaringan , yang bacucukan infus sing lawasan , padahal jlas d dalam cairan infus tu ada takandung obat tidur y....... ( Happy Maulid of Prophet Sayyidinaa Muhammad SAW)

Saip Camel Nose

Ini cerita kenalan ulun seorang dosen agama yg jg seorang ustadz di Banjarbaru, Beliau mendapat cerita langsung dr seorang pegawai PLN Banjarbaru yg naik haji (tidak disebut tahunnya, tp wkt Guru Sekumpul msh hdp), ketika di Madinah ketemu dgn org Hadramaut, dan berbincang :

Orang Hadramaut : "antum dr mana". Pegawai PLN : "Banjar". Orang Hadramaut : "Dekat Martapura?". Pegawai PLN : "IYA". Orang Hadramaut : "kenal Syekh Zaini?". Pegawai PLN : "Iya". Orang Hadramaut : "pernah ke majelisnya?". Pegawai PLN : "tidak pernah". Orang Hadramaut : "Wah, rugi antum, kami aj yg di Hadramaut pergi ke sana. Apa lg kalau haul Syekh Samman, kami membawa ulama besar kami". Terus kata Bapak itu, sepulang haji, Beliau tidak menuju rumah, tp langsung ke Sekumpul, dan Guru Sekumpul langsung yg membukakan pintu dan menyambut Beliau.

====== bujur beruntung2 Beliau ini. Mudahan qt mendapatkan keberuntungan sebagaimana Beliau, yakni mendapat syafa'at Syekh Sekumpul. Mudahan ada manfa'at dan berkatnya.Aamiin yaa rabbal aalamiin

Kerikil Jadi Intan Sedikit Karomah Daripada Tuan Guru Sheikh Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada Seorang Habib dari luar pulau Kalimantan berkata :"orang banjar ini sedikit-sedikit Guru Ijai yang di dipanderkan (di omongin)".


images-picsay.jpg

Tidak berapa lama kemudian Habib ini Datang kesekumpul (Martapura-Kalimantan Selatan) untuk bertamu kerumah Abah Guru Sekumpul (Tuan Guru Sheikh Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani Al-Banjary)

Pas kebetulan dirumah Abah Guru ada juga Tamu ,kira-kira 20 orang.Termasuk yang punya kisah ini,saat itu ada duduk disitu juga.

Pintu diketuk oleh sang tamu ini (Sang Habib).Silahkan masuk Bib ujar Abah Guru,padahal yang dipanggil Habib ini pakaiannya biasa aja tidak memakai atribut seperti layaknya seorang Habib. Abah Guru sudah tahu yang datang ini seorang Habaib walaupun dengan pakaian biasa-biasa saja tamu yang datang ini. Sambil bercanda dengan tamu-tamu yang lainnya.Beliau memanggil tamu yg baru datang tadi,sini bib,tolong... Ujar Abah Guru,pian (kamu) Ambil Batu sebiji yang ada dimuka mushola Arr-raudah atau dimuka rumah ulun ini,terserah pian aja ngambilnya mau yg kecil atau besar.Waktu itu dihalaman banyak batukerikil sebelum disemen. Kalau sudah pian ambil bawa kesini,ujar abah guru. Tamu tadi keluarlah dari rumah abah guru kemudian mencari batu kerikil yg ada diluar rumah,diambillah satu biji batu kerikil yg kecil dan diserahkannya batu tersebut ketangan Abah Guru.

kemudian batu tersebut beliau geliming (usap-usap) didalam genggaman tangan beliau,sambil berbicara dengan tamu yg lain (diselingi beliau). kemudian Abah Guru menyuruh tangan tamu tersebut (habib) menerima kembali batu kerikil dan sambil menggenggam tangannya. Ujar Abah Guru buka Bib Tangan pian... Masha Allah.... Ternyata bukan batu kerikil lagi tapi Intan seukuran batu kerikil yg diambil habib tadi. Ujar Abah Guru ambil untuk Pian.(Kalau tahu seperti cara ini,aku ambil batu kerikil yg ganal (besar) tadi...ujar tamu tadi). Itulah salah satu karomah Abah Guru... Almar'u Ma'aama'an aaHa'bba (Seseorang Akan (Dikumpulka n) Bersama yang ia cintai Amiin Ya allah

Jumat, 04 Maret 2016

Peranan Penguasa Dan Ulama Dalam Penyiaran Islam Di Kalimantan

Islam di Kalimantan - Peranan Penguasa dan Ulama dalam Penyiaran Islam (Sejarah Islam Asia Tenggara)
Judul : Islam di Kalimantan - Peranan Penguasa dan Ulama dalam Penyiaran Islam
Mata Kuliah :Sejarah Islam Asia Tenggara
PENDAHULUAN
Pada awal abad VII M, Allah telah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan ajaran Islam. Karena petunjuk Allah lewat kelembutan Nabi dalam penyampaian wahyu, maka Islam segera dapat tersebar dan diterima oleh sebagian penduduk dunia. Pemeluk agama Islam pertama adalah bangsa Arab, karena Islam diturunkan ditengah-tengah mereka. Kemudian didorong oleh panggilan suci maka sebagian penduduk Arab berusaha menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Mereka membawa Islam ke Indonesia dengan jalan damai dan berangsur-angsur, bukan melalui jalan paksaan atau peperangan maupun kekerasan. Sebagian ahli sejarah yang lain mengatakan bahwa Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke-13 dengan berdirinya kerajaan Islam di Aceh. Seiring hal tersebut, Islam telah pula menyebar tak terkecuali di bumi Kalimantan (1). Setelah era kegemilangan Kesultanan Islam yang dipelopori oleh Kesultanan Malaka (2) pada abad ke 15, kemudian di Nusantara sendiri pernah berdiri Kesultanan Palembang Darussalam (3) selama tahun 1659 – 1825, bumi Nusantara tidak kehilangan Kerajaan-kerajaan bercorak Islam. Hal ini ditandai dengan lahirnya kembali kesultanan atau kerajaan bercorak Islam di bumi Kalimantan. 1. Kedatangan Islam dan Perkembangannya di Kalimantan Selatan a. Awal Kedatangan Islam di Tanah Kalimantan Menurut sebagian ahli sejarah, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 atau ke 8 Masehi atau abad pertama atau kedua hijriyah melalui dua jalur, yakni : - Jalur utara dengan rute : Arab (Mekkah dan Madinah) – Damaskus – Baghdad – Gujarat (Pantai Barat India) – Srilangka – Indonesia - Jalur selatan dengan rute : Arab (Mekkah dan Madinah) – Yaman – Gujarat (Pantai Barat India) – Srilanka – Indonesia (4) Sebelum Islam masuk di Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha . Kerajaan Hindu yang ada ( abad ke 7-12 M) sebagai berikut : Kutai di Kalimantan, Taruma Negara di Jawa Barat, Mataram Hindu atau yang disebut dengan kerajaan Sanjaya di Jawa Tengah, Isana di Jawa Timur, Kediri di Jawa Timur, Galuh di daerah Galuh, Ciamis Jawa Barat, Padjajaran berpusat di Pakuan Pajajaran, sebelah barat sungai Citarum Jawa Barat, dan Warmadewa atau Udayana di Bali. Sedangkan Kerajaan Budha yang ada adalah : Kalingga di Jawa Tengah dan Syailendra di Jawa Timur.(5) Secara garis besar penyebaran Islam terjadi melalui tiga cara : 1. Perdagangan Pedagang muslim Arab selain berdagang mereka juga bertindak sebagai muballigh. Mereka datang ke Indonesia lewat Gujarat dan Srilanka sehingga ada pengertian bahwa masuknya agama Islam dibawa oleh pedagang Gujarat yang sudah tidak asli lagi. Sesungguhnya yang terjadi adalah para pedagang Arab itu singgah di Gujarat dan menyampaikan ajaran Islam kemudian bersama-sama dengan penduduk Gujarat menuju ke Indonesia. Maka agama Islam yang berkembang di Indonesia masih asli dan menarik minat penduduk, mereka mengadakan penyesuaian dengan kebudayaan daerah. 2. Pernikahan Para pedagang muslim itu ada yang menetap di Indonesia dan menikah dengan penduduk setempat. Sudah barang tentu mereka menjadi keluarga muslim dan penyebar agama Islam yang gigih. 3. Pembebasan Budak Pada masa masuknya Islam di Indonesia, perbudakan masih berlaku. Banyak budak saudagar Hindu dan Budha yang dibeli oleh saudagar muslim kemudian dimerdekakan. Mereka masuk dalam keluarga muslim karena keadilan, maka tak segan mereka akhirnya menganut agama Islam. Jelaslah Islam masuk ke Indonesia tanpa paksaan, bahkan dilandasi oleh cinta kasih dan damai. Agama Islam dapat diterima oleh sebagian penduduk Indonesia yang haus akan keadilan. Melalui ajaran tentang cinta kasih, perdamaian, persamaan tanpa membedakan kasta dan keadilan Islam dapat terus berkibar di Indonesia hingga kini. Para ulama awal yang berdakwah di Sumatera dan Jawa melahirkan kader-kader dakwah yang terus menerus mengalir. Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo (7) kala itu. Di pulau ini, ajaran Islam masuk dari dua pintu. Jalur pertama yang membawa Islam masuk ke tanah Borneo adalah jalur Malaka yang dikenal sebagai Kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan penjajah Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar. Para mubaligh-mubaligh dan komunitas Islam kebanyakan mendiami pesisir Barat Kalimantan. Jalur lain yang digunakan menyebarkan dakwah Islam adalah para mubaligh yang dikirim dari Tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini menemui puncaknya saat Kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak mubaligh ke negeri ini. Perjalanan dakwah pula yang akhirnya melahirkan Kerajaan Islam Banjar dengan ulama-ulamanya yang besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad al Banjari. (8) Berdasarkan prasasti-prasasti yang ada disekitar abad V M di Kalimantan Timur telah ada kerajaan Hindu yakni kerajaan Kutai (9). Sedangkan kerajaan-kerajaan Hindu yang lain adalah Kerajaan Sukadana di Kalimantan Barat, kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan. Pada abad XVI Islam memasuki daerah kerajaan Sukadana. Bahkan pada tahun 1590 kerajaan Sukadana resmi menjadi kerajaan Islam, yang menjadi sultan pertamanya adalah sultan Giri Kusuma. Setelah itu digantikan oleh putranya Sultan Muhammad Syafiuddin. Beliau banyak berjasa dalam pengembangan agama Islam karena bantuan seorang muballigh bernama Syekh Syamsudin. Di Kalimantan Selatan pada abad XVI M masih ada beberapa kerajaan Hindu antara lain Kerajaan Banjar, Kerajaan Negaradipa, Kerajaan Kahuripan dan Kerajaan Daha (10). Kerajaan-kerajaan ini berhubungan erat dengan Majapahit. Ketika Kerajaan Demak berdiri, para pemuka agama di Demak segera menyebarkan agama Islam ke Kalimantan Selatan. Raja Banjar Raden Samudra masuk Islam dan ganti nama dengan Suryanullah. Sultan Suryanullah dengan bantuan Demak dapat mengalahkan Kerajaan Negaradipa. Setelah itu agama Islam semakin berkembang di Kalimantan. Kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia dan sebagai kerajaan Hindu. Dengan pesatnya perkembangan Islam di Gowa, Tallo dan terutama Sombaopu, maka Islam mulai merembas ke daerah Kutai. Mengingat Kutai terletak di tepi Sungai Mahakam maka para pedagang yang lalu lalang lewat selat Makasar juga singgah di Kutai. Sebagai muballigh mereka tidak menyianyiakan waktu untuk berdakwah. Islam akhirnya dapat memasuki Kutai dan tersebar di Kalimantan Timur mulai abad XVI.(11) b. Perkembangan Islam di Kalimantan Selatan Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengIslaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti oleh elit ibukota, masing-masing disertai kelompok bubuhannya, dan oleh elit daerah, juga diikuti warga bubuhannya, dan demikianlah seterusnya sampai kepada bubuhan rakyat jelata di tingkat paling bawah.(12) Melalui hal ini, sangat dimungkinkan sekali bahwa Islam telah menjadi dasar agama dan mendarahdaging di Kesultanan Banjar. Islam berkembang sangat pesat dan memperoleh tempat yang sepantasnya di bumi Banjar. 2. Sejarah Kesultanan Banjar a. Awal Berdirinya Kesultanan Banjar Kesultanan Banjar atau Kesultanan Banjarmasin adalah sebuah kerajaan Islam yang berdiri di Kalimantan Selatan. Kerajaan ini pada mulanya berpusat di Banjarmasin (13), tetapi kemudiannya berpindah ke Martapura di Kabupaten Banjar. Banjar adalah penerus kerajaan Negara Daha, sebuah kerajaan Hindu yang beribu kota di kecamatan Daha Selatan. Ketika di Banjarmasin, Kesultanan ini mendapat nama Kesultanan Banjarmasin. Ketika awal abad ke 16, Kalimantan Selatan diperintah oleh kerajaan Negara Daha (14). Kerajaan Negara Daha merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara Dipa, kerajaan Hindu yang berkedudukan di kota Amuntai, Hulu Sungai Utara. Menurut Hikayat Banjar, Kerajaan ini semula dipimpin seorang Raja Puteri Junjung Buih yang kemudian menikah dengan seorang pangeran Majapahit, yaitu Pangeran Suryanata (Raden Putra). Sebelum Kerajaan Negara Dipa sudah berdiri sebelumnya Kerajaan Tanjung Puri, yang berada di kota Tanjung, Tabalong yang didirikan suku Melayu dan Kerajaan Nan Sarunai yang didirikan suku Dayak Maanyan di lembah sungai Tabalong. Kerajaan Nan Sarunai masih merupakan kerajaan satu etnik tertentu saja (Maanyan), sedangkan Kerajaan Negara Dipa merupakan kerajaan multi-etnik pertama di daerah ini.(15) Di daerah-daerah taklukkanya, sebuah pajak atau cukai haruslah dibayar oleh kerajaan daerah itu kepada raja Daha. Ini menyebabakan daerah Banjarmasin berkeinginan untuk keluar daripada pengaruh Daha. Ketua daerah Banjarmasin, Patih Masih, kemudiannya berbincang dengan ketua daerah lain iaitu Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung dan Patih Kuwin untuk memerdekakan daerah mereka daripada kerajaan Daha. Mereka kemudiannya berpakat untuk meminta tolong daripada Raden Samudera, seorang cucu Maharaja Sukarama; seorang raja Daha. Raden Samudera ketika itu sedang dalam penyembunyian di daerah Muara Barito kerana ancaman bapa saudaranya, Pangeran Tumenggung yang ketika itu adalah raja Daha. Dibawah pimpinan Raden Samudera, tercetuslah pemberontakan Banjar ini dengan bantuan Kesultanan Demak dari Jawa. Setelah berjaya menumpaskan kerajaan Daha, Raden Samudera memeluk Islam dan memakai gelaran Sultan Suriansyah dan dimahkotakan sebagai sultan Banjar pertama. Suriansyah adalah Sultan pertama dari Kerajaan Banjar. Sultan ini juga digelari Panembahan Batu Habang atau Susuhunan Batu Habang, yang dinamakan berdasarkan warna merah (habang) pada batu yang menutupi makamnya di Komplek Makam Sultan Suriansyah di kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Nama kecilnya adalah Raden Samudera kemudian ketika diangkat menjadi Raja di Banjarmasih oleh para patih, namanya menjadi Pangeran Samudera. Ketika memeluk Islam, namanya menjadi Sultan Suriansyah. Selain itu nama lainnya yang dipakai adalah Suryanullah. Raden Samudera adalah putera dari Puteri Galuh (Ratu Intan Sari) puteri dari Maharaja Sukarama dari Kerajaan Negara Daha. Nama "Suriansyah" sering dipakai sebagai nama anak laki-laki suku Banjar atau orang Melayu-Kalimantan.(16) b. Peranan Kesultanan Banjar Dalam Penyebaran Islam Kemenangan Raden Samudera atas Pangeran Tumenggung pada abad XVI merupakan suatu perwujudan terjadinya pergeseran politik dari negara yang ekonominya berbasiskan agraris (Daha) kepada negara yang bersifat maritim, dan Islam dijadikan sebagai agama negara. Gelar yang dipergunakan oleh Raden Samudera sejak saat itu berubah menjadi Sultan Suriansyah. Kemudian menjadi Kerajaan Banjar. Dalam Hikayat Banjar ditemui istilah-istilah seperti: Negeri Banjar, Orang Banjar, Raja Banjar dan Tanah Banjar. Istilah-itilah itu mengacu kepada pengertian wilayah Kerajaan ini, yaitu wilayah kerajaan dimana penduduknya disebut orang Banjar dan rajanya disebut Raja Banjar.(17) Kesultanan Banjar terus berkembang, hingga menghasilkan banyak keturunan dan memiliki catatan tersendiri dalam sejarah Kerajaan Islam Nusantara. Adapun silsilah raja-raja / penguasa Banjarmasin adalah (18) : 1. Raja I adalah Sultan Suriansyah 2. Raja II adalah Sultan Rahmatullah 3. Raja III adalah Sultan Hidayatullah 4. Raja IV adalah Sultan Mustainbillah 5. Raja V adalah Sultan Inayatullah 6. Raja VI adalah Sultan Saidullah 7. Raja VII adalah Sultan Tahalidullah 8. Raja VIII adalah Sultan Amirullah Bagus Kusuma 9. Raja IX adalah Sultan Agung 10. Raja X adalah Sultan Amirullah Bagus Kusuma (kedua kali) 11. Raja XI adalah Sultan Hamidullah 12. Raja XII adalah Sultan Tamjidullah 13. Raja XIII adalah Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah 14. Raja XIV adalah Susuhunan Nata Alam 15. Raja XV adalah Sultan Sulaiman Saidullah 16. Raja XVI adalah Sultan Adam Alwasikh Billah 17. Raja XVII adalah Sultan Tamjidullah Alwasikh Billah Kerajaan Banjar yang berkembang sampai abad ke-19 merupakan sebuah kerajaan Islam merdeka dengan nation atau bangsa Banjar sebagai bangsa dari Kerajaan Banjar. Pada akhir abad ke-19 ekspansi kolonial Belanda berhasil menguasai Kerajaan Banjar dan secara sepihak mengumumkan Proklamasi Penghapusan Kerajaan Banjarmasin pada tanggal 11 Juni 1860. Wilayah kerajaan yang berhasil dikuasainya dijadikan Karesidenan Afdelling Selatan dan Timur Borneo (Residentie Zuider en Oosterafdeling van Borneo). Sejak itulah bangsa Banjar turun derajatnya menjadi bangsa jajahan. Mereka tidak lagi disebut sebagai suatu nation akan tetapi hanya sebagai Urang Banjar. c. Berakhirnya Kesultanan Banjar Pemberontakan Pangeran Samudera merupakan pembuka jaman baru dalam sejarah Kalimantan Selatan sekaligus menjadi titik balik dimulainya periode Islam dan berakhirnya jaman Hindu. Sebab dialah yang menjadi cikal bakal Islam Banjar dan pendiri Kerajaan Banjar. Dalam perkembangan sejarah berikutnya pada Tahun 1859 seorang Bangsawan Banjar yaitu Pangeran Antasari (19) mengerahkan rakyat Kalimantan Selatan untuk melakukan perlawanan terhadap kaum kolonialisme Belanda meskipun akhirnya pada Tahun 1905 perlawanan-perlawanan berhasil ditumpas oleh Belanda. Pada periode pasca Proklamasi Kemerdekaan merupakan momentum yang paling heroik dalam sejarah Kalimantan Selatan, dimana pada tanggal 16 Oktober 1945 dibentuk Badan Perjuangan yang paling radikal yaitu Badan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK) yang dipimpin oleh Hadhariyah M. dan A. Ruslan, namun dalam perjalanan selanjutnya gerakan perjuangan ini mengalami hambatan, terutama dengan disepakatinya perjanjian Linggarjati pada tanggal 15 Nopember 1945. Berdasarkan perjanjian ini ruang gerak pemerintah Republik Indonesia menjadi terbatas hanya pada kawasan Pulau Jawa, Madura dan Sumatera sehingga organisasi-organisasi perjuangan di Kalimantan Selatan kehilangan kontak dengan Jakarta, kendati akhirnya pada tahun 1950 menyusul pembubaran Negara Indonesia Timur yang dibentuk oleh kaum kolonial Belanda, maka Kalimantan Selatan kembali menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia sampai saat ini.(20) 3. Peranan Ulama Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan a. Ulama di Kesultanan Banjar - Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari bin Abdullah Al-Aidrus Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812) adalah ulama fiqih mazhab Syafi'i pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Ia adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan Hukum Fiqih mazhab Syafi'i di Asia Tenggara. Jalur nasabnya adalah Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama'ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja'far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu'minin Ali Karamallah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW. Ia adalah pelopor pengajaran Hukum Islam di Kalimantan Selatan. Ulama-ulama yang muncul dikemudian hari, menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar adalah dari didikan suraunya di Desa Pagar Dalam yang didirikannya setelah kembali dari menuntut ilmu di tanah Mekkah.(21) Diriwayatkan, pada waktu Sultan Tahlilullah (1700 - 1734 M) memerintah Kesultanan Banjar, suatu hari ketika ber-kunjung ke kampung Lok Ngabang. Sultan melihat seorang anak berusia sekitar 7 tahun sedang asyik menulis dan menggambar, dan tampaknya cerdas dan berbakat, diceritakan pula bahwa ia telah fasih membaca Al-Quran dengan indahnya. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan. Kemudian atas permintaannya sendiri, pada waktu berumur sekitar 30 tahun. Sultan mengabulkan keinginannya untuk belajar ke Mekkah memperdalam ilmunya, dan lebih dari 30 tahun kemudian, setelah gurunya menyatakan sudahlah cukup bekal ilmunya, barulah ia kembali pulang ke Banjarmasin. Akan tetapi Sultan Tahlilullah seorang yang telah banyak membantu dan memberi warna pada kehidupannya telah mangkat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan HW, yaitu cucu Sultan Tahlilullah yang sejak semula telah akrab bagaikan bersahabat. Kepada Sultan Tahlilullah ia tidak sempat menyatakan terimakasihnya ataupun memberikan pengabdiannya dan mereka terpisah karena jarak dan umur.(22) Sekembalinya dari Mekkah, hal pertama yang dikerjakan nya ialah membuka tempat pengajian (semacam pesantren) bernama Pagar Dalam, yang kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kampung yang ramai tempat menuntut ilmu agama Islam. Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam dikerajaannya, meminta kepada Syekh Muhammad Arsyad agar menulis sebuah Kitab Hukum Ibadat (Hukum Fiqh) yang kelak kemudian dikenal dengan nama Kitab Sabilal Muhtadin. Sebelumnya, untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, ia telah menulis beberapa kitab serta risalah-risalah, di-antaranya ialah Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh, Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang sesat, Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri, Kitabul Faraidl, semacam hukum-perdata. Da-ri beberapa risalahnya, dan beberapa pelajaran penting yang langsung diajarkannya, oleh murid-muridnya kemudian dihimpun dan menjadi semacam Kitab Hukum Syarat, yaitu tentang syarat syahadat, sembahyang, bersuci, puasa dan yang berhubungan dengan itu, dan untuk mana biasa disebut Kitab Parukunan. Mengenai bidang Tasauf {semacam Filsafat Ketuhanan) ia juga menuliskan pikiran-pikirannya dalam Kitab Kanzul-Makrifah.(23) Karya Tulis Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari (24): 1. KITAB USHULUDIN Kitab yang berkaitan dengan keimanan dan ketauhidan, sifat-sifat Allah SWT dan Rasulullah SAW. Ditulis tahun 1774 M. 2. KITAB LUQTHATUL ‘AJLAN FI BAYANI HAIDHI WA ISTIHADHATI WA NIFASINNISWAN Kitab yang berisi mengenai haidh, istihadhah dan nifas. 3. KITAB FARA-IDH Kitab yang berisi mengenai hukum waris. 4. KITAB TUHFATURRAGHIBIEN Kitab yang berisi tentang iman, hal-hal yang merusak iman, tanda-tanda orang murtad dan hukumnya. Ditulis tahun 1774 M 5. KITAB AL-QAULUL MUKHTASHAR FI ‘ALAMATIL MAHDIL MUNTAZHAR Kitab yang berisi mengenai turunnya Imam Mahdi, Nabi Isa As, tentang Dajjal, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Ditulis tahun 1196 H. 6. KITAB ILMU FALAK Kitab yang berisi tentang cara menghitung kapan terjadinya gerhana matahari dan bulan. 7. KITABUN NIKAH Kitab yang berisi mengenai perwalian dan tata cara aqad nikah yang telah dicetak di Turki. 8. KITAB KANZUL MA’RIFAH Kitab Ilmu Tasauf 9. FATWA SULAIMAN KURDI Risalah fatwa-fatwa Syeikhul Islam Imamul Haramain ‘Alimul ‘Allamah Muhammad bin Sulaiman Al Kurdie. 10. KITAB SABILAL MUHTADIEN LITTAFAQQUH FI AMRIDDIN. Kitab Ilmu Fiqih 11. MUSHAF AL QURAN AL KARIEM Al Quran yang ditulis dengan perasaan seni (Kaligrafi) 12. KITAB FATHUL JAWAD Memuat ketentuan fikih tentang hak pemilikan, penguasaan, dan penggunaan tanah Beliau meninggal dunia pada malam Selasa yaitu di antara waktu Maghrib dan Isyak, pada 6 Syawal 1227 Hijrah bersamaan 13 Oktober 1812 Masehi. Beliau meninggal dunia pada usia 105 tahun dengan meninggalkan sumbangan yang besar terhadap masyarakat Islam di Nusantara. Bagi mengenang jasa dan sumbangan beliau, beberapa tempat di Indonesia telah mengabadikan nama dan karya beliau. Antaranya ialah Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad al Banjari dan Masjid Raya Sabilal Muhtadin.(25) b. Peranan Ulama di Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan Intensitas keberagamaan masyarakat Banjar meningkat tajam setelah Syekh Arsyad al-Banjari kembali dari mengaji di tanah Arab dan membuka pengajian di Dalam Pagar, sebuah perkampungan yang dibangunnya di atas tanah perwatasan yang dihadiahkan oleh sultan kepadanya, terletak sekitar lima kilo meter dari keraton. Murid-muridnya kemudian membuka pengajian pula di tempatnya masing-masing, yang antara lain adalah keturunannya sendiri, seakan-akan merupakan perwjudan dari hasil munajatnya kepada Tuhan agar dikaruniai ilmu keagamaan sampai tujuh keturunan ("alim tujuh turunan").(26) Setelah berada selama 30 tahun di Makkah dan lima tahun di Madinah, Syeikh Muhammad Arsyad al Banjari pulang ke tanah air untuk menyebarkan Islam. Setibanya beliau ke kampung halaman, beliau membuka pusat pusat pengajian untuk memudahkan masyarakat Islam menimba ilmu pengetahuan. Selain itu, Syeikh Muhammad Arsyad turut membiasakan diri bersama orang kampung berkebun, bersawah, dan bertani. Di samping aktif mengajar dan mendidik masyarakat Islam yang datang dari pelbagai pelosok daerah, beliau turut turun berdakwah ke segenap lapisan masyarakat yang terdiri daripada rakyat biasa hinggalah kepada golongan pembesar dan bangsawan. Dalam menyampaikan dakwah, Syeikh Muhammad Arsyad menggunakan pelbagai kaedah pendekatan iaitu Dakwah bil Hal (dakwah yang menggunakan pendekatan contoh dan akhlak yang dipamerkan oleh beliau), Dakwah bil Lisan (dakwah dengan menggunakan pendekatan lidah iaitu mengajak dan menyeru) dan Dakwah bil Kitabah (dakwah dengan menggunakan pendekatan penulisan buku dan risalah).(27) FOOT NOTE 1. Kalimantan adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa dan di sebelah Barat Pulau Sulawesi. Terbagi menjadi wilayah Brunei, Indonesia dan Malaysia. Seringkali pulau ini secara keseluruhan disebut Borneo sedangkan wilayah Indonesia disebut Kalimantan, lalu wilayah Malaysia disebut Sarawak dan Sabah. Selain itu ada pula kesultanan Brunei. http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan 2. Kerajaan Malaka didirikan oleh Parameswara antara tahun 1380-1403 M. Pada awalnya Malaka bukanlah sebuah Kerajaan beragama Islam. Hal ini berubah ketika Parameswara menikah dengan Putri Sultan Zainal Abidin dari Pasai dan masuk Islam pada tahun 1406, ia mengubah namanya menjadi Muhammad Iskandar Syah, dan menjadi Sultan Malaka. Selanjutnya, Malaka menjadi pusat perkembangan agama Islam di Asia Tenggara, hingga mencapai puncak kejayaan dimasa pemerintahan Sultan Mansyur Syah (1459-1477). Pada 10 Agustus 1511, sebuah armada laut Portugis yang besar dari India diketuai oleh Alfonso de Albuquerque datang ke Malaka kemudian akhirnya brehasil meruntuhkan Kesultanan Malaka. http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan _Malaka 3. Kesultanan Palembang merupakan sebuah Kerajaan Melayu Islam bercorak maritim yang berkedudukan di Palembang. Ia mulai memainkan peranan dalam sejarah Indonesia pada pertenghan abad ke-16, dan berakhir pada abad ke-19 setelah secara sistematis dan berencana dapat di kuasai oleh Belanda. Menurut sebuah versi Kesultanan Palembang dipimpin untuk pertama kali oleh Kyai Gedeng Suro. Di dalam sebuah catatan yang telah diterbitkan Woelders (1976: 118-9 ) yang didalam tulisan dinamakan “Daftar Raja-raja Palembang” diceritakan: Raja No 1 pada tahun 966 H yaitu Keding Suroh, lamanya ia menjadi raja dua likur tahun. Raja No 2 pada tahun 968 H diganti saudaranya Keding Ilir, lamanya setahun, tetapi ia berjuluk juga keding Suroh. http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan _Palembang 4. http://hbis.wordpress.com/2007/11/29/islam-di-indonesia 5. Ibid. 6. Borneo adalah nama alternatif untuk Kalimantan. Seringkali istilah ini dipakai untuk merujuk pulau "Borneo" atau "Kalimantan" secara keseluruhan. Sedangkan kata "Kalimantan" yang sebagian besarnya merupakan bekas wilayah Kerajaan Banjar hanya dipakai untuk merujuk ke bagian Indonesia. Sedangkan bahagian keseluruhan berikut Sabah, Sarawak dan Brunei disebut "Borneo". Pulau "Borneo" merupakan yang terbesar ketiga di dunia. Dan merupakan satu-satunya pulau di dunia yang terbagi kedalam 3 negara. Kata "Borneo" secara etimologis berasal dari kata Brunei, kerajaan yang pernah memerintah sebagian besar wilayah utara pulau ini (Sabah, Sarawak), meskipun sekarang hanya menguasai daerah sangat kecil saja. http://id.wikipedia.org/wiki/Borneo 7. Kesultanan Demak, adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan bagian dari kerajaan Majapahit, dan kesultanan ini merupakan pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kesultanan Demak mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan antar kerabat kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kesultanan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir. Salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang diperkirakan didirikan oleh para Walisongo. Lokasi ibukota Kesultanan Demak saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah. http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan _Demak 8. http://faktaandalusia.wordpress.com/2007/08/09/sejarah-awal-islam-kalimantan 9. Kutai Martadipura adalah kerajaan tertua bercorak Hindu di Nusantara dan seluruh Asia Tenggara. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut. Nama Kutai diberikan oleh para ahli karena tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini. Karena memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh akibat kurangnya sumber sejarah. http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kutai_Martadipura 10. Kerajaan Negara Daha adalah sebuah kerajaan Hindu (Syiwa-Buddha)yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan. Pusat ibukota kerajaan ini semula berada di kota Negara (kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan) dan terakhir di Marampiau (kecamatan Candi Laras Selatan, Tapin) berdekatan dengan lokasi situs Candi Laras, sedangkan Bandar perdagangan berada di Bandar Muara Bahan (sekarang kota Marabahan, Barito Kuala). Kerajaan Negara Daha merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara Dipa yang berkedudukan di Candi Agung, kota Amuntai, Hulu Sungai Utara. Yang terletak di sekitar percabangan sungai Bahan (sungai Negara) yang bercabang menjadi sungai Tabalong dan sungai Balangan dan sekitar sungai Pamintangan (sungai kecil anak sungai Negara). Untuk menghindari bala bencana ibukota kerajaan dipindahkan ke arah hilir sungai Negara (sungai Bahan) sehingga disebut dengan nama yang baru sesuai letak ibukotanya ketika dipindahkan yaitu Kerajaan Negara Daha. http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Negara_Daha 11. http://hbis.wordpress.com/2007/11/29/islam-di-indonesia 12. http://www.indomedia.com/bpost/pudak/journal/islam.htm#1 13. Kota Banjarmasin adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota dari provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 72 km² atau 0,019% dari luas wilayah Kalimantan Selatan. Jumlah penduduk di kota ini adalah sebanyak 527.250 jiwa (2000) dengan kepadatan penduduk 7.325/km². http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Banjarmasin 14. http://ms.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banjar 15. http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banjar 16. http://wikipedia.org/wiki/Borneo 17. http://soborneo.blogspot.com/2006/04/sejarah-perkembangan-penduduk.html 18. http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banjar 19. Keruwetan politik dalam negeri Kesultanan banjar ini ahirnya menimbulkan meletusnya Perang banjar selama 4 tahun (1859 – 1863). Pada periode konflik fisik itulah, yaitu pada tahun 1859, muncul seorang pangeran setengah baya yang telah disingkirkan haknya, memimpin perlawanan terhadap Belanda. Dialah Pangeran Antasari yang lahir tahun 1809. Pangeran ini, telah bekerja sama dengan para petani. Dua tokoh pimpinan kaum petani saat itu Panembahan Aling dan Sultan Kuning, telah membantu Antasari untuk melancarkan serangan besar-besaran. Mereka menyerang pertambangan batubara Belanda dan pos-pos misionaris serta membunuh sejumlah orang Eropah. Sehingga pihak Kolonial mendatangkan bantuan besar-besaran. Antasari kemudian bergabung dengan kepala-kepala daerah Hulu Sungai, Marthapura, Barito, Pleihari, Kahayan, Kapuas, dan lain-lain. Mereka bersepakat mengusir Belanda dari Kesultanan Banjar. Maka perang makin menghebat, dibawah pimpinan Pangeran Antasari. Pernah pihak Belanda mengajak berunding, tetapi Pangeran Antasari tidak pernah mau. Daerah pertempurannya meliputi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Pada tahun 1862 Pangeran Antasari merencanakan suatu serangan besar-besaran terhadap Belanda, tetapi secara mendadak, wabah cacar melanda daerah Kalimanatan Selatan, Pangeran Antasari terserang juga, sampai ia meninggal pada 11 Oktober 1862 di bayan Begak, Kalimantan Selatan. Kemudian ia dimakamkan di Banjarmasin.

Kedekatan Bung Karno Dengan Ulama Banjar

Habib Alwi Barabai dan Presiden Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno menjabat erat tangan Habib Alwi bin Abdullah Al-Habsyi (Kapten Arab) Soekarno tak berusaha cepat-cepat melepaskan genggamannya kepada sesepuh masyarakat Barabai itu. Obrolan ringan pun terjadi antara kedua tokoh yang sama-sama memiliki kharisma ini. “Presiden Soekarno lawas maingkuti (lama memegang, red) tangan Habib Alwi,” ujar Syarifah Syehun, 80 tahun, putri Habib Alwi, mengenang kembali peristiwa penuh makna bagi warga Barabai yang berlangsung di Balai Rakyat, Barabai tahun 1953 itu. Soekarno ketika itu datang ke Kalimantan Selatan dalam suatu kunjungan kenegaraan. Masyarakat Barabai sepakat menunjuk Habib Alwi, seorang yang pernah menjabat Kapten Arab (Kaptein der Arabieren) di Banjarmasin, untuk mewakili mereka menyambut Bung Karno. Mengetahui bahwa yang akan datang ke Barabai adalah seorang Kepala Negara, warga masyarakat Kampung Kamasan yang terkenal sebagai perajin logam mulia emas sepakat membuat kenangan- kenangan kepada Bapak Bangsa. Mereka secara khusus membuat persembahan kerajinan (souvenir) berwujud tugu pahlawan dari emas. Souvenir itu miniatur dari bangunan tugu yang menghiasi alun-alun kota Barabai. “Habib Alwi yang tukang julung (yang menyerahkan, red),” kata Syarifah Syehun. Entah mengapa mereka menunjuk Habib Alwi sebagai wakil mereka. Padahal saat itu hadir lengkap orang-orang besar para petinggi daerah Hulu Sungai. Mungkin warga Barabai menilai hanya Habib Alwi yang pantas berdiri berhadapan dengan Soekarno. Waktu berjabat tangan dan berhadap-hadapan muka itulah mengalir percakapan antara mereka berdua: “Siapa nama Pak Haji,” ujar Presiden Soekarno. “Saya Sayyid Alwi,” jawab Habib Alwi. “Pak Sayyid orang Arab?” “Ya, saya orang Arab, lahir di Hadralmout.” “Mengapa orang Arab mau membantu perjuangan orang Indonesia?” “Saya muslim, dia juga juga orang muslim. Jadi wajib membantu. Ihkwanul muslimin (persaudaraan sesama orang Islam). “Kenapa Ibu (Fatmawati) tidak dibawa,” Habib Alwi yang gantian bertanya. “Baru bersalin, baru melahirkan,” jawab Soekarno. (Ibu Negara Fatmawati tidak bisa mendampingi kunjungan kenegaraan Bung Karno ke Kalimantan Selatan karena baru melahirkan Guruh Soekarnoputra). “Nanti Tuan datang ke Djakarta. Saya tunggu,” lanjut Soekarno. “Ya, nanti saya ke Batavia.” (Seorang wedana di Hulu Sungai membisiki Habib Alwi yang benar adalah Jakarta) “Bukan, sekarang Jakarta,” kata Soekarno. “Yakarta,” ujar Habib Alwi mengoreksi ucapannya. (Habib Alwi menyebut J dengan lafal Y). Hingga Habib Alwi meninggal dunia tahun 1967, ia tak memenuhi undangan pribadi Presiden pertama Republik Indonesia itu.

Riwayat Datu Sheikh Muhammad Amin (Mufti Pertama Banjarmasin)

Syech Haji Muhammad Amin adalah mufti pertama Banjarmasin penerus perjuangan Syech Haji Muhammad Arsyad al-Banjary (Datu Kelampaian). Sebelumnya, ia di Sungai Parit, kawasan Pasar Lama Banjarmasin. Karena dikejar Belanda, kemudian ia pun masuk ke pedalam­an agar kehidupannya lebih tenang. Dengan menggunakan jukung (perahu), bersama pe­ngikutnya, ia menelusuri Sungai Martapura. Di setiap daerah yang dilaluinya, Syech H Muhammad Amin selalu mengambil tanah menggunakan pengayuh dayung. Hingga akhirnya, ia menemukan tanah berbau harum. Maka bermukimlah Syech H Muhammad Amin di daerah yang tanahnya harum itu, yang kini dikenal kawasan Banua Anyar. Makam Datu Anggah Amin (AL-ALLAMAH MUHAMMAD AMIN) Makam Datu Anggah Amin terletak di Kelurahan Banua Anyar Kota Banjarmasin. Datu Anggah Amin adalah ulama yang banyak menelurkan ulama. Dia tidak memiliki pesantren/Pesantrian, tapi banyak yang datang minta petunjuk dan bimbingan pengarahan. "Beliau tidak punya pondok pesantren, tapi banyak didatangi orang. Murid-muridnya banyak, dan banyak pula yang menjadi ulama besar. Sekarang banyak pula keturunan dari para muridnya yang menjadi ulama, Kepada para muridnya, Datu Anggah selalu berpesan agar tidak durhaka kepada orangtua dan para alim supaya hidupnya menadpat barokah. "Beliau berpesan, jangan durhaka, jangan lupakan jasa-jasa pendahulu, terutama para alim besar, Insya Allah hidupnya akan selalu mendapat Berkah..

Kamis, 31 Oktober 2013

Kisah Bertemunya Habib Munzir Al-Musawwa Dengan Habib Umar Bin Hafidz Untuk Pertama Kalinya

9928-1065728302912-181716.jpg Ya Akhi, Agan – agan N’Semuanye aje yang di rahmati Allah serta senantiasa dalam naungan Istiqomahnya … kali ni Azmirza MobileBLOG™ masih mengulas tentang Habib Munzir punye cerite … di sini antum bakal baca cerite perjuangan Habib Munzir Bertemu dengan Sang Guru Besar Yaitu Habib Umar …. yudah yok, Agan – agan N’ Antum gag sabar kan pengen baca ni Habib Munzir Punye Cerite …. Sok Atuh Mangga di baca …. Seraya Habib Munzir Berkata : Kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda, Saudaraku yg kumuliakan, saya adalah seorang anak yg sangat dimanja oleh ayah saya, ayah saya selalu memanjakan saya lebih dari anaknya yg lain, namun dimasa baligh, justru saya yg putus sekolah, semua kakak saya wisuda, ayah bunda saya bangga pada mereka, dan kecewa pada saya, karena saya malas sekolah, saya lebih senang hadir majelis maulid Almarhum Al Arif billah Alhabib Umar bin Hud Alalttas, dan Majelis taklim kamis sore di empang bogor, masa itu yg mengajar adalah Al Marhum Al Allamah Alhabib Husein bin Abdullah bin Muhsin Alattas dg kajian Fathul Baari. sisa hari hari saya adalah bershalawat 1000 siang 1000 malam, zikir beribu kali, dan puasa nabi daud as, dan shalat malam berjam jam, saya pengangguran, dan sangat membuat ayah bunda malu. ayah saya 10 tahun belajar dan tinggal di Makkah, guru beliau adalah Almarhum Al Allamah Alhabib Alwi Al Malikiy, ayah dari Al Marhum Al Allamah Assayyid Muhammad bin Alwi Al Malikiy, ayah saya juga sekolah di Amerika serikat, dan mengambil gelar sarjana di New york university. almarhum ayah sangat malu, beliau mumpuni dalam agama dan mumpuni dalam kesuksesan dunia, beliau berkata pada saya : kau ini mau jadi apa?, jika mau agama maka belajarlah dan tuntutlah ilmu sampai keluar negeri, jika ingin mendalami ilmu dunia maka tuntutlah sampai keluar negeri, namun saranku tuntutlah ilmu agama, aku sudah mendalami keduanya, dan aku tak menemukan keberuntungan apa apa dari kebanggaan orang yg sangat menyanjung negeri barat, walau aku sudah lulusan New York University, tetap aku tidak bisa sukses di dunia kecuali dg kelicikan, saling sikut dalam kerakusan jabatan, dan aku menghindari itu. maka ayahanda almarhum hidup dalam kesederhanaan di cipanas, cianjur, Puncak. Jawa barat, beliau lebih senang menyendiri dari ibukota, membesarkan anak anaknya, mengajari anak2nya mengaji, ratib, dan shalat berjamaah. namun saya sangat mengecewakan ayah bunda karena boleh dikatakan : dunia tidak akhiratpun tidak. namun saya sangat mencintai Rasul saw, menangis merindukan Rasul saw, dan sering dikunjungi Rasul saw dalam mimpi, Rasul saw selalu menghibur saya jika saya sedih, suatu waktu saya mimpi bersimpuh dan memeluk lutut beliau saw, dan berkata wahai Rasulullah saw aku rindu padamu, jangan tinggalkan aku lagi, butakan mataku ini asal bisa jumpa dg mu.., ataukan matikan aku sekarang, aku tersiksa di dunia ini,,, Rasul saw menepuk bahu saya dan berkata : munzir, tenanglah, sebelum usiamu mencapai 40 tahun kau sudah jumpa dg ku.., maka saya terbangun.. akhirnya karena ayah pensiun, maka ibunda membangun losmen kecil didepan rumah berupa 5 kamar saja, disewakan pada orang yg baik baik, untuk biaya nafkah, dan saya adalah pelayan losmen ibunda saya. setiap malam saya jarang tidur, duduk termenung dikursi penerimaan tamu yg cuma meja kecil dan kursi kecil mirip pos satpam, sambil menanti tamu, sambil tafakkur, merenung, melamun, berdzikir, menangis dan shalat malam demikian malam malam saya lewati, siang hari saya puasa nabi daud as, dan terus dilanda sakit asma yg parah, maka itu semakin membuat ayah bunda kecewa, berkata ibunda saya : kalau kata orang, jika banyak anak, mesti ada satu yg gagal, ibu tak mau percaya pada ucapan itu, tapi apakah ucapan itu kebenaran?. saya terus menjadi pelayan di losmen itu, menerima tamu, memasang seprei, menyapu kamar, membersihkan toilet, membawakan makanan dan minuman pesanan tamu, berupa teh, kopi, air putih, atau nasi goreng buatan ibunda jika dipesan tamu. sampai semua kakak saya lulus sarjana, saya kemudian tergugah untuk mondok, maka saya pesantren di Hb Umar bin Abdurrahman Assegaf di Bukit duri jakarta selatan, namun hanya dua bulan saja, saya tidak betah dan sakit sakitan karena asma terus kambuh, maka saya pulang. ayah makin malu, bunda makin sedih, lalu saya prifat saja kursus bahasa arab di kursus bahasa arab assalafi, pimpinan Almarhum Hb Bagir Alattas, ayahanda dari hb Hud alattas yg kini sering hadir di majelis kita di almunawar. saya harus pulang pergi jakarta cipanas yg saat itu ditempuh dalam 2-3 jam, dg ongkos sendiri, demikian setiap dua kali seminggu, ongkos itu ya dari losmen tsb. saya selalu hadir maulid di almarhum Al Arif Billah Alhabib Umar bin Hud alattas yg saat itu di cipayung, jika tak ada ongkos maka saya numpang truk dan sering hujan hujanan pula. sering saya datang ke maulid beliau malam jumat dalam keadaan basah kuyup, dan saya diusir oleh pembantu dirumah beliau, karena karpet tebal dan mahal itu sangat bersih, tak pantas saya yg kotor dan basah menginjaknya, saya terpaksa berdiri saja berteduh dibawah pohon sampai hujan berhenti dan tamu tamu berdatangan, maka saya duduk dil;uar teras saja karena baju basah dan takut dihardik sang penjaga. saya sering pula ziarah ke luar batang, makam Al Habib husein bin Abubakar Alaydrus, suatu kali saya datang lupa membawa peci, karena datang langsung dari cipanas, maka saya berkata dalam hati, wahai Allah, aku datang sebagai tamu seorang wali Mu, tak beradab jika aku masuk ziarah tanpa peci, tapi uangku pas pasan, dan aku lapar, kalau aku beli peci maka aku tak makan dan ongkos pulangku kurang.., maka saya memutuskan beli peci berwarna hijau, karena itu yg termurah saat itu di emperan penjual peci, saya membelinya dan masuk berziarah, sambil membaca yaasin utk dihadiahkan pada almarhum, saya menangisi kehidupan saya yg penuh ketidak tentuan, mengecewakan orang tua, dan selalu lari dari sanak kerabat, karena selalu dicemooh, mereka berkata : kakak2mu semua sukses, ayahmu lulusan makkah dan pula new york university, koq anaknya centeng losmen.. maka saya mulai menghindari kerabat, saat lebaranpun saya jarang berani datang, karena akan terus diteror dan dicemooh. walhasil dalam tangis itu saya juga berkata dalam hati, wahai wali Allah, aku tamumu, aku membeli peci untuk beradab padamu, hamba yg shalih disisi Allah, pastilah kau dermawan dan memuliakan tamu, aku lapar dan tak cukup ongkos pulang.., lalu dalam saya merenung, datanglah rombongan teman teman saya yg pesantren di Hb Umar bin Abdurrahman Assegaf dg satu mobil, mereka senang jumpa saya, sayapun ditraktir makan, saya langsung teringat ini berkah saya beradab di makam wali Allah.. lalu saya ditanya dg siapa dan mau kemana, saya katakan saya sendiri dan mau pulang ke kerabat ibu saya saja di pasar sawo, kb Nanas Jaksel, mereka berkata : ayo bareng saja, kita antar sampai kebon nanas, maka sayapun semakin bersyukur pada Allah, karena memang ongkos saya tak akan cukup jika pulang ke cipanas, saya sampai larut malam di kediaman bibi dari Ibu saya, di ps sawo kebon nanas, lalu esoknya saya diberi uang cukup untuk pulang, sayapun pulang ke cipanas.. tak lama saya berdoa, wahai Allah, pertemukan saya dg guru dari orang yg paling dicintai Rasul saw, maka tak lama saya masuk pesantren Al Habib Hamid Nagib bin Syeikh Abubakar di Bekasi timur, dan setiap saat mahal qiyam maulid saya menangis dan berdoa pada Allah untuk rindu pada Rasul saw, dan dipertemukan dg guru yg paling dicintai Rasul saw, dalam beberapa bulan saja datanglah Guru Mulia Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidh ke pondok itu, kunjungan pertama beliau yaitu pd 1994. selepas beliau menyampaikan ceramah, beliau melirik saya dg tajam.., saya hanya menangis memandangi wajah sejuk itu.., lalu saat beliau sudah naik ke mobil bersama almarhum Alhabib Umar maula khela, maka Guru Mulia memanggil Hb Nagib Bin Syeikh Abubakar, Guru mulia berkata bahwa beliau ingin saya dikirim ke Tarim Hadramaut yaman untuk belajar dan menjadi murid beliau, Guru saya hb Nagib bin syeikh abubakar mengatakan saya sangat belum siap, belum bisa bahasa arab, murid baru dan belum tahu apa apa, mungkin beliau salah pilih..?, maka guru mulia menunjuk saya, itu.. anak muda yg pakai peci hijau itu..!, itu yg saya inginkan.., maka Guru saya hb Nagib memanggil saya utk jumpa beliau, lalu guru mulia bertanya dari dalam mobil yg pintunya masih terbuka : siapa namamu?, dalam bahasa arab tentunya, saya tak bisa menjawab karena tak faham, maka guru saya hb Nagib menjawab : kau ditanya siapa namamu..!, maka saya jawab nama saya, lalu guru mulia tersenyum.. keesokan harinya saya jumpa lagi dg guru mulia di kediaman Almarhum Hb bagir Alattas, saat itu banyak para habaib dan ulama mengajukan anaknya dan muridnya untuk bisa menjadi murid guru mulia, maka guru mulia mengangguk angguk sambil kebingungan menghadapi serbuan mereka, lalu guru mulia melihat saya dikejauhan, lalu beliau berkata pada almarhum hb umar maula khela : itu.. anak itu.. jangan lupa dicatat.., ia yg pakai peci hijau itu..!, guru mulia kembali ke Yaman, sayapun langsung ditegur guru saya hb Nagib bin syekh abubakar, seraya berkata : wahai munzir, kau harus siap siap dan bersungguh sungguh, kau sudah diminta berangkat, dan kau tak akan berangkat sebelum siap.. dua bulan kemudian datanglah Almarhum Alhabib Umar maula khela ke pesantren, dan menanyakan saya, alm hb umar maulakhela berkata pada hb nagib : mana itu munzir anaknya hb Fuad almusawa?, dia harus berangkat minggu ini, saya ditugasi untuk memberangkatkannya, maka hb nagib berkata saya belum siap, namun alm hb umar maulakhela dg tegas menjawab : saya tidak mau tahu, namanya sudah tercantum untuk harus berangkat, ini pernintaan AL Habib Umar bin Hafidh, ia harus berangkat dlm dua minggu ini bersama rombongan pertama.. saya persiapkan pasport dll, namun ayah saya keberatan, ia berkata : kau sakit sakitan, kalau kau ke Mekkah ayah tenang, karena banyak teman disana, namun ke hadramaut itu ayah tak ada kenalan, disana negeri tandus, bagaimana kalau kau sakit?, siapa yg menjaminmu..?, saya pun datang mengadu pd Almarhum Al Arif billah Alhabib Umar bin hud Alattas, beliau sudah sangat sepuh, dan beliau berkata : katakan pada ayahmu, saya yg menjaminmu, berangkatlah.. saya katakan pada ayah saya, maka ayah saya diam, namun hatinya tetap berat untuk mengizinkan saya berangkat, saat saya mesti berangkat ke bandara, ayah saya tak mau melihat wajah saya, beliau buang muka dan hanya memberikan tangannya tanpa mau melihat wajah saya, saya kecewa namun saya dg berat tetap melangkah ke mobil travel yg akan saya naiki, namun saat saya akan naik, terasa ingin berpaling ke belakang, saya lihat nun jauh disana ayah saya berdiri dipagar rumah dg tangis melihat keberangkatan saya…, beliau melambaikan tangan tanda ridho, rupanya bukan beliau tidak ridho, tapi karena saya sangat disayanginya dan dimanjakannya, beliau berat berpisah dg saya, saya berangkat dg airmata sedih.. saya sampai di tarim hadramaut yaman dikediaman guru mulia, beliau mengabsen nama kami, ketika sampai ke nama saya dan beliau memandang saya dan tersenyum indah, tak lama kemudian terjadi perang yaman utara dan yaman selatan, kami di yaman selatan, pasokan makanan berkurang, makanan sulit, listrik mati, kamipun harus berjalan kaki kemana mana menempuh jalan 3-4km untuk taklim karena biasanya dg mobil mobil milik guru mulia namun dimasa perang pasokan bensin sangat minim suatu hari saya dilirik oleh guru mulia dan berkata : Namamu Munzir.. (munzir = pemberi peringatan), saya mengangguk, lalu beliau berkata lagi : kau akan memberi peringatan pada jamaahmu kelak…!. maka saya tercenung.., dan terngiang ngiang ucapan beliau : kau akan memberi peringatan pada jamaahmu kelak…?, saya akan punya jamaah?, saya miskin begini bahkan untuk mencuci bajupun tak punya uang untuk beli sabun cuci.. saya mau mencucikan baju teman saya dg upah agar saya kebagian sabun cucinya, malah saya dihardik : cucianmu tidak bersih…!, orang lain saja yg mencuci baju ini.. maka saya terpaksa mencuci dari air bekas mengalirnya bekas mereka mencuci, air sabun cuci yg mengalir itulah yg saya pakai mencuci baju saya hari demi hari guru mulia makin sibuk, maka saya mulai berkhidmat pada beliau, dan lebih memilih membantu segala permasalahan santri, makanan mereka, minuman, tempat menginap dan segala masalah rumah tangga santri, saya tinggalkan pelajaran demi bakti pada guru mulia membantu beliau, dengan itu saya lebih sering jumpa beliau. 2 tahun di yaman ayah saya sakit, dan telepon, beliau berkata : kapan kau pulang wahai anakku..?, aku rindu..? saya jawab : dua tahun lagi insya Allah ayah.. ayah menjawab dg sedih ditelepon.. duh.. masih lama sekali.., telepon ditutup, 3 hari kemudian ayah saya wafat.. saya menangis sedih, sungguh kalau saya tahu bahwa saat saya pamitan itu adalah terakhir kali jumpa dg beliau.. dan beliau buang muka saat saya mencium tangan beliau, namun beliau rupanya masih mengikuti saya, keluar dari kamar, keluar dari rumah, dan berdiri di pintu pagar halaman rumah sambil melambaikan tangan sambil mengalirkan airmata.., duhai,, kalau saya tahu itulah terakhir kali saya melihat beliau,., rahimahullah.. tak lama saya kembali ke indonesia, tepatnya pada 1998, mulai dakwah sendiri di cipanas, namun kurang berkembang, maka say mulai dakwah di jakarta, saya tinggal dan menginap berpindah pindah dari rumah kerumah murid sekaligus teman saya, majelis malam selasa saat itu masih berpindah pindah dari rumah kerumah, mereka murid2 yg lebih tua dari saya, dan mereka kebanyakan dari kalangan awam, maka walau saya sudah duduk untuk mengajar, mereka belum datang, saya menanti, setibanya mereka yg cuma belasan saja, mereka berkata : nyantai dulu ya bib, ngerokok dulu ya, ngopi dulu ya, saya terpaksa menanti sampai mereka puas, baru mulai maulid dhiya’ullami.., jamaah makin banyak, mulai tak cukup dirumah rumah, maka pindah pindah dari musholla ke musholla,. jamaah makin banyak, maka tak cukup pula musholla, mulai berpindah pindah dari masjid ke masjid, lalu saya membuka majelis dihari lainnya, dan malam selasa mulai ditetapkan di masjid almunawar, saat itu baru seperempat masjid saja, saya berkata : jamaah akan semakin banyak, nanti akan setengah masjid ini, lalu akan memenuhi masjid ini, lalu akan sampai keluar masjid insya Allah.. jamaah mengaminkan.. mulailah dibutuhkan kop surat, untuk undangan dlsb, maka majelis belum diberi nama, dan saya merasa majelis dan dakwah tak butuh nama, mereka sarankan majelis hb munzir saja, saya menolak, ya sudah, majelis rasulullah saw saja, kini jamaah Majelis Rasulullah sudah jutaan, di Jabodetabek, jawa barat, banten, jawa tengah, jawa timur, bali, mataram, kalimantan, sulawesi, papua, singapura, malaysia, bahkan sampai ke Jepang, dan salah satunya kemarin hadir di majelis haul badr kita di monas, yaitu Profesor dari Jepang yg menjadi dosen disana, dia datang keindonesia dan mempelajari bidang sosial, namun kedatangannya juga karena sangat ingin jumpa dg saya, karena ia pengunjung setia web ini, khususnya yg versi english.. sungguh agung anugerah Allah swt pada orang yg mencintai Rasulullah saw, yg merindukan Rasulullah saw… itulah awal mula hamba pendosa ini sampai majelis ini demikian besar, usia saya kini 38 tahun jika dg perhitungan hijriah, dan 37 th jika dg perhitungan masehi, saya lahir pd Jumat pagi 19 Muharram 1393 H, atau 23 februari 1973 M. perjanjian Jumpa dg Rasul saw adalah sblm usia saya tepat 40 tahun, kini sudah 1431 H, mungkin sblm sempurna 19 Muharram 1433 H saya sudah jumpa dg Rasul saw, namun apakah Allah swt akan menambah usia pendosa ini..? Wallahu a’lam salam rindu terdalam untuk anda. Facebook Pondok Habib : http:// www.facebook.com/pondokhabib

Minggu, 08 September 2013

Ulama Hasil Perkawinan Datuk Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjary

fotoaslisyekharsyadda.jpgmaqam-datuk-kelampayan.jpg Koleksi tulisan Allahyarham Wan Mohd. Shaghir Abdullah Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari sebanyak 11 kali. Daripada enam orang isterinya beliau melahirkan zuriat yang sangat ramai. Mulai dari anak beliau sendiri, cucu hingga zuriat yang di bawahnya, sangat penting diperkenalkan untuk melanjutkan dakwah dan pendidikan yang berasal daripadanya. Sebagai berikut dipetik daripada tulisan Syeikh Abdur Rahman Siddiq. Melalui isterinya Tuan Bajut menurunkan ulama-ulama seperti; Syeikh Muhammad Arsyad mendapat puteri yang pertama perempuan bernama Syarifah, yang kahwin pertama kali dengan Usman mendapat anak bernama Muhammad As’ad. Perkahwinan Syarifah yang kedua kalinya dengan Alimul Allamah Syeikh Abdul Wahab Bugis mendapat puteri bernama Fathimah. Tatkala baligh, Muhammad As’ad dan Fathimah diajar oleh datuk mereka, Sheikh Muhammad Arsyad tentang ilmu- ilmu Arabiah. Kedua-dua cucunya menjadi ulama sebelum lahirnya putera-putera beliau. Muhammad As’ad mengajar kaum lelaki sedang Fathimah mengajar kaum perempuan. Muhammad As’ad inilah permulaan Mufti Kerajaan Sultan Martapura. Beliau memperoleh putera menjadi ulama, iaitu: Alimul-Allamah Haji Abu Thalhah, Alimul-‘Allamah Haji Abu Hamid, Alimul-Allamah Haji Ahmad, Alimul-Allamah Mufti Haji M.Arsyad dan Alimul-Allamah Haji Sa’adud-din. Selanjutnya Syeikh Abdur Rahman Shiddiq menulis: “Fathimah menuntut ilmu dengan saudaranya Mufti Muhammad As’ad kepada datuknya Maulana Asy- Sheikh Muhammad Arsyad. Keduanya mendapat sekalian ilmu Arabiah, ilmu tafsir, hadis, usuluddin, fiqh dan lain-lain. “Dia menjadi guru perempuan, menterjemah satu kitab Melayu bicara Fiqhi. Dinamakan Perukunan Besar dicetak di Mathbaah Makkatul Musyarrafah. Juga dinamakan Perukunan Jamaluddin, atas nama pakciknya. Fathimah kahwin dengan Haji Muhammad Sa’id Bugis, keluarga Alimul Allamah Haji Abdul Wahab”. Melalui isterinya yang kedua Tuan Baiduri menurunkan ulama-ulama: Alimul Allamah Kadi Haji Abu Su’ud, Alimul Allamah Kadi Haji Abu Naim dan Alimul Allamah Kadi Haji Syihabuddin. Alimul Allamah Kadi Haji Abu Su’ud bin Syeikh Muhd. Arsyad al Banjari (no. 1), beliau mewarisi ilmu secara langsung dari ayahnya. Beliau adalah kadi yang pertama di Banjar dan juga seorang pahlawan. Hasil perkahwinannya dengan Aminah memperoleh seorang ulama Haji Muhammad Sa’id Jazuli. Sewaktu pulang dari haji, kahwin lagi di Kedah dan memperoleh seorang putera, bernama Mas’ud. Alimul Allamah Kadi Haji Abu Na’im bin Syeikh Muhd. Arsyad al Banjari mewarisi ilmu langsung dari ayahnya juga. Ia menjadi kadi yang kedua di Banjar. Alimul Allamah Haji Syihabuddin bin Syeikh Muhd. Arsyad al Banjari juga mewarisi ilmu daripada ayahnya. Di Mekah beliau belajar daripada Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan juga kepada Sheikh Ahmad al-Marzuqi. Sheikh Syihabuddin adalah seorang ‘Khalifah Mufti’ dan kadi. Beberapa keturunannya menjadi ulama. Antaranya Alimul Allamah Mufti Haji Abdul Jalil dan Alimul ‘Allamah Haji As’ad Fakhruddin. Tahun 1258 H/ 1814 M, Raja-Raja Riau di Pulau Penyengat Indera Sakti minta kesediaannya menjadi guru di Kerajaan Riau. Melalui isterinya yang ketiga Tuan Lipur menurunkan ulama: Alimul Allamah Haji Abdullah (wafat di Madinah) dan Alimul Allamah Fadhil Abdur Rahim. Pergi haji dengan kapal layar, kapalnya pecah dan beliau wafat. Melalui isterinya yang keempat Tuan Guat menurunkan ulama-ulama: Alimul Allamah Khalifah Hasanuddin, Alimul Allamah Khalifah Haji Zainuddin dan Alimul Allamah Mufti Haji Jamaluddin. Putera-putara Alimul Alamah Khalifah Hasanuddin yang menjadi ulama ialah Alimul Allamah Mufti Haji Muhd. Khald dan Alimul Fadhil Haji Muhd. Qaim. Alimul Allamah Mufti Haji Jamaluddin bin Syeikh Muhd Arsyad al Banjari (no 3) pula memperolehi zuriat yang turut menjadi ulama. Mereka ialah Alimul Allamah Mufti Haji Muhd. Husein; Alimul Fadhil Kadi Haji Muhd. Amin; Alimul Allamah Kadi Haji Abdush Shamad dan Alimul Allamah Haji Muhd. Thasin. Melalui isteri kelima, Ratu Aminah binti Pangeran Thaha bin Sultan Tahmidullah menurunkan ulama: Alimul ‘Allamah Mufti Haji Ahmad. Di masa hidupnya terkenal dengan sebutan Pangeran Ahmad. Mempunyai ilmu pengetahuan dari ayahnya. Ilmu-ilmu khusus yang dikuasainya ilmu alat (Arabiah); Falakiyah: Geografi (Ilmu Bumi) dan lain-lain. Ia menurunkan ulama-ulama: Alimul Fadhil Haji Muhd. Said Khatib; Alimul Fadhil Haji Muhd. Hassan. Jumlah putera dan puteri Sheikh Muhd. Arsyad bin Abdullah al Banjari ialah 30 orang. Isterinya 11 orang, iaitu selain disebutkan di atas ada lagi isteri beliau, iaitu: Tuan Kadarmanik, Tuan Markidah, Tuan Liuh, Tuan Dai’ dan Tuan Palung. Sheikh Abdur Rahman Shiddiq menyebut bahawa zuriat Sheikh Muhd. Arsyad bin Abdullah al Banjari berpangkat Mufti ialah 10 orang, yang berpangkat Kadi juga 10 orang. Anak yang menjadi Mufti 1. Alimul Allamah Haji Jamaluddin bin Syeikh Muhd. Arsyad al Banjari. 2. Alimul Allamah Haji Ahmad bin Syeikh Muhd. Arsyad al Banjari. 3. Alimul Allamah Haji Muhd. As'ad bin Usman. Beliau ialah mufti yang pertama di Kerajaan Banjar. 4. Alimul Allamah Haji Muhd. Arsyad bin Mufti Haji Muhd. As’ad (no .3) 5. Alimul Allamah Haji Syihabuddin. Dari no. 1 sampai ke no. 5 adalah di zaman pemerintahan Sultan Banjar. Sementara, yang di bawah ini (No 6 sampai No 10) di zaman Belanda, iaitu: 6. Alimul Allamah Haji Muhd Khalid bin Allamah Hasanuddin bin Sheikh Muhd. Arsyad al Banjari. 7. Alimul Allamah Haji Muhd. Nur bin Alimul ‘Allamah Kadi Haji Mahmud. 8. Alimul “Allamah Haji Muhd. Husein bin Syeikh Muhd. Arsyad al Banjari. 9. Alimul Allamah Haji Jamaluddin bin Haji Abdul Hamid. 10. Syeikh Abdur Rahman Shiddiq bin Haji Muhd. Afif bin Alimul Allamah Kadi Abu Naim bin Syeikh Muhd. Arsyad al Banjari. Adapun yang berpangkat Kadi, iaitu: 1. Alimul Allamah Abu Su'ud bin Syeikh Muhd. Arsyad al Banjari. 2. Alimul Allamah Abu Naim Bin Syeikh Muhd. Arsyad al Banjari. 3. Alimul Allamah Haji Mahmud bin Haji Muhammad Yassin. Dari no. 1 sampai no. 3 menjadi Kadi di zaman pemerintahan Sultan Banjar, dan di bawah dari no. 4 sampai no. 11 di zaman Belanda iaitu: 4. Alimul Allamah Haji Muhd Amin bin Mufti Haji Jamaluddin bin Sheikh Muhd. Arsyad al Banjari. 5. Alimul Fadhil Haji Muhd. Ali al Junaidi bin Kadi Haji Muhd. Amin (no 4) 6. Alimul Allamah Haji Muhd. Said al Jazuli bin Kadi Haji Su’ud (no 1) 7. Alimul Allamah Haji Muhd. Amin bin Kadi Haji Mahmud (no 3) 8. Alimul Allamah Haji Abdush Shamad bin Mufti Haji Jamaluddin bin Sheikh Muhd. Arsyad al Banjari. 9. Alimul Allamah Haji Muhd. Jafri bin Kadi Haji Abdush Shamad (no 8) 10. Alimul Fadhil Kadi Haji Bajuri. 11. Alimul Fadhil Haji Muhd. As’ad bin Mufti Haji Muhd. Nur bin Kadi Haji Mahmud. Sebagai tambahan yang menjadi Kadi keturunan beliau pula ialah: 12. Haji Ibrahim bin Mufti Haji Jamaluddin. 13. Haji Abu Thalhah bin Kadi Haji Abdus Samad 14. Haji Muhammad Thayib bin Haji Muhammad Qasim. 15. Haji Muhammad bin Haji Muhammad Qasim. 16. Haji Zainal bin Lebai Darun. 17. Haji Abdur Rahman bin Kadhi Haji Muhammad Sa’id. 18. Haji Qasim bin Mu’min. 19. Haji Muhammad Sa’id bin Mu’min. 20. Haji Muhammad Arsyad bin Kadi Haji Abdur Rahman. 21. Haji Hassan bin Mufti Haji Muhammad Sa’id. 22. Haji Abdur Rauf. 23. Haji Abdul Jalil bin Kadi Haji Muhammad Arsyad. 24. Haji Ahmad bin Abu Naim. 25. Haji Muhammad Arsyad bin Kadi Haji Abdur Rauf. Mungkin masih banyak lagi yang belum diketahui. Maklumat di atas berasal dari karangan Sheikh Abdur Rahman Shiddiq dalam Syajaratul Arsyadiah halaman 73-74 yang telah diedit oleh penulis. Kecuali tambahan adalah dipetik daripada pelbagai buku, yang terakhir ialah buku Sejarah Kerajaan Banjar karangan Kiai Haji Jumri bin Haji Roys, lihat halaman 56 sampai halaman 58. Berdasarkan buku itu pengarang adalah keturunan Sheikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al Banjari dan Sheikh Abdur Rahman Shiddiq bin Muhammad Afif al Banjari tersebut. Setelah penulis menemui banyak orang di lingkungan keturunan beliau dan mentelaah berbagai-bagai buku tentang beliau dan Banjar, maka ada lima orang keturunan beliau yang menjadi Mufti dan 16 yang menjadi kadi sebagai tambahan daripada yang disebut oleh Sheikh Abdur Rahman Shiddiq tersebut. Tambahan yang menjadi Mufti ialah; Haji Muhammad Hussein bin Mufti Haji Jamaluddin, Haji Abdul Jalil bin Mufti Haji Syihabuddin, Haji Muhammad Yunan bin Mufti Haji Muhammad Amin, Haji Sa’id bin Haji Abdur Rahman dan Haji Mukhtar bin Kadi Haji Hassan. Mungkin banyak yang belum penulis ketahui kerana belum mendapat keterangan yang jelas dari buku-buku ataupun keturunan beliau. Oleh itu, kajian tentang ulama ini perlukan lagi penyelidikan terus menerus dari kita semua agar dapat menemui kesahihan salasilah tersebut.