Populer

Cari Blog Ini

Music Listening

AI MUSIC GENERATOR

Tampilkan postingan dengan label banjar kuala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banjar kuala. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2021

SUNAN GIRI PENDAKWAH ISLAM PERTAMA DI KALIMANTAN

 SUNAN GIRI

PENDAKWAH ISLAM PERTAMA DI KALIMANTAN







Ada satu fakta sejarah yang jarang diungkap oleh para peneliti, apalagi diketahui jamak oleh orang awam bahwa pengaruh masuknya Islam di bumi Banjar tak terlepas dari pengaruh dakwah walisongo (wali sembilan) khususnya Sunan Giri .

Saya secara pribadi tidak melihat kiprah dakwah itu sebagai bagian dari dakwah politik kerajaan Islam Demak, sebab kiprah Raden Paku atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Giri itu sudah lebih dahulu dari berdiri dan tumbuhnya Kerajaan Islam Demak sebagai kekuatan baru pesaing kerajaan Hindu Majapahit yang sudah mulai runtuh ketika itu.


Jika dilihat dari kronologis sejarahnya, kiprah dakwah Sunan Giri telah ada berlangsung pada awal abad ke-15 Masehi di Kalimantan Selatan. Kedatangan Sunan Giri ditengarai pada tahun 1470 M; 

Dimana ketika itu pusat perdagangan di Pelabuhan Bandar Masih (yang kemudian berganti nama penyebutannya menjadi Banjarmasin) sedang mengalami puncak keramaian interaksi pedagang dari pelbagai Negara (Mancanegara).

Ada pula penelitian yang menyebutkan kedatangan Sunan Giri pertama kalinya di pelabuhan Muara Bahan ( Bandar Utama Kerajaan Negara Daha /Pra Kesultanan Banjar)  yang hari ini dikenal dengan nama Marabahan. Kedatangan beliau bukan sekedar misi dakwah, namun juga dalam rangka perdagangan, sebab kedatangan beliau bersama tiga buah kapal dagang.

Terlepas apakah misi beliau dalam rangka berdagang atau berdakwah semata, namun catatan sejarah yang tidak bisa dilupakan bahwa orang-orang dayak Bakumpai atau Urang Bakumpai yang tinggal di pesisir Muara Bahan, ternyata mereka telah ditemukan memeluk Islam lebih dahulu berbanding, masuknya Islam Raja Pertama Banjar;

KDYMM Sultan Suriansyah pada kisaran tahun 1526 M dengan diutusnya Khatib Dayan dari kerajaan Demak atas bantuan bala tentara Demak membantu memenangkan peperangan Pangeran Samudera (nama lain KDYMM Sultan Suriansyah sebelum memeluk Islam ).


Saya melihat kiprah Sunan Giri di Kalimantan pada umumnya, khususnya di bumi Banjar sebagai tanggung jawab serta tugas para pendakwah khususnya bagi kalangan Alawiyyin yang memiliki misi meng-islamkan bumi Nusantara, termasuk bumi kerajaan Banjar yang ketika itu masih dipimpin oleh kerajaan Daha yang memeluk agama Hindu.


Meskipun faktanya, kerajaan Daha memeluk agama Hindu, namun pada masyarakat Banjar yang notabene suku Melayu tidak ditemukan adanya kepercayaan agama Hindu yang mengakar kuat pada keyakinan masyarakatnya, terkecuali hanya beberapa tradisi simbolik dalam beberapa aspek kecil saja yang kemudian berasimilasi dengan nilai-nilai Islami .


Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan dan mengakar dari agama Hindu bagi masyarakat Melayu Banjar, hingga datangnya pengaruh Islam yang benar-benar menjadi roh dan nafas kehidupan bagi masyarakat orang Melayu Banjar.


Jika dirunut lebih mendalam lagi, 

Sunan Giri merupakan keturunan Rasulullah SAW

melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad an-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Ibrahim Zainuddin Al-Akbar As-Samarqandy (Ibrahim Asmoro), Maulana Ishaq, dan Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Dengan demikian, sumber dakwah Islamnya masyarakat Melayu Banjar boleh dikatakan bukan semata dari pengaruh Islam Demak di Jawa, akan tetapi lebih awal memang bersumber langsung dari keturunan Ahlul Bait yang sumber utamanya bermuara pada datuk pertama mereka Al-Imam Ahmad bin Muhajir di Yaman.

Secara kajian ilmiah, saya secara pribadi tidak menemukan adanya pengaruh kekhalifahan Turki Utsmani pada periodesasi ini. Sebab pada rentang abad ke-15 M yang ketika itu bertepatan dengan kepemimpinan Sultan Muhammad al-Fatih Sang Penakluk Constantinopel (1451-1481 M) atau jika ditarik lebih awal lagi pada masa pemerintahan ayahnya Sultan Muhammad I (1421-1451 M).


Pada masa itu, kekhalifahan Turki Ustmani (Ottoman Empires)  tengah menghadapi banyak peperangan dan penaklukan pasca peperangan Salib yang sedang bergelora di Eropa. Dengan pengertian lain, kekhalifahan Turki Ustmani belum memusatkan adanya hubungan kerjasama politik atau pun militer dengan kerajaan Islam di Nusantara.

Kembali pada Islamisasi di bumi Kerajaan Banjar awal bahwa jelas di sana belum ada pengaruh politik, baik dari kerajaan Islam di Jawa maupun kerajaan Islam yang tengah berkuasa di Asia atau di Timur Tengah kala itu.

Semangat dakwah yang pertama kali tertancap di bumi Kalimantan murni atas dasar kemurniaan dakwah mengenal keagungan Islam secara kultural yang bersumber langsung dari para ulama dan dai yang ikhlas lillahi ta'ala. 

Selanjutnya, pengaruh kultural ini akan terlihat pada sepak terjang perjalanan Islam di bumi Banjar mulai abad ke-15 M hingga abad 21 hari ini yang nampak jelas pada praktik keberagamaan masyarakat muslimnya yang lebih nyaman dengan gaya sufistik, ketimbang gaya pergerakan Islam progresif atau revolusioner. 


Dengan kata lain, masyarakat muslim Banjar tidak terlalu tertarik dengan gaya Islam pergerakan atau revolusioner. Dan tidak ada fakta sejarah atau situs sejarah adanya pengaruh kekhalifahan Turki Ustmani pada masa kerajaan Banjar pada periodesasi awal ini.

Inilah mengapa kultur budaya dan nuansa keislaman bagi orang Melayu Banjar menyatu dengan kehidupan mereka yang lebih senang merindukan kebersamaan bersama Tuhan dan Rasulnya dalam amaliah-amaliah 


Wallahu Ta'ala A'la

Penulis : Ustaz Miftah El-Banjary

(Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur'an)


#FolksOfBanjar #KesultananBanjar #IslamBanjar #SejarahBanjar #MelayuBanjar #SejarahMasuknyaIslamDiKalimantan



Kamis, 28 Februari 2019

SHEIKH ALI BIN ABDULLAH AL-BANJARY


SHEIKH ALI BIN ABDULLAH AL-BANJARY
JURU TULIS KITAB I'ANAH ATH-THALIBIN

Di kalangan santri di Indonesia dan Santri Alam Melayu kitab I’anah Ath-Thalibin sangat dikenal. Namun siapa sangka, penulisnya (juru tulis Syekh Bakri Satha) ternyata seorang syekh keturunan Banjar , Kalimantan Selatan
Syekh keturunan Banjar itu bernama Syekh Ali bin Abdullah bin Mahmud bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau dilahirkan di Makkah Al Mukarramah tahun 1285 Hijriyah bertepatan dengan tahun 1868 Miladiyah (Masihi), dan tumbuh di dalam keluarga shaleh dan shalehah.
Ayahnya, Syekh Abdullah bin Mahmud Al Banjari merupakan ulama karismatik di Makkah Al Mukarramah. Beliau dijuluki dengan julukan Syekh Abdullah Wujud dikarenakan apabila beliau berdzikir, tubuhnya tidak lagi nampak terlihat, melainkan hanya pakaian dan sorbannya saja.
Di dalam keluarganya yang shaleh dan menjunjung tinggi ilmu agama itulah Syekh Ali tumbuh besar, hingga beliau mewarisi kecintaan pada ilmu agama sebagaimana ayah, kakek, dan datuknya yang lebih dulu menjadi ulama besar di zaman mereka.
Syekh Ali tak mau menjadi pemutus “nasab emas” keilmuan para leluhurnya, beliau pun dengan gigihnya menimba ilmu kepada banyak ulama, di antaranya kepada Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha, Syekh Said Yamani, Syekh Yusuf Al Khaiyat, Sayyid Husein bin Muhammad Al Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan As Saqaf (Assegaf), Mufti Abid bin Husein bin Ibrahim Al Makki, Habib Ahmad bin Hasan Al Atthas, Habib Umar bin Salim Al Atthas, Syekh Mahfuz Termas, Syekh Ahmad Fathani, Syekh Zainuddin As Sumbawi dan lainnya.
Dalam ilmu nahwu, sharaf, dan Fiqih Syekh Ali belajar kepada Syekh Abu Bakar Satha, Syekh Said Yamani, dan Syekh Mahfuz Termas (Ulama dari tanah Jawi). Dalam bidang hadits beliau berguru kepada Syekh Said Yamani, Sayyid Husein bin Muhammad Al Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan As Saqaf (Assegaf), Mufti Abid bin Husein bin Ibrahim Al Makki. Adapun dalam ilmu falaq, Syekh Ali belajar kepada Syekh Yusuf Al Khaiyat. Tafsir, kepada Sayyid Abu Bakar Satha. Dan, mengambil ijazah Thariqah Sammaniyah kepada Syekh Zainuddin As Sumbawi.
Menjadi Juru Tulis Gurunya
Guru dari Syekh Ali, Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha adalah salah satu ulama besar bermazhab Syafi’i yang hidup pada akhir abad ke-13 H dan permulaan abad ke-14 H. Kala itu, Sayyid Abu Bakar as Satha mengajar kitab syarah Fath al Mu’in karya Al Allamah Zainuddin al-Malibari, di Masjidil Haram.
Selama mengajar Kitab Fathul Mu’in, Sayyid Abu Bakar Satha menulis catatan sebagai penjelasan dari kalimat-kalimat yang terdapat dalam Kitab fathul Mu’in.
Catatan-catatan inilah yang kemudian diminta untuk dikumpulkan oleh para sahabat beliau, guna dijadikan sebuah kitab (hasyiyah) untuk memahami Kitab Fathul Mu’in.
Saat itu, Syekh Ali menjadi perhatian di antara sekian banyak murid yang mengaji kepada Sayyid Abu Bakar Satha. Kecakapannya dalam bidang ilmu fiqih membuat Sayyid Abu Bakar menunjuk Syekh Ali sebagai katib (Juru tulis) kepercayaannya ketika mengarang kitab. Salah satu kitab yang diketahui merupakan hasil tulis dari Syekh Ali adalah Kitab ‘Ianah Ath-Thalibin, syarah (penjelasan ) dari Kitab Fathul Mu’in karya Al Allamah Zainuddin al-Malibari.
“Kitab asli tulisan tangan beliau itu ada di Sumatra,” kata Ustadz Muhammad bin Husin bin Ali Al Banjari.
Kitab ini merupakan tulisan bermodel hasyiyah, yaitu berbentuk perluasan penjelasan dari tulisan terdahulu yang lebih ringkas. Kitab I’anah Ath-Thalibin ini selesai ditulis pada Hari Rabu ba’da Ashar, 27 Jumadil al-Tsani Tahun 1298 H.
Kitab I’anah Ath-Thalibin memiliki kelebihan sebagai fiqh mutakhkhirin yang lebih aktual dan kontekstual karena memuat ragam pendapat yang diusung ulama mutaakhkhirin utamanya Al-Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar dan banyak lainnya yang tentunya lebih mampu mengakomodir kebutuhan penelaah akan rujukan yang variatif dan efektif.
Rujukan penyusunan kitab ini adalah kitab-kitab fiqh Syafi’i mutaakhkhirin, yaitu Tuhfah al-Muhtaj, Fath al-Jawad Syarh al-Irsyad, al-Nihayah, Syarh al-Raudh, Syarh al-Manhaj, Hawasyi Ibnu al-Qasim, Hawasyi Syekh ‘Ali Syibran al-Malusi, Hawasyi al-Bujairumy dan lainnya.
Mursyid Thariqah Sammaniyah
Dalam bidang tasawuf, Syekh Ali Al Banjari diketahui pernah mengambil ijazah Thariqah Sammaniyah kepada Syekh Zainuddin As Sumbawi, hingga menjadi mursyid dalam thariqah tersebut. Hal ini diketahui dengan adanya catatan silsilah masyaikh (keguruan) pada Thariqah Sammaniyah yang terdapat nama beliau di dalamnya.
Thariqah Sammaniyah adalah thariqah yang didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani. Di antara murid Syekh Muhammad Samman adalah Datuk Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliaulah yang membawa thariqah ini ke tanah Banjar, dan meng-ijazahkannya kepada keluarga dan pengikut beliau. Dari keluarga dan pengikut beliau inilah kemudian thariqah tersebut terjaga hingga sekarang.
Mursyid Thariqah Sammaniyah yang masyhur dari keturunan Datuk Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Tuan Guru Sekumpul). Di antara mata rantai sanad keguruan Tuan Syekh Muhammad Zaini dalam bidang Thariqah Sammaniyah ini, terdapat nama Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari. Berikut perinciannya sanad keguruan dari Syekh Samman hingga Syekh Muhammad Zaini:
Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani,
Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari,
Syekh Syihabuddin Al Banjari
Syekh Nawawi bin Umar Al Bantani
Syekh Zainuddin bin Badawi As Sumbawi, Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari
Syekh Muhammad Syarwani bin Haji Abdan Al Banjari
Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari.
Mengajar di Masjidil Haram
Setelah dinilai guru-gurunya mumpuni dalam bidang keilmuan, Syekh Ali pun diizinkan mengajar di Masjidil Haram dalam mata pelajaran Nahwu, Sharaf, dan Fiqih Mazhab Syafi’ie.
Sejak saat itu pula, rumahnya di Daerah Syamiyah, Jabal Hindi, menjadi tempat tujuan para penimba ilmu. Terlebih, ketika umat Islam Seluruh dunia berdatangan untuk menunaikan ibadah haji. Momentum ibadah haji ini biasanya dimanfaatkan para muslimin untuk menimba ilmu dari ulama-ulama besar di tanah haram, tak terkecuali dengan Syekh Ali.
Dari sekian banyak murid Syekh Ali Al Banjari yang datang dari tanah Banjar dan kemudian menjadi ulama besar, di antaranya: Tuan Guru Zainal Ilmi (Dalam Pagar,Martapura), Syekh Sya’rani bin Haji Arif (Kampung Melayu), Syekh Muhammad Syarwani bin Haji Abdan Al-Banjary (Bangil, Surabaya), Syekh Seman bin Haji Mulya (Keraton,Martapura), Syekh Hasyim Mukhtar, Syekh Nasrun Thahir, Syekh Nawawi Marfu’, Syekh Abdul Karim bin Muhammad Amin Al Banjari (wafat di Makkah).
Berhenti Mengajar di Masjidil Haram
Setelah sekian lama tanah haram hidup tenang, dan Syekh Ali tenang menjalani rutinitasnya sebagai pengajar di Masjidil Haram, Saudi Arabia dilanda perpecahan. Perang antara kubu Syarif Husein (Turki Usmani) dengan kubu Muhammad Su’ud bin Abdul Aziz.
Peperangan tersebut tidak hanya berkisar perebutan daerah, tapi juga keyakinan dalam beragama. Kubu Muhammad Su’ud yang membawa keyakinan Wahabi kemudian membuat “onar” di tanah haram. Para ulama Ahlussunnah di zaman itu dipanggil, tak terkecuali dengan Syekh Ali.
Sempat terjadi perdebatan sengit antara Syekh Ali dengan ulama wahabi tentang firman Allah Ta’la, “Yadullah fauqa aidihim”(Al Fath ayat 10). Ulama Wahabi berpandangan lafaz “Yad” disana adalah tangan, dan Syekh Ali dengan tegas tidak menerima pandangan Mujassimah (menyerupakan Tuhan dengan makhluk, red) tersebut. Beliau cenderung dengan pandapat tafsir tentang ayat tersebut yang menyatakan: Bermula kekuasaan itu atas segala kekuasaan mereka itu. Lafadz “Yad” dimaknai Qudrat. Dalam debat itu, beliau menang telak atas ulama Wahabi. Sehingga, Syekh Ali yang tadinya akan dipancung, urung dilaksanakan.
Dalam masa peperangan itu-lah, Syekh Ali Al Banjari menitipkan anaknya Husin Ali kepada Tuan Syekh Kasyful Anwar Al Banjari untuk dibawa ke tanah Banjar. Syekh Kasyful Anwar adalah sahabat Syekh Ali ketika mengaji kepada Sayyid Abu Bakar Satha, yang juga keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Sejak perpecahan itu-lah Syekh Ali Al Banjari tak lagi mengajar di Masjidil Haram. Namun, beliau masih menerima orang-orang yang datang menemuinya. Baik yang menimba ilmu atau yang hanya meminta doa. Karena nama Syekh Ali tidak hanya besar disebabkan kedalaman ilmunya, tapi juga kemustajaban doanya. Sehingga, banyak orang yang datang menemuinya hanya untuk didoakan beliau.
Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari wafat di Makkah Al Mukarramah, Khamis malam (Malam Jumaat) 12 Dzulhijjah 1307 Hijriyah dimakamkan di Mu’alla, Mekkah.
Silakan share , tapi sertakan nama penulisnya. Sebab, suatu saat mungkin ada yang menjadikan referensi penelitian. Tulisan ini bersumber dari wawancara penulis dengan Ustadz Muhammad Husein Ali bin KH Husin Ali bin Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari (Cucu Syekh Ali di Martapura).
Jika ada salah dan khilaf, baik di sengaja maupun yang tidak disengaja, penulis menghaturkan ampun dan maaf yang sebesar-besarnya. Semoga Allah membukakan pintu tobat, ampunan, taufiq, hidayah, istiqomah, dan husnul khotiman pada kita sekalian baik bagi penulis maupun pembaca berkat Rasulullah SAW, Syaikhuna Sekumpul, berkat Syekh Ali Al Banjari, dan berkat orang-orang shaleh dulu-sekarang hingga akhir zaman, amin ya Rabbal ‘alamin
SOURCE & WRITER :
Penulis: Muhammad Bulkini Ibnu Syaifuddin
# FolksOfBanjar # # I ’anahAth-Thalibin
# SheikhAli

Rabu, 27 Februari 2019

PERKAWINAN ADAT MELAYU BANJAR



Sekilas Proses Perkawinan Adat Banjar
Berikut akan saya ceritakan sekilas dulu mengenai proses-proses yang mengiringi acara perkawinan dalam adat Banjar. Di tulisan yang lain akan dibahas lebih detail.
Perkawinan adat Banjar dipengaruhi oleh unsur dalam agama Islam, dalam perkawinan Banjar nampak jelas begitu besar penghormatan terhadap posisi wanita. Hal itu merupakan penerapan dari ajaran Islam yang mengemukakan ungkapan “surga itu dibawah telapak kaki ibu” dan kalimat “wanita itu adalah tiang negara”. Acara demi acara yang dilaksanakan semuanya berpusat di tempat atau di rumah pihak calon mempelai wanita, pihak dari keluarga laki-laki yang datang menghormati kepada keluarga mempelai wanita.
Urutan proses yang umum terjadi di kalangan keluarga calon pengantin adalah:
1. Basusuluh (mencari informasi secara diam-diam mengenai riwayat keluarga calon mempelai. Mencari informasi ini bisa melalui berbagai macam cara dan dilakukan secara cerdik)
2. Batatakun (mencari informasi definitif, pencarian ini lebih terbuka melalui kedua pihak keluarga)
3. Badatang (meminang)
4. Maatar Patalian ( memberikan barang-barang antaran kepada pihak mempelai wanita, berupa barang kebutuhan sehari-hari dan perlengkapan kamar tidur)
5. Nikah (ikatan resmi menurut agama)
6. Batatai (proses akhir dari perkawinan Banjar, upacara bersanding/pesta perkawinan)
Ditambah berbagai proses lainnya yang semuanya dilakukan di kediaman mempelai wanita. Karena perkawinan merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup, maka keluarga kedua mempelai berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan kesan dan keistimewaan serta fasilitas kepada kedua mempelai, mereka dilayani bagai seorang raja dan ratu sehingga sering diberi julukan Raja Sahari (raja satu hari)
Proses-proses yang dilakukan sebelum batatai pengantin, yaitu:
1. Manurunakan Pangantin Laki-Laki, Upacara akan dimulai saat pengantin laki-laki mulai turun dari rumahnya menuju pelaminan di rumah mempelai wanita. Proses ini memang terlihat mudah, tetapi sering pada acara inilah terjadi hal-hal yang berakibat fatal bahkan mengakibatkan batalnya seluruh acara perkawinan. Di masa lalu, tidak jarang laki-laki saingan yang gagal memperoleh hati wanita yang akan segera menikah melakukan segala cara untuk menggagalkan pernikahan yang akan segera berlangsung. Mereka berusaha menggagalkan dengan cara halus (gaib) terutama saat ijab kabul tiba. Mempelai laki-laki akan muntah-muntah dan sakit, ada juga yang tidak dapat menggerakkan kakinya untuk melangkah padahal rumah wanitanya sudah didepan mata. Untuk mengantipasi hal ini biasanya para tetuha keluarga memberikan sangu dengan doa-doa khusus. Selain itu saat kaki calon pengantin laki-laki melangkah pertama kali akan didendangkan shalawat nabi dan ditaburi baras kuning.
2. Maarak Pengantin Laki-laki, saat tidak ada lagi gangguan terjadi rombongan pengantar akan bergerak menuju rumah mempelai wanita (dahulu jarak antar rumah calon relatif dekat sehingga warga berjalan kaki beramai-ramai). Kira-kira beberapa puluh meter di depan rumah mempelai, saat inilah berbagai macam kesenian akan ditampilkan. Diantaranya, Sinoman Hadrah, Kuda Gipang, bahkan ada musik Bamban (sejenis Tanjidor Betawi). Mempelai laki-laki yang melewati barisan Sinoman Hadrah akan dilindungi oleh Payung Ubur-Ubur, payung ini akan terus berputar-putar melindungi pengantin sambil rombongan bergerak menuju rumah mempelai wanita.
3. Batatai Pengantin, proses terakhir dalam pesta. Kedua mempelai bertemu dan dipertontonkan di atas mahligai pelaminan disaksikan seluruh undangan yang hadir.
Selain rangkaian proses di atas masih ada beberapa proses perkawinan adat Banjar yang dilakukan oleh keluarga kedua mempelai sebagai penunjang suksesnya hari batatai pengantin.

Source : Kerajaan Banjar Virtual

Minggu, 24 Februari 2019

BAHASA BANJAR DIALEK KUALA

Kata-kata yang saya sajikan didalam kamus ini adalah kata-kata yang biasa dipakai umumnya orang Melayu Banjar daerah Banjarmasin ( Muara/Kuala)  dalam pergaulan sehari-hari.yg berbeda dengan Dialek Hulu ( Pahuluan ) yg biasa di tuturkan di Daerah Hulu Sungai

Harapan saya bagi Anda pengunjung Blog ini yang bukan orang Banjar Asli, akan dapat belajar Bahasa Banjar secara mudah, siapa tahu suatu hari nanti Anda punya keinginan untuk berkunjung ke Banjarmasin, maka Anda sudah bisa menggunakan kata-kata dalam Bahasa Banjar itu, seolah-olah Anda seperti orang Banjarmasin sendiri.

Silakan cari kata-kata tersebut dibawah ini :

Bahasa Melayu Banjar  ( Dialek Kuala) Dan Artinya Dalam  Bahasa Indonesia / Melayu

DIALEK BANJAR KUALA (mempunyai 6  Fonem  a,i,u,e,o,e )

Manakala BANJAR HULU cuma (mempunyai 3 Fonem a,i,u)

Jadi Harus Tahu Bahwa Bahasa Banjar itu ada 2 Dialek Besar , kerna banyak yg tdk tahu tentang Bahasa Banjar , Banyak yg mengira bahwa Bahasa Banjar tidak bisa menyebut hurup  O dan E   anda salah besar  kerna Banjar Kuala mampu menyebut  A,I,U,O,E ( pepet) dan E (Talling ) dengan Benar .

STOP MENG HULU-HULU KAN  YG KUALA  !  Open minded  sanak .....

(KUALA)
BE = BER 
TE = TER

(HULU )
BA = BER
TA = TER

A
Akur = Setuju, Damai, Tidak Ada Perselisihan
Ambak = Pendiam / Lambat Dalam Bergerak
Ampih = Berhenti, Selesai
Amun/Mun / Lamun = Jika / Kalau / Jikalau
Anum = Masih Muda
Awak = Badan / tubuh

B
Be agak = Sombong / Berlagak
Be banam = Dipanggang di api
Be bau = Berbau
Be diam = Bertempat Tinggal / Tidak Ngomong, Diam
Be Hinip  = Diam tiada kata-kata
Begaru = Mengaruk / Bergaruk
Be gemet = Pelan-pelan
Be hapakan, Be sasambatan = Saling Mengejek, Mengolok-olok
Bahanu = Kadang-kadang
Bahari = Zaman Dahulu, Tempo Dulu
Behinak = Bernafas
Behimat = Rajin
Be isukan = Pagi
Be karasmin = Hajat Perkawinan / Hiburan
Belanjung-lanjung = Sebanyak-banyaknya
Be larang = Bertambah Mahal
Be liur = Kepingin / Berliur
Balum = Belum
Be hual = Bermasalah ,  Bertengkar, Tidak Saling Mengalah
Be kajal = Berdesakan
Be kajutan = Mendadak
Be kamih = Kencing (Buang Air kecil)
Bakas = Bekas
Be kuciak = Teriak
Be kunyung = Berenang
Banyu = Air
Be ranai = Berdiam diri, Tidak Ada Yang Dikerjakan (Free)
Berasa = Terasa
Be salin = Berganti
Be sangu = Membawa Bekal
Be takun = Bertanya
Be dapatan = Bertemu
Be tatukar = Berbelanja
Be paluhan = Berkeringat
Be padah = Memberitahu
Be papadah = Menasehati
Be pender = Ngomong, Berbicara
Be parak = Mendekat
Be tampah = Pesan
Be ulah = Mengolah, Membuat
Bungas = Cantik
Bungul = Bodoh
Bubuhan = Kawan, Sahabat, Teman
Bulik = Pulang
Bulang-Bulik = Bolak-Balik
Bujang = Masih Perjaka, Masih Perawan, Belum Menikah
Bujur = Benar
Bujur-Bujur = Serius

C
Cucuk = Cocok / Tusuk
Calon /Bakal  = Calon / Bakal

D
Damini = Sekarang Juga
Damintu = Seperti Itu
Diganii = Ditemani
Dihiga = Disamping
Dikiyau = Dipanggil

E
Elang = Bertamu
Engken = Pelit
Ember = Ember

=
=
F
=
=

G
Gerunuman  = Mengerutu
Ganal = Besar
Garing = Sakit
Gasan = Buat
Gawian = Pekerjaan
Guring = Tidur

H
Habang = Merah
Hancing = Aroma Tidak Sedap Yang Sangat Menyengat bau air Kemih
Handak = Mau
Handap = Pendek
Hanyar = Baru
Harat = Hebat
Hakun = Mau
Hangit = Gosong
Hibak = Penuh, Tidak Muat
Himung = Senang, Gembira

I
Ikam = Kamu
Imbah = Setelah
Inya = Dia
Iwak = Ikan

J
Jinguk = Tengok
Juju = Memaksakan Kehendak tak tahu arah tujuan

K
Ke belujuran = Kebetulan
Kebiasaan = Kebiasaan
Kada = Tidak
Kada ada = Tidak Ada
Kadap = Gelap
Ke hangitan = Gosong
Keina = Nanti
Kelimpatan = Melewati Batas, Terlewati
Ke kembangan = Bunga-Bunga , Hiasan
Ke kawalan = Teman, Sahabat, Teman-teman
Kaya = Seperti
Kawa = Bisa, Dapat
Koreng = Luka Kering
Kukuciak = Teriak

L
Lading = Pisau
Lakas = Cepat
Langgar = Mushalla/ surau
Lantih = Pandai Bicara / berceloteh
Larang = Mahal
Lawas = Lama
Lawang = Pintu
Lihum = Senyum
Limbah = Setelah
Lingsak = Lecet
Lucut = Susah Sekali / tertawa hampir hampir menangis

M
Me hadang = Menunggu
Me hampas = Menghentakan Barang Dengan Keras
Me hingal = Bernafas Tidak Teratur
Me micik = Menekan
Me nakuni = Menanyakan
Me nampaikan = Memperlihatkan/ menampilkan
Mencaluk = Mengambil sesuatu dalam lubang
Mencungul = Hadir /muncul
Mencuntan = Mencuri
Mengelunyur = Mengalir
Mengeramput = Berbohong
Mengarasi = Merasa Benar (keras pada pendiriannya)
Manggah = Susah bernafas
Mengiyau = Memanggil
Menjulung = Menyerahkan
Menukari = Membeli
Menukarakan = Membelikan
Menyanga = Mengoreng
Menyenyarik = Marah-Marah
Menyewa = Menyewa
Menyupanakan = Membikin Malu
Membari supan = Memberi Malu
Menyurungi = Menyuguhkan
Memasan = Memesan
Memacul = Melepas
Membisa i = Membujuk
Me igau = Berbicara Sendiri Ketika Tidur
Me itihi = Melihat
Melandau = Bangun Kesiangan [Tidak Shalat Subuh]
Merista = Menderita
Matan = Dari
Me ragap = Memeluk
Merangut = merengut
Memagut = Memeluk
Mesigit = Mesjid
Mauk =  Pusing kepala
Meunjun = Memancing
Meungkai = Membuka, Memperlihatkan, merungkaikan
Meja = Meja
Muntung = Mulut

N
Nang = Yang
Ngalih = Sulit, Susah,sukar,pelik
Ngaran = Nama
Nyaman = Enak

O

=
=
P
Pehalusnya = Paling Kecil
Pengeramput = Pembohong
Pendusta = Pembohong
Pengarasan = Tidak Mau Mengalah (keras hati)
Penggaringan = Sering Sakit-Sakitan
Pengoler = Pemalas
Pe koleh = Mendapatkan
Palak = Pedih mata akibat asap
Parak = Dekat
Pian = Kamu [digunakan kepada yg lebih tua]
Pina = Kayak, Seperti
Pincat = Pincang
Pulas = Memelintir
Purun = Tega

R
Rabit = Robek, Sobek
Racap = Berulang-ulang, Berulang Kali
Rahatan = Sedang Berlangsung
Rami = Ramai
Rancak = Sering
Rawa/tagur = Tegur

S
Saban = Tiap
Sebakul = Satu Keranjang (Bakul)
Selawar = Celana
Selawas = Selama
Sambat = Sebut
Sambati = Olok-olok
Semua an = Semuanya
Setumat = Sebentar
Sorang [an] = Sendiri [an]
Seraba = serba
Sarik = Marah
Sampat  = Sempat
Separu = Setengah / separo
Sidin = Beliau/ Dia [Untuk Orang Yang Lebih Tua)
Singgah = Mampir
Siup = Pingsan
Supan = Malu

T
Te kajut = Terkejut
Te kibar = Sangat Terkejut
Takun = Tanya
Tekuling = Geleng-Geleng
Temandak = terdiam tanpa bisa bergerak
Tetamba = Obat
Tetukar = Terlanjur Beli
Tebungut = Melamun
Tawing = Dinding
Tepelampang = Berbeda, Selalu Berbeda
Tuhuk /puas  =  sudah terlalu sering
Tuntung = Selesai
Tukup = Tutup

U
Unda = Saya [akrab] digunakan pada teman sebaya
Ulun = Saya [halus] digunakan pada org yg lebih tua
V
=
=
W
Wadah = Tempat
Wadai = Kue
Wajik= Wajik
Waras = Baik
Warung = Warung
Wayah = Saat