Populer

Cari Blog Ini

Music Listening

AI MUSIC GENERATOR

Tampilkan postingan dengan label Sejarah & Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah & Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2021

SUNAN GIRI PENDAKWAH ISLAM PERTAMA DI KALIMANTAN

 SUNAN GIRI

PENDAKWAH ISLAM PERTAMA DI KALIMANTAN







Ada satu fakta sejarah yang jarang diungkap oleh para peneliti, apalagi diketahui jamak oleh orang awam bahwa pengaruh masuknya Islam di bumi Banjar tak terlepas dari pengaruh dakwah walisongo (wali sembilan) khususnya Sunan Giri .

Saya secara pribadi tidak melihat kiprah dakwah itu sebagai bagian dari dakwah politik kerajaan Islam Demak, sebab kiprah Raden Paku atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Giri itu sudah lebih dahulu dari berdiri dan tumbuhnya Kerajaan Islam Demak sebagai kekuatan baru pesaing kerajaan Hindu Majapahit yang sudah mulai runtuh ketika itu.


Jika dilihat dari kronologis sejarahnya, kiprah dakwah Sunan Giri telah ada berlangsung pada awal abad ke-15 Masehi di Kalimantan Selatan. Kedatangan Sunan Giri ditengarai pada tahun 1470 M; 

Dimana ketika itu pusat perdagangan di Pelabuhan Bandar Masih (yang kemudian berganti nama penyebutannya menjadi Banjarmasin) sedang mengalami puncak keramaian interaksi pedagang dari pelbagai Negara (Mancanegara).

Ada pula penelitian yang menyebutkan kedatangan Sunan Giri pertama kalinya di pelabuhan Muara Bahan ( Bandar Utama Kerajaan Negara Daha /Pra Kesultanan Banjar)  yang hari ini dikenal dengan nama Marabahan. Kedatangan beliau bukan sekedar misi dakwah, namun juga dalam rangka perdagangan, sebab kedatangan beliau bersama tiga buah kapal dagang.

Terlepas apakah misi beliau dalam rangka berdagang atau berdakwah semata, namun catatan sejarah yang tidak bisa dilupakan bahwa orang-orang dayak Bakumpai atau Urang Bakumpai yang tinggal di pesisir Muara Bahan, ternyata mereka telah ditemukan memeluk Islam lebih dahulu berbanding, masuknya Islam Raja Pertama Banjar;

KDYMM Sultan Suriansyah pada kisaran tahun 1526 M dengan diutusnya Khatib Dayan dari kerajaan Demak atas bantuan bala tentara Demak membantu memenangkan peperangan Pangeran Samudera (nama lain KDYMM Sultan Suriansyah sebelum memeluk Islam ).


Saya melihat kiprah Sunan Giri di Kalimantan pada umumnya, khususnya di bumi Banjar sebagai tanggung jawab serta tugas para pendakwah khususnya bagi kalangan Alawiyyin yang memiliki misi meng-islamkan bumi Nusantara, termasuk bumi kerajaan Banjar yang ketika itu masih dipimpin oleh kerajaan Daha yang memeluk agama Hindu.


Meskipun faktanya, kerajaan Daha memeluk agama Hindu, namun pada masyarakat Banjar yang notabene suku Melayu tidak ditemukan adanya kepercayaan agama Hindu yang mengakar kuat pada keyakinan masyarakatnya, terkecuali hanya beberapa tradisi simbolik dalam beberapa aspek kecil saja yang kemudian berasimilasi dengan nilai-nilai Islami .


Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan dan mengakar dari agama Hindu bagi masyarakat Melayu Banjar, hingga datangnya pengaruh Islam yang benar-benar menjadi roh dan nafas kehidupan bagi masyarakat orang Melayu Banjar.


Jika dirunut lebih mendalam lagi, 

Sunan Giri merupakan keturunan Rasulullah SAW

melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad an-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Ibrahim Zainuddin Al-Akbar As-Samarqandy (Ibrahim Asmoro), Maulana Ishaq, dan Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Dengan demikian, sumber dakwah Islamnya masyarakat Melayu Banjar boleh dikatakan bukan semata dari pengaruh Islam Demak di Jawa, akan tetapi lebih awal memang bersumber langsung dari keturunan Ahlul Bait yang sumber utamanya bermuara pada datuk pertama mereka Al-Imam Ahmad bin Muhajir di Yaman.

Secara kajian ilmiah, saya secara pribadi tidak menemukan adanya pengaruh kekhalifahan Turki Utsmani pada periodesasi ini. Sebab pada rentang abad ke-15 M yang ketika itu bertepatan dengan kepemimpinan Sultan Muhammad al-Fatih Sang Penakluk Constantinopel (1451-1481 M) atau jika ditarik lebih awal lagi pada masa pemerintahan ayahnya Sultan Muhammad I (1421-1451 M).


Pada masa itu, kekhalifahan Turki Ustmani (Ottoman Empires)  tengah menghadapi banyak peperangan dan penaklukan pasca peperangan Salib yang sedang bergelora di Eropa. Dengan pengertian lain, kekhalifahan Turki Ustmani belum memusatkan adanya hubungan kerjasama politik atau pun militer dengan kerajaan Islam di Nusantara.

Kembali pada Islamisasi di bumi Kerajaan Banjar awal bahwa jelas di sana belum ada pengaruh politik, baik dari kerajaan Islam di Jawa maupun kerajaan Islam yang tengah berkuasa di Asia atau di Timur Tengah kala itu.

Semangat dakwah yang pertama kali tertancap di bumi Kalimantan murni atas dasar kemurniaan dakwah mengenal keagungan Islam secara kultural yang bersumber langsung dari para ulama dan dai yang ikhlas lillahi ta'ala. 

Selanjutnya, pengaruh kultural ini akan terlihat pada sepak terjang perjalanan Islam di bumi Banjar mulai abad ke-15 M hingga abad 21 hari ini yang nampak jelas pada praktik keberagamaan masyarakat muslimnya yang lebih nyaman dengan gaya sufistik, ketimbang gaya pergerakan Islam progresif atau revolusioner. 


Dengan kata lain, masyarakat muslim Banjar tidak terlalu tertarik dengan gaya Islam pergerakan atau revolusioner. Dan tidak ada fakta sejarah atau situs sejarah adanya pengaruh kekhalifahan Turki Ustmani pada masa kerajaan Banjar pada periodesasi awal ini.

Inilah mengapa kultur budaya dan nuansa keislaman bagi orang Melayu Banjar menyatu dengan kehidupan mereka yang lebih senang merindukan kebersamaan bersama Tuhan dan Rasulnya dalam amaliah-amaliah 


Wallahu Ta'ala A'la

Penulis : Ustaz Miftah El-Banjary

(Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur'an)


#FolksOfBanjar #KesultananBanjar #IslamBanjar #SejarahBanjar #MelayuBanjar #SejarahMasuknyaIslamDiKalimantan



Kamis, 28 Februari 2019

Makam Raja Banjar ke IV  DYMM Sultan Musta'In Billah Ditemukan di Bawah Pohon Kasturi Raksasa di Martapura

Pohon Kasturi


Batu Nisan Sultan Musta'in Billah



Makam Raja Banjar ke IV  DYMM Sultan Musta'In Billah Ditemukan di Bawah Pohon Kasturi Raksasa di Martapura

Sebuah makam yang diduga merupakan tempat persemayaman Raja Banjar ke IV, Sultan Mustainbillah, akhirnya ditemukan oleh para Dzuriyat Kesultanan Banjar.
Makam yang diyakini merupakan salah satu Raja Banjar itu berada di bawah sebuah pohon Kasturi berukuran raksasa berdiameter 150 cm diperkirakan berusia 200 tahun, di Desa Tangkas RT 3, Kecamatan Martapura Barat, Martapura, Kabupaten Banjar , Kalimantan Selatan

Di lokasi tersebut para Dzuriyyat yang telah lama melakukan pencarian Raja Banjar tersebut, menemukan sebuah Batu Nisan batu berukuran besar dengan ukiran batu bercabang dua yang menandai keberadaan makamnya.
Ketua Zuriyyat Pangeran Hidayatulah di
Kalsel, Gusti Sofyan Hilmi, mengatakan, di dalam buku-buku yang meriwayatkan sejarah Banjar, mencantumkan enam Sultan. Makam lima Sultan telah diketahui, tinggal Raja Banjar keempat tersebut yang belum.
"Hanya Sultan Mustainbillah yang tidak diketahui makamnya. Kalau wafatnya pada tahun 1619," sebut dia, Jumat (1/1/2016)
Dari penelusuran, didapat petunjuk tentang makam sultan tersebut di kawasan Sungai Tabukan. “Ketika dicari, tidak ditemukan. Ketika dicari di kawasan Sungai Tabukan Martapura, lalu bertanya kepada warga, ditunjukkanlah makam dimaksud tersebut,” ujarnya.
Dulunya, di lokasi makam ada kubah juga, tetapi hancur dimakan usia karena hujan, panas serta faktor lain. Makam tersebut dirawat Gusti Dayat. Namun, sepeninggal Gusti Dayat, tidak ada lagi yang merawat.
“Warga sekitar, tahunya memang makam raja. Makanya, banyak yang menaruh kembang dan kain kuning di makam beliau," imbuh Gusti Sofyan.
Pohon Kasturi Raksasa di atas Makam
Raja Banjar ditebang, untuk memudahkan perawatan makam.
Dengan temuan tersebut, lanjutnya, para Zuriyyat serta komunitas peduli makam raja-raja Banjar memutuskan untuk merawat kembali makam ini. Setelah pohon kasturi ditebang, rencana berikut adalah membangun kubah berarsitektur rumah banjar berukuran 4 x 4 meter
Disinggung mengenai makam yang sebelumnya ditemukan di Desa Sungai Kitano dan disebut makam Sultan Mustainbillah, Gusti Sofwan membenarkan. Namun ia juga mengungkapkan makam itu adalah Makam Sultan Inayatullah, yakni anak dari Sultan Mustainbillah.
"Bisa dilihat dari nisannya. Di Sungai Kitano, lebih kecil ukurannya dari makam yang baru ditemukan. Makam yang baru ditemukan, paling besar nisannya. Cuma, ada kemiripan bentuk nisan antara kedua makam," bebernya.
Hal senada diutarakan Ketua Peduli Makam Al Khairat, Uhibbul Hudda. Berdasarkan bentuk nisan makam tersebut, menandakan makam raja-raja dulu. Bentuk nisannya, lebih besar dari nisan Sultan Inayatullah.
"Itu bukan batu hasil olahan daerah kita. Bisa jadi, batu nisan ini dari Persia atau bisa juga Majapahit," lontarnya.

Keterangan gambar : Nisan dari Makam Raja Banjar IV Sultan Mustainbillah yang ditemukan di Kecamatan Martapura Barat Jumat (1/1/2015) diamankan di rumah warga.

#FolksOfBanjar #KesultananBanjar #KesultananKutaringin #SultanMustainBillah

SHEIKH ALI BIN ABDULLAH AL-BANJARY


SHEIKH ALI BIN ABDULLAH AL-BANJARY
JURU TULIS KITAB I'ANAH ATH-THALIBIN

Di kalangan santri di Indonesia dan Santri Alam Melayu kitab I’anah Ath-Thalibin sangat dikenal. Namun siapa sangka, penulisnya (juru tulis Syekh Bakri Satha) ternyata seorang syekh keturunan Banjar , Kalimantan Selatan
Syekh keturunan Banjar itu bernama Syekh Ali bin Abdullah bin Mahmud bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau dilahirkan di Makkah Al Mukarramah tahun 1285 Hijriyah bertepatan dengan tahun 1868 Miladiyah (Masihi), dan tumbuh di dalam keluarga shaleh dan shalehah.
Ayahnya, Syekh Abdullah bin Mahmud Al Banjari merupakan ulama karismatik di Makkah Al Mukarramah. Beliau dijuluki dengan julukan Syekh Abdullah Wujud dikarenakan apabila beliau berdzikir, tubuhnya tidak lagi nampak terlihat, melainkan hanya pakaian dan sorbannya saja.
Di dalam keluarganya yang shaleh dan menjunjung tinggi ilmu agama itulah Syekh Ali tumbuh besar, hingga beliau mewarisi kecintaan pada ilmu agama sebagaimana ayah, kakek, dan datuknya yang lebih dulu menjadi ulama besar di zaman mereka.
Syekh Ali tak mau menjadi pemutus “nasab emas” keilmuan para leluhurnya, beliau pun dengan gigihnya menimba ilmu kepada banyak ulama, di antaranya kepada Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha, Syekh Said Yamani, Syekh Yusuf Al Khaiyat, Sayyid Husein bin Muhammad Al Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan As Saqaf (Assegaf), Mufti Abid bin Husein bin Ibrahim Al Makki, Habib Ahmad bin Hasan Al Atthas, Habib Umar bin Salim Al Atthas, Syekh Mahfuz Termas, Syekh Ahmad Fathani, Syekh Zainuddin As Sumbawi dan lainnya.
Dalam ilmu nahwu, sharaf, dan Fiqih Syekh Ali belajar kepada Syekh Abu Bakar Satha, Syekh Said Yamani, dan Syekh Mahfuz Termas (Ulama dari tanah Jawi). Dalam bidang hadits beliau berguru kepada Syekh Said Yamani, Sayyid Husein bin Muhammad Al Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan As Saqaf (Assegaf), Mufti Abid bin Husein bin Ibrahim Al Makki. Adapun dalam ilmu falaq, Syekh Ali belajar kepada Syekh Yusuf Al Khaiyat. Tafsir, kepada Sayyid Abu Bakar Satha. Dan, mengambil ijazah Thariqah Sammaniyah kepada Syekh Zainuddin As Sumbawi.
Menjadi Juru Tulis Gurunya
Guru dari Syekh Ali, Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha adalah salah satu ulama besar bermazhab Syafi’i yang hidup pada akhir abad ke-13 H dan permulaan abad ke-14 H. Kala itu, Sayyid Abu Bakar as Satha mengajar kitab syarah Fath al Mu’in karya Al Allamah Zainuddin al-Malibari, di Masjidil Haram.
Selama mengajar Kitab Fathul Mu’in, Sayyid Abu Bakar Satha menulis catatan sebagai penjelasan dari kalimat-kalimat yang terdapat dalam Kitab fathul Mu’in.
Catatan-catatan inilah yang kemudian diminta untuk dikumpulkan oleh para sahabat beliau, guna dijadikan sebuah kitab (hasyiyah) untuk memahami Kitab Fathul Mu’in.
Saat itu, Syekh Ali menjadi perhatian di antara sekian banyak murid yang mengaji kepada Sayyid Abu Bakar Satha. Kecakapannya dalam bidang ilmu fiqih membuat Sayyid Abu Bakar menunjuk Syekh Ali sebagai katib (Juru tulis) kepercayaannya ketika mengarang kitab. Salah satu kitab yang diketahui merupakan hasil tulis dari Syekh Ali adalah Kitab ‘Ianah Ath-Thalibin, syarah (penjelasan ) dari Kitab Fathul Mu’in karya Al Allamah Zainuddin al-Malibari.
“Kitab asli tulisan tangan beliau itu ada di Sumatra,” kata Ustadz Muhammad bin Husin bin Ali Al Banjari.
Kitab ini merupakan tulisan bermodel hasyiyah, yaitu berbentuk perluasan penjelasan dari tulisan terdahulu yang lebih ringkas. Kitab I’anah Ath-Thalibin ini selesai ditulis pada Hari Rabu ba’da Ashar, 27 Jumadil al-Tsani Tahun 1298 H.
Kitab I’anah Ath-Thalibin memiliki kelebihan sebagai fiqh mutakhkhirin yang lebih aktual dan kontekstual karena memuat ragam pendapat yang diusung ulama mutaakhkhirin utamanya Al-Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar dan banyak lainnya yang tentunya lebih mampu mengakomodir kebutuhan penelaah akan rujukan yang variatif dan efektif.
Rujukan penyusunan kitab ini adalah kitab-kitab fiqh Syafi’i mutaakhkhirin, yaitu Tuhfah al-Muhtaj, Fath al-Jawad Syarh al-Irsyad, al-Nihayah, Syarh al-Raudh, Syarh al-Manhaj, Hawasyi Ibnu al-Qasim, Hawasyi Syekh ‘Ali Syibran al-Malusi, Hawasyi al-Bujairumy dan lainnya.
Mursyid Thariqah Sammaniyah
Dalam bidang tasawuf, Syekh Ali Al Banjari diketahui pernah mengambil ijazah Thariqah Sammaniyah kepada Syekh Zainuddin As Sumbawi, hingga menjadi mursyid dalam thariqah tersebut. Hal ini diketahui dengan adanya catatan silsilah masyaikh (keguruan) pada Thariqah Sammaniyah yang terdapat nama beliau di dalamnya.
Thariqah Sammaniyah adalah thariqah yang didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani. Di antara murid Syekh Muhammad Samman adalah Datuk Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliaulah yang membawa thariqah ini ke tanah Banjar, dan meng-ijazahkannya kepada keluarga dan pengikut beliau. Dari keluarga dan pengikut beliau inilah kemudian thariqah tersebut terjaga hingga sekarang.
Mursyid Thariqah Sammaniyah yang masyhur dari keturunan Datuk Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Tuan Guru Sekumpul). Di antara mata rantai sanad keguruan Tuan Syekh Muhammad Zaini dalam bidang Thariqah Sammaniyah ini, terdapat nama Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari. Berikut perinciannya sanad keguruan dari Syekh Samman hingga Syekh Muhammad Zaini:
Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani,
Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari,
Syekh Syihabuddin Al Banjari
Syekh Nawawi bin Umar Al Bantani
Syekh Zainuddin bin Badawi As Sumbawi, Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari
Syekh Muhammad Syarwani bin Haji Abdan Al Banjari
Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari.
Mengajar di Masjidil Haram
Setelah dinilai guru-gurunya mumpuni dalam bidang keilmuan, Syekh Ali pun diizinkan mengajar di Masjidil Haram dalam mata pelajaran Nahwu, Sharaf, dan Fiqih Mazhab Syafi’ie.
Sejak saat itu pula, rumahnya di Daerah Syamiyah, Jabal Hindi, menjadi tempat tujuan para penimba ilmu. Terlebih, ketika umat Islam Seluruh dunia berdatangan untuk menunaikan ibadah haji. Momentum ibadah haji ini biasanya dimanfaatkan para muslimin untuk menimba ilmu dari ulama-ulama besar di tanah haram, tak terkecuali dengan Syekh Ali.
Dari sekian banyak murid Syekh Ali Al Banjari yang datang dari tanah Banjar dan kemudian menjadi ulama besar, di antaranya: Tuan Guru Zainal Ilmi (Dalam Pagar,Martapura), Syekh Sya’rani bin Haji Arif (Kampung Melayu), Syekh Muhammad Syarwani bin Haji Abdan Al-Banjary (Bangil, Surabaya), Syekh Seman bin Haji Mulya (Keraton,Martapura), Syekh Hasyim Mukhtar, Syekh Nasrun Thahir, Syekh Nawawi Marfu’, Syekh Abdul Karim bin Muhammad Amin Al Banjari (wafat di Makkah).
Berhenti Mengajar di Masjidil Haram
Setelah sekian lama tanah haram hidup tenang, dan Syekh Ali tenang menjalani rutinitasnya sebagai pengajar di Masjidil Haram, Saudi Arabia dilanda perpecahan. Perang antara kubu Syarif Husein (Turki Usmani) dengan kubu Muhammad Su’ud bin Abdul Aziz.
Peperangan tersebut tidak hanya berkisar perebutan daerah, tapi juga keyakinan dalam beragama. Kubu Muhammad Su’ud yang membawa keyakinan Wahabi kemudian membuat “onar” di tanah haram. Para ulama Ahlussunnah di zaman itu dipanggil, tak terkecuali dengan Syekh Ali.
Sempat terjadi perdebatan sengit antara Syekh Ali dengan ulama wahabi tentang firman Allah Ta’la, “Yadullah fauqa aidihim”(Al Fath ayat 10). Ulama Wahabi berpandangan lafaz “Yad” disana adalah tangan, dan Syekh Ali dengan tegas tidak menerima pandangan Mujassimah (menyerupakan Tuhan dengan makhluk, red) tersebut. Beliau cenderung dengan pandapat tafsir tentang ayat tersebut yang menyatakan: Bermula kekuasaan itu atas segala kekuasaan mereka itu. Lafadz “Yad” dimaknai Qudrat. Dalam debat itu, beliau menang telak atas ulama Wahabi. Sehingga, Syekh Ali yang tadinya akan dipancung, urung dilaksanakan.
Dalam masa peperangan itu-lah, Syekh Ali Al Banjari menitipkan anaknya Husin Ali kepada Tuan Syekh Kasyful Anwar Al Banjari untuk dibawa ke tanah Banjar. Syekh Kasyful Anwar adalah sahabat Syekh Ali ketika mengaji kepada Sayyid Abu Bakar Satha, yang juga keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Sejak perpecahan itu-lah Syekh Ali Al Banjari tak lagi mengajar di Masjidil Haram. Namun, beliau masih menerima orang-orang yang datang menemuinya. Baik yang menimba ilmu atau yang hanya meminta doa. Karena nama Syekh Ali tidak hanya besar disebabkan kedalaman ilmunya, tapi juga kemustajaban doanya. Sehingga, banyak orang yang datang menemuinya hanya untuk didoakan beliau.
Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari wafat di Makkah Al Mukarramah, Khamis malam (Malam Jumaat) 12 Dzulhijjah 1307 Hijriyah dimakamkan di Mu’alla, Mekkah.
Silakan share , tapi sertakan nama penulisnya. Sebab, suatu saat mungkin ada yang menjadikan referensi penelitian. Tulisan ini bersumber dari wawancara penulis dengan Ustadz Muhammad Husein Ali bin KH Husin Ali bin Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari (Cucu Syekh Ali di Martapura).
Jika ada salah dan khilaf, baik di sengaja maupun yang tidak disengaja, penulis menghaturkan ampun dan maaf yang sebesar-besarnya. Semoga Allah membukakan pintu tobat, ampunan, taufiq, hidayah, istiqomah, dan husnul khotiman pada kita sekalian baik bagi penulis maupun pembaca berkat Rasulullah SAW, Syaikhuna Sekumpul, berkat Syekh Ali Al Banjari, dan berkat orang-orang shaleh dulu-sekarang hingga akhir zaman, amin ya Rabbal ‘alamin
SOURCE & WRITER :
Penulis: Muhammad Bulkini Ibnu Syaifuddin
# FolksOfBanjar # # I ’anahAth-Thalibin
# SheikhAli

Rabu, 27 Februari 2019

MAGELI MAKANAN KHAS MARTAPURA




MAGELI  KHAS MARTAPURA

Ada yang tahu jenis kue atau penganan ini? Ya, Mageli, jika mendengar nama makanan khas Banjar ini khususnya Kota Martapura ini tidak semua orang kenal. Namun, jika pernah merasakannya tentu penasaran untuk memakannya lagi.
Kue ini biasanya teman makan ketupat atau sekadar camilan aja. Meski sudah termasuk langka dan jarang ditemukan di Banjarmasin, Mageli ini banyak ditemukan di daerah Martapura, Kebupatian Banjar, Kalimantan Selatan.

Dari berbagai sumber yang didapat
untuk menikmati kuliner ini kurang lengkap kalau tidak menggunakan saus atau sambal. Makanan konon disebut makanan berasal dari jazirah arab.
Bila diperhatikan bentuknya seperti kue atau wadai yang bahan dasarnya dari tepung dan digoreng.
Namun jangan salah, makan satu ini ternyata berbahan dasar dari kacang, Kacang Hijau atau Kacang nagara atau kacang putih (kacang tunggak) merupakan komoditas kacang-kacangan lahan lebak. Bentuknya ada yang dibikin lonjong atau bulatan kecil berwarna kuning dengan teksture agak lembut. Namun, entah bagaimana ceritanya sampai penganan itu dinamakan Mageli.
Cara buat nya susah susah gampang Bahan dasar nya pun bisa pake kacang china (putih) ataupun kacang hijau , Berikut resepnya jika bunda ingin mencoba membuatnya.

Bahan-bahan:
1. 200 gr kacang hijau /kacang putih
2. 2 butir telur
3. 1/2 sdt ketumbar bubuk
4. 100-150 mlair
5. secukupnya gula garam
6. secukupnya kaldu bubuk  ( Royco/ sasa)
7. 5 sdm tepung terigu
8. 1/4 sdt baking powder (optional)
9. Bumbu halus :
10. 4 siung bawang putih
11. 7 siung bawang merah
12. 2 butir kemiri
13. 1 cm kencur (optional)

Langkah:
Haluskan kacang bisa pakai food processor atau blender biasa jangan terlalu halus biarkan begerindil.
Di sini pakai blender biasa jadi ngeblend nya sedikit demi sedikit aja kalau agak susah masukkin air sedikit sama telurnya juga.
Setelah diblender semua campurkan adonan dengan bumbu halus tepung garam gula kaldu dan baking powder aduk rata.
Goreng diminyak panas
Tekstur bulat-bulat tergantung saat menyendokkan ke dalam minyak saat menggorengnya.

#FolksOfBanjar #KulinerKhasBanjar #KulinerKhasMartapura #Mageli #BanjareseCulinary #MartapuraCulinary
#TasteMageli #AsianSnackFood

PERKAWINAN ADAT MELAYU BANJAR



Sekilas Proses Perkawinan Adat Banjar
Berikut akan saya ceritakan sekilas dulu mengenai proses-proses yang mengiringi acara perkawinan dalam adat Banjar. Di tulisan yang lain akan dibahas lebih detail.
Perkawinan adat Banjar dipengaruhi oleh unsur dalam agama Islam, dalam perkawinan Banjar nampak jelas begitu besar penghormatan terhadap posisi wanita. Hal itu merupakan penerapan dari ajaran Islam yang mengemukakan ungkapan “surga itu dibawah telapak kaki ibu” dan kalimat “wanita itu adalah tiang negara”. Acara demi acara yang dilaksanakan semuanya berpusat di tempat atau di rumah pihak calon mempelai wanita, pihak dari keluarga laki-laki yang datang menghormati kepada keluarga mempelai wanita.
Urutan proses yang umum terjadi di kalangan keluarga calon pengantin adalah:
1. Basusuluh (mencari informasi secara diam-diam mengenai riwayat keluarga calon mempelai. Mencari informasi ini bisa melalui berbagai macam cara dan dilakukan secara cerdik)
2. Batatakun (mencari informasi definitif, pencarian ini lebih terbuka melalui kedua pihak keluarga)
3. Badatang (meminang)
4. Maatar Patalian ( memberikan barang-barang antaran kepada pihak mempelai wanita, berupa barang kebutuhan sehari-hari dan perlengkapan kamar tidur)
5. Nikah (ikatan resmi menurut agama)
6. Batatai (proses akhir dari perkawinan Banjar, upacara bersanding/pesta perkawinan)
Ditambah berbagai proses lainnya yang semuanya dilakukan di kediaman mempelai wanita. Karena perkawinan merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup, maka keluarga kedua mempelai berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan kesan dan keistimewaan serta fasilitas kepada kedua mempelai, mereka dilayani bagai seorang raja dan ratu sehingga sering diberi julukan Raja Sahari (raja satu hari)
Proses-proses yang dilakukan sebelum batatai pengantin, yaitu:
1. Manurunakan Pangantin Laki-Laki, Upacara akan dimulai saat pengantin laki-laki mulai turun dari rumahnya menuju pelaminan di rumah mempelai wanita. Proses ini memang terlihat mudah, tetapi sering pada acara inilah terjadi hal-hal yang berakibat fatal bahkan mengakibatkan batalnya seluruh acara perkawinan. Di masa lalu, tidak jarang laki-laki saingan yang gagal memperoleh hati wanita yang akan segera menikah melakukan segala cara untuk menggagalkan pernikahan yang akan segera berlangsung. Mereka berusaha menggagalkan dengan cara halus (gaib) terutama saat ijab kabul tiba. Mempelai laki-laki akan muntah-muntah dan sakit, ada juga yang tidak dapat menggerakkan kakinya untuk melangkah padahal rumah wanitanya sudah didepan mata. Untuk mengantipasi hal ini biasanya para tetuha keluarga memberikan sangu dengan doa-doa khusus. Selain itu saat kaki calon pengantin laki-laki melangkah pertama kali akan didendangkan shalawat nabi dan ditaburi baras kuning.
2. Maarak Pengantin Laki-laki, saat tidak ada lagi gangguan terjadi rombongan pengantar akan bergerak menuju rumah mempelai wanita (dahulu jarak antar rumah calon relatif dekat sehingga warga berjalan kaki beramai-ramai). Kira-kira beberapa puluh meter di depan rumah mempelai, saat inilah berbagai macam kesenian akan ditampilkan. Diantaranya, Sinoman Hadrah, Kuda Gipang, bahkan ada musik Bamban (sejenis Tanjidor Betawi). Mempelai laki-laki yang melewati barisan Sinoman Hadrah akan dilindungi oleh Payung Ubur-Ubur, payung ini akan terus berputar-putar melindungi pengantin sambil rombongan bergerak menuju rumah mempelai wanita.
3. Batatai Pengantin, proses terakhir dalam pesta. Kedua mempelai bertemu dan dipertontonkan di atas mahligai pelaminan disaksikan seluruh undangan yang hadir.
Selain rangkaian proses di atas masih ada beberapa proses perkawinan adat Banjar yang dilakukan oleh keluarga kedua mempelai sebagai penunjang suksesnya hari batatai pengantin.

Source : Kerajaan Banjar Virtual

Selasa, 24 Mei 2016

Kumpulan Pantun Melayu Penuh Nasihat

Ayam disabung jantan dipaut
Jika ditambat kalah laganya
Asam di darat ikan di laut
Dalam belanga bertemu jua

Batang selasih permainan anak
Daun sehelai dimakan kuda
Bercerai kasih bertalak tidak
Seribu tahun kembali juga

Beli cempedak dari juana
Mari dibelah di atas tudung
Jika berhajat menyunting bunga
Jumpa wali di atas gunung
Istana-Maimun-penghuni-medan-873980_800_

Berkurun lama pergi menjauh
Wajah kulihat di dalam mimpi
Kalau dah kasih sesama sungguh
Kering lautan tetap kunanti

Buah kuini jatuh tercampak
Jatuh menimpa bunga selasih
Biar bertahun di lambung ombak
Tidak kulupa pada yang kasih

Burung merbuk membuat sarang
Anak enggang meniti di paya
Tembaga buruk di mata orang
Intan berkarang di hati saya
gerbang-srimersing.jpg

Harum baunya si bunga tanjung
Harumnya sampai ke puncak gunung
Tuan umpama sekaki payung
Hujan panas tempat berlindung

Hujan panas turun berderai
Guruh menyambar pohon jati
Kasih sayang tak boleh bercerai
Bagaikan rambut bersimpul mati

Kain cindai dilipat-lipat
Lipat mari tepi perigi
Kalau pandai Tuan memikat
3-tpuramosque.jpg
Burung terbang menyerah diri

Kalau menyanyi perlahan-lahan
Dibawa angin terdengar jauh
Kalau hati tidak tertahan
Di dalam air badan berpeluh

Kalau tuan pergi ke bendang,
Jangan petik buah rumbia,
Tuan umpama bulan mengambang,
Cahaya meliput serata dunia.

Kalau Tuan pergi ke Jambi
Ambil air untuk jurobatunya
Kalau Tuan hendakkan kami
Bakar air ambil abunya

Laju-laju perahu laju
Lajunya sampai ke Surabaya
Lupa kain lupakan baju
Tetapi jangan lupakan saya

Limau purut lebat di pangkal
Batang selasih condong uratnya
Hujan ribut dapat ditangkal
Hati kasih apa obatnya?

Melepuh kakiku terkena tunggul,
Tunggul besar di tengah padang,
Gelusuh hatiku melihat sanggul,
Sanggul besar berbunga goyang.

Orang berhuma di Pulau Balangan
Asap apinya tabun-menabun
Tuan laksana bunga kayangan
Kuntum kasturi tangkainya embun

Pohon sena cabangnya empat
Mari terbang waktu pagi
Kalau kena dengan makrifat
Burung terbang menyerah diri

Sayang Laksamana mati dibunuh
Mati dibunuh Datuk Menteri
Tuan umpama minyak yang penuh
Sedikit tidak tertumpah lagi

Sayang pelanduk
di luar pagarMati ditembak patah kakinya
Tujuh tahun gunung terbakar
Baru sekarang nampak apinya

Tajam tubuh si buah gading
Hendaklah ikat bersama tali
Hancur luluh tulang dan daging
Namun kulupa tidak sekali

Tebang gelam tebang kenanga
Batang tumbang menimpa gedung
Kumbang mengidam nak seri bunga
Bunga kembang di puncak gunung

Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa karena emas
Hilang budi karena miskin

Anak merak Kampung Cina
Singgah berhenti kepala titi
Emas perak kebesaran dunia
Budi bahasa tak dapat dicari

Angin kencang turunlah badai 
Seumur hidup cuma sekali 
Tunduk kepala jatuh ke lantai 
Jari sepuluh menjunjung duli
 
Berbuah lebat pohon mempelam 
Rasanya manis dimakan sedap 
Bersebarlah adat seluruh alam 
Adat pusaka berpedoman kitab

Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi karena karat
Hina manusia tidak berbudi

Gadis Aceh berhati gundah 
Menanti taruna menghulur tepak 
Gula manis sirih menyembah 
Adat dijunjung dipinggir tidak

Ikan berenang di dalam lubuk 
Ikan belida dadanya panjang
Adat pinang pulang ke tampuk 
Adat sirih pulang ke gagang
 
Air melurut ke tepian mandi
Kembang berseri bunga senduduk
Elok diturut resmi padi 
Semakin berisi semakin tunduk

Angin teluk menyisir pantai 
Hanyut rumpai di bawah titi
Biarlah buruk kain dipakai 
Asal pandai mengambil hati

Dalam semak ada duri 
Ayam kuning buat sarang
Orang tamak selalu rugi 
Macam anjing dengan baying

Dayung perahu tuju haluan 
Membawa piring bersama rempah
Kalau ilmu tidak diamalkan
Ibarat pohon tidak berbuah 

Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa karena emas
Hilang budi karena miskin

Anak merak Kampung Cina
Singgah berhenti kepala titi
Emas perak kebesaran dunia
Budi bahasa tak dapat dicari

Angin kencang turunlah badai 
Seumur hidup cuma sekali 
Tunduk kepala jatuh ke lantai 
Jari sepuluh menjunjung duli
 
Berbuah lebat pohon mempelam 
Rasanya manis dimakan sedap 
Bersebarlah adat seluruh alam 
Adat pusaka berpedoman kitab

Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi karena karat
Hina manusia tidak berbudi

Gadis Aceh berhati gundah 
Menanti taruna menghulur tepak 
Gula manis sirih menyembah 
Adat dijunjung dipinggir tidak

Ikan berenang di dalam lubuk 
Ikan belida dadanya panjang
Adat pinang pulang ke tampuk 
Adat sirih pulang ke gagang 

Air melurut ke tepian mandi
Kembang berseri bunga senduduk
Elok diturut resmi padi 
Semakin berisi semakin tunduk

Angin teluk menyisir pantai 
Hanyut rumpai di bawah titi
Biarlah buruk kain dipakai 
Asal pandai mengambil hati

Dalam semak ada duri 
Ayam kuning buat sarang
Orang tamak selalu rugi 
Macam anjing dengan baying

Dayung perahu tuju haluan 
Membawa rokok bersama rempah
Kalau ilmu tidak diamalkan
Ibarat pohon tidak berbuah

Encik Dollah pergi ka Jambi
Pergi pagi kembali petang
Kalau Tuhan hendak membagi 
Pintu berkancing rezeki datang

Lagu bernama serampang laut
Ditiup angin dari Selatan
 Layar dikembang kemudi dipaut 
Kalau tak laju binasa badan

Orang haji dari Jeddah 
Buah kurma berlambak-lambak
Pekerjaan guru bukanlah mudah 
Bagai kerja menolak ombak

Padi segemal kepuk di hulu 
Sirih di hilir merekap junjungan
Kepalang duduk menuntut ilmu
Pasir sebutir jadikan intan.

Masuk hutan berburu musang 
Musang mati dijerat orang
Macam mana hati tak bimbang 
Ayam di sangkar disambar elang

Pisau raut hilang di rimba
Pakaian anak raja di Jeddah
Karam di laut boleh ditimba
Karam di hati bilakah sudah

Apa guna kepuk di ladang
Kalau tidak berisi padi 
Apa guna keris di pinggang 
Kalau tidak berani mati 

Anak Cina bersampan kotak 
Muatan sarat dengan ragi
 Biar retak bumi kupijak 
Kamu takkan kulepaskan lagi

Kalau mengail di lubuk dangkal 
Dapat ikan sepenuh raga 
Kalau kail panjang sejengkal 
Jangan lautan hendak diduga

Limau bentan di tepi tingkap 
Anak-anak melempar burung 
Harimau di hutan lagi kutangkap 
Inikan pula cicak mengkarung 

Orang menyeberang gunakan titi
Titi dibuat tinggi di atas
 Dalam telur lagikan dinanti 
Inikan pula sudah menetas

Ada seekor burung belatuk 
Cari makan di kayu buruk 
Tuan umpama ayam pungguk 
Segan mencakar rajin mematuk

Asam kandis asam gelugur 
Ketiga asam si riang-riang 
Menangis mayat di pintu kubur 
Teringat jasad tidak sembahyang

Jumat, 29 April 2016

Kerajaan Banjar,Selaparang,Taliwang,Sumbawa Dan Bima Adalah Serumpun

-Azmirza Network

Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin, dalam pemerintahan Pangeran Ratu sempat menjalin hubungan bilateral dengan Kerajaan Selaparang melalui ikatan perkawinan Raden Subangsa ( Raden Marabut ) putera dari Pangeran Martasinga yang dinikahkan dengan Mas Surabaya puteri dari Raja Selaparang. Pasangan ini dianugerahi seorang putera bernama Raden Mataram. Mas Surabaya kemudian meninggal dunia. Kemudian Raden Subangsa dinikahkan oleh Raja Selaparang dengan puterinya Mas Panghulu yang tinggal di Sumbawa ( Sumbawa Besar ).

 Pasangan ini memperoleh putera yang bernama Raden Bantan. Raden Subangsa oleh orang Selaparang dan orang Sumbawa ( Sumbawa Besar) digelari Pangeran Taliwang ( Datu Taliwang ), karena ibu Raden Mataram itu berdiam di negeri Taliwang. Ketika di Tanah Banjar dahulu, Raden Subangsa telah memperoleh tiga puteri yaitu Gusti Yada, Gusti Tika dan Gusti Pika. Raden Subangsa merupakan saudara lain ibu dengan Pangeran Singamarta ( Dipati Singamarta).

Kabar berita tentang keadaan Raden Subangsa diketahui di masa pemerintahan Sultan Rakyatullah (1660-1663) yang dibawa oleh Raden Subantaka yang dahulu disuruh memperisterikan Raden Subangsa ke Selaparang. Raden Subantaka itu paman dari Pangeran Singamarta. Pangeran Singa-Marta adalah Menteri Besar yang pernah diutus raja Banjar kepada Kesultanan Bima pada tahun 1701. Di negeri kesultanan Bima, Pangeran Singa-Marta menikahi puteri dari Adipati Thopati Tlolouang. Raden Subangsa merupakan saudara sesusu dengan Raden Kasuma Lalana/Pangeran Dipati Anom II/Sultan Agung.

Pangeran Dipati Anom II inilah yang menyuruh memperisterikan Raden Subangsa ke Selaparang dan demikian juga sanak-saudaranya yang lain juga dinikahkan dengan putera/puteri kerajaan lain. Pada tahun 1618, Kesultanan Gowa menaklukan kerajaan-kerajaan di Sumbawa Barat kemudian dipersatukan dengan Kerajaan Selaparang. Pada tahun 1673 pusat kerajaan dipindahkan oleh VOC-Belanda dari pulau Lombok ke Sumbawa untuk memusatkan kekuatan. Pada tahun 1674, perjanjian Kesultanan Sumbawa dengan VOC yang isinya bahwa Sumbawa harus melepaskan Selaparang, setelah lepasnya Selaparang dari Sumbawa kemudian VOC menempatkan regent dan pengawas. Kerajaan Selaparang mulai mengalami kemunduran pada tahun 1691 dan akhirnya runtuh pada 1740 karena kekalahannya dalam perang melawan Kerajaan Karangasem.

Sejarah Sumbawa mencatat bahwa dominasi Sultan Sumbawa yang keturunan Bugis-Makasar digantikan oleh sultan dari keturunan raja Banjar. Permulaan keturunan raja Banjar menjadi sultan Sumbawa yaitu, Gusti Mesir Abdurrahman yang bergelar Sultan Muhammad Jalaluddin Syah II (1762-1765). Beliau diangkat menjadi sultan kedelapan Sumbawa karena beliau telah memperistrikan cucunda dari Sultan Jalaluddin Muhammad Syah I (1702-1723), Datu Bonto Raja.

Silsilah Raja dari keturunan Banjar mendominasi Kesultanan Sumbawa. Meskipun juga, Datu Seran ( Raja negeri Seran ) dan anaknya sempat menjadi Sultan Sumbawa, namun dilanjutkan kembali oleh dinasti Gusti Mesir Abdurrahman sampai kesultanan di Sumbawa berakhir tahun 1958.

Source : Google dan beberapa sumber lainnya

Rabu, 06 April 2016

LEGENDA NISAN BERLUMUR DARAH CERITA RAKYAT MARTAPURA KALIMANTAN SELATAN

nisanberlumurdarah-azmirz.jpg <
×

LEGENDA NISAN BERLUMUR DARAH
CERITA RAKYAT MARTAPURA KALIMANTAN SELATAN

Alkisah .... Syahdan bermula....

Dahulu kala ada cerita tentang dua kekasih yang mempunyai kisah percintaan yang sungguh tragis.

Cerita langkapnya sebagai berikut : Mashor adalah pemuda yang bertempat tinggal di desa yang sekarang sekitar Pekauman dan teluk selong. Mashor berasal dari keluarga yang miskin, tetapi dia mempunyai pendidikan agama yang tinggi dan budi akhlaknya tinggi. Dia mempunyai keahlian membaca Al-Quran yang sangat indah didengar. Mashor sebagai orang yang tidak mampu ikut bekerja di rumah Fatimah sebagai pembantu.

Fatimah merupakan gadis dari keluarga sangat kaya (Saudagar Intan) Mereka tinggal disebarang desa Mashor, mungkin sekarang daerah Kampung Melayu. Orang tuanya merupakan pedagang yang mempunyai hubungan dagang keluar daerah. Terutama daerah Singapura dan Malaysia.

Mashor sebagai pembantu mempunyai banyak pekerjaan yang harus dilakukannya seperti menimba air, memotong kayu, dan lain-lain. Hari demi hari, bulan demi bulan itu saja yang dilakukannya untuk membiayai hidup dan orang tuanya. Selama beberapa tahun

Mashor bekerja dirumah saudagar kaya itu, membuat Fatimah secara tidak sadar jatuh cinta kepada Mashor, begitu juga sebaliknya. Tetapi karena adat Melayu Banjar yang menjaga ketat pertemuan antara perawan dengan bujang membuat hubungan mereka tidak diketahui oleh keluarga.

Mashor sadar percintaan mereka pasti akan ditentang oleh keluarga Fatimah yang memegang adat keluarga. Mereka hanya akan menikahkan anak gadisnya

hanya dengan orang yang sederajat dan mempunyai hubungan keluarga bangsawan dan pasti tentu harus pilihan keluarga. Tetapi Cinta di hati tidak bisa menolaknya.

Tidak lama kemudian hubungan mereka mulai diketahui orang tua Fatimah. Betapa marahnya orang tua Fatimah mengetahui hal demikian. Mereka

memutuskan untuk menjauhkan Mashor dari Fatimah dengan menugaskan Mashor menjaga kebun karet dan ladang keluarga Fatimah di seberang sungai.

Kebun karet ini berada jauh dari rumah Fatimah, menujunya hanya bisa dengan perahu jukung karena melewati sungai yang kecil. Mashor di berikan pondok kecil untuk berteduh dan melakukan

kegiatan sehari-hari. Setiap hari dia bekerja merawat kebun karet tersebut. Setiap hasil karet hanya orang suruhan keluarga Fatimah saja yang

mengambilnya. Dia tidak diberikan kesempatan untuk ke rumah sang Majikan. Fatimah mengetahui kabar Mashor hanya dengan meminta keterangan acil ijah, pembantu yang sering mengatarkan beras buat Mashor.

Suatu hari ada orang kaya bernama Muhdhar yang masih ada hubungan keluarga dengan Fatimah badatang (melamar) ke rumah Fatimah dengan menggunakan satu buah kapal yang sangat besar sesuai dengan derajat kekayaan orang tersebut. Niat Muhdhar disambut baik oleh keluarga Fatimah, mereka

sepakat untuk mengadakan perkawinan besar-besaran. Hal ini tidak menjadi beban bagi Muhdhar karena kakayaannya. Fatimah sangat menentang niat orang tuanya yang menjodohkannya dengan Muhdhar. Dia kenal betul perangai

Muhdhar. Walaupun kaya tetapi dia tidak mempunyai budi pekerti dan ilmu agama sebaik Mashor. Tetapi dia harus menjalankan dua pilihan yang sangat berat. Di satu sisi dia mempunyai pilihan dan cinta yang diyakininya membawa kebahagian di dunia dan di akhirat yaitu hidup bersama Mashor. Di satu sisi dia harus mengikuti perintah orang tuanya, dia sadar menyakiti hati orang tua adalah perbuatan yang derhaka. Akhirnya Fatimah pasrah terhadap perjodohan ini. Perjodohan yang dilandasi oleh harta, hubungan keluarga bukan oleh Cinta. Mashor yang berada jauh tidak mengetahui perjodohan ini. Semuanya yang datang ke lampau (gubuk) Mashor bekerja selalu menutupinya. Mereka tidak ingin dipecat Tuannya jika menceritakan hal tersebut. Akhirnya acara pernikahan di mulai, Muhdhar datang dengan beberapa kapal besar yang membawa Hantaran atau jujuran. Ada kapal yang membawa isi kamar lengkap, ada kapal yang membawa perhiasan emas dan batu permata, ada kapal yang membawa pakaian wanita yang sangat indah-indah. Bagi mereka semua itu hal biasa, karena bisnis dagang keluarga ini ke Singapura,Malaysia berupa Intan,batu permata dan kain. Mereka mempunyai banyak pelanggan di Singapura dan Malaysia Pada zaman tersebut sungai Martapura digunakan sebagai jalur perdagangan. Kapal-kapal besar pedagang Martapura sering berangkat membawa barang dagangan ke Pulau Jawa dan Sumatera hingga Singapura dan Malaysia. Sesuai dengan jalur perdagangan dunia antara Malaysia dan pulau Sumatera. Pada malam harinya ketika semua kelelahan. Muhdhar dan Fatimah tidur di kamar penganten. Belum sempat malam pertama itu terjadi ternyata rumah Fatimah terbakar akibat api dapur lupa di matikan. Muhdhar lari keluar dengan segera tanpa memperdulikan Fatimah. Api semakin membesar Fatimah terjebak di dalamnya. Mashor yang belum tidur melihat dari kejauhan warna merah di langit yang menadakan kebakaran. Dia yakin kebakaran itu berada di rumah Fatimah. Tanpa peduli aturan majikannya yang tidak memperbolehkannya mendekati rumah dia langsung berlari mengambil jukung (sampan). Setelah sampai di rumah Fatimah dia diberitahu bahwa Fatimah terjebak di dalamnya. Dengan kekuatan Cintanya dia terobos api dan menemukan Fatimah pingsan karena terlalu banyak menghirup asap. Dia angkat Fatimah melewati api yang besar. Dengan badannya dia melindungi Fatimah dari api dan kayu rumah yang berjatuhan. Setelah dia bawa keluar Mashor disambut Muhdhar dengan merebut Fatimah dari pangkuan Mashor. Dengan demikian Mashor akhirnya mengetahui perkawinan tersebut. Belum sempat dia mendapatkan penjelasan, Mashor pingsan karena terlalu banyak luka bakar yang dialaminya. Keluarga Fatimah memerintahkan agar mashor dirawat kembali di gubuknya tempatnya bekerja. Dan menginginkan agar peristiwa heroic ini jangan sampai diketahui Fatimah. Subuh harinya mashor tidak bisa bertahan. Dia meninggal karena luka yang terlalu parah. Setelah sholat dzuhur dia dimakamkan di daerah perkebunan karet tersebut. Atau tepatnya sekarang berada di desa Tungkaran. Makam Mashor sederhana dengan nisan terbuat dari kayu ulin. Untuk mencegah babi hutan,kuburannya juga dipagar paring (bambu) Semuanya berada di pemakaman, baik teman-teman Mashor maupun keluarga Fatimah. Tetapi Fatimah tidak mengetahui kematian ini. Dia masih lemah di kamar rumah Muhdhar. Dia masih bertanya di dalam hati bagaimana dia bisa selamat, suaminya sendiri meninggalkannya saat kebakaran itu terjadi. Sewaktu malam hari pertanyaan itu di keluarkannya pada acil ijah yang sejak kecil merawatnya. Acil ijah tahu betul perasaan Fatimah kepada Mashor. Karena tidak dapat mendustai tuannya yang sejak kecil dia pelihara tersebut akhirnya dia ceritakan peristiwa kebakaran itu. Fatimah yang sangat rindu Mashor akhirnya menanyakan keberadaan Mashor. Dengan sangat hati-hati acil ijah menceritakan kematian Mashor dan memberitahukan letak kuburannya. Dia berjanji menemani Fatimah besok untuk ziarah ke kuburan Mashor. Fatimah Sangat terpukul hatinya mengetahui pemuda yang melindungi dan dicintainya telah tiada. Menangislah Fatimah sejadinya. Setelah semua orang terlelap tidur, jam 3 subuh tanpa sepengetahuan yang lain Fatimah keluar rumah. Dia tidak dapat menyimpan perasaan rindu dan dukanya. Tanpa menunggu siang dia bertekad harus menemukan kekuburan mashor. Dia tidak yakin kekasihnya sudah meninggal jika tidak menemukan kuburannya langsung. Dia seberangi sungai Martapura dan berjalan menyisir jalan setapak. Dia masih ingat letak kebun karet keluarganya ketika ayahnya pernah mengajak sewaktu kecil. Malam itu hari hujan dengan deras tetapi tidak menyurutkan hati Fatimah, di dalam hatinya hanya ada satu nama Mashor. Dipikirannya hanya ada satu wajah Mashor pemuda yang sangat mengerti dirinya. Setelah tiba di kebun karet keluarganya, Fatimah tanpa sadar dan mungkin karena ilusi yang muncul karena obsesinya bertemu mashor, dia melihat Mashor berdiri tersenyum kepadanya ditengah rintikan hujan. Tanpa berpikir panjang Fatimah berlari ingin memeluk tubuh kekasihnya melepaskan segala kerinduannya. Fatimah menabrak tubuh lelaki itu hingga terjatuh tanpa disadari pagar yang terbuat dari bambu yang melindungi kuburan Mashor menusuk tubuh Fatimah tepat di dadanya. Darah mengucur dan menetes di atas kubur Mashor dan melumuri nisannya. Fatimah meninggal dengan senyum dia yakin menemukan cintanya.

SELESAI

Selasa, 05 April 2016

Jadwal Haul Para Tokoh Ulama & Habaib Di Kalimantan Selatan

haul3.jpg

JADWAL HAUL TOKOH ULAMA & HABAIB DI KALIMANTAN SELATAN ------------------------------------------------------ - BANJARMASIN : 1. Sultan Surian Syah (Sultan Banjar Pertama): 12 Rabiul Awal / 24 Des 2015 & 12 Des 2016 2. Habib Hamid bin Abbas Bahasyim ( Habib Basirih ) : 18 Jumadil Awal / 27 Feb 2016 3. Tuan Sheikh Mufti Haji Jamaluddin Al-Banjary ( Surgi Mufti ) : 8 Muharram / 21 Okt 2015 / 21 Okt 2016 4. Tuan Guru Sheikh Muhammad Amin bin Ya'qub ( Datuk Amin Benua Anyar ) : 30 Syawal / 30 Juli 2016 5.Tuan Guru Haji Ahmad Bakeri ( Guru Bakeri ) : 20 Rabiul Awal 6. Tuan Guru Haji Muhammad ( Ayahanda Tuan Guru Ahmad Zuhdiannor / Guru Zuhdi : 17 Muharram ------------------------------------------------------ - Kab.Banjar ( Martapura ) : 1. Datuk Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjary ( Datuk Kelampayan )(Pengarang Kitab Sabil Al-Muhtaddin) : 6 Syawal / 11 Juli 2016 2. Datuk Sheikh Abdul Hamid ( Datuk Abulung ) : 12 Dzulhijjah / 26 Sept 2015 & 14 Sept 2016 3. Tuan Guru Sheikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjary ( Tuan Guru Sekumpul ) : 5 Rajab / 10 April 2016 4. Tuan Guru Sheikh Muhammad Kasyful Anwar bin Ismail Al-Banjary ( Guru Kasyful ) : 18 Syawal / 23 Juli 2016 ------------------------------------------------------ - BANJARBARU : 1. Sharifah Badrun binti Syed Yusuf Al-Qodiry Al-Hasani ( 29 Syawal / 3 Agustus 2016 ------------------------------------------------------ - Kab Barito Kuala: 1.Datuk Sheikh Haji Muhammad Abdusshamad Al-Banjary ( Datuk Bakumpai ) : 13 Safar / 25 Nov 2015 / 13 Nov 2016 ------------------------------------------------------ - Kab. TAPIN : 1. Datuk Sheikh Muhammad Abdush Shamad ( Datuk Sanggul ) : 28 Dzulhijjah / 12 Okt 2015 & 30 Sept 2016 2. Datuk Sheikh Abdul Mu'in ( Datu Nuraya Padma Tunggal ) : 15 Dzulhijjah / 29 Sept 2015 / 17 Sept 2016 3. Datuk Suban : 14 Syawal / 21 Mei 2016 4. Datuk Sheikh Shalman Al-Farisi ( Datuk Gadung ) : 9 Dzulhijjah / 23 Sept 2015 / 11 Sept 2016 ------------------------------------------------------ - Kab.Hulu Sungai Selatan : 1. Datuk Sheikh Haji. Sa'dudin ( Datuk Taniran ) : 5 Safar / 17 Nov 2015 / 5 Nov 2016 2. Al-Habib Ibrahim Al-Habsyie : 14 Safar / 26 Nov 2015 / 14 Nov 2016 3. Datuk Muhammad Thaher bin H. Syahbuddin ( Datuk Daha ) : 10 Syawal / 15 Juli 2016 ------------------------------------------------------ Kab.Hulu Sungai Tengah : 1. Tuan Guru Haji Muhammad Ramli ( Wali Katum ) : 29 Sya'ban / 4 Juni 2016 2. Tuan Guru Haji Ahmad Mughnie Ayahanda Daripada Tuan Guru Haji Mohd Bakheit Barabai 12 Dzulhijjah / 14 Sept 2016 ------------------------------------------------------ Kab.Hulu Sungai Utara: 1. Sheikh Abdurrasyid ( Pendiri Pondok Pesantrian Rakha Desa Pekapuran ) : 12 Syawal / 17 Juli 2016 2. Tuan Guru Haji Ahmad Riduan ( Guru Lok Bangkai ) : 12 Sya'ban / 19 Mei 2016 ------------------------------------------------------ - Kab.Tabalong: 1. Datuk Sheikh Muhammad Nafis bin Idris Al-Banjary (Datuk Nafis) Pengarang Kitab Ad-Durrun Nafis : 14 Rabiul Akhir / 24 Jan 2016 ------------------------------------------------------ - Kab.Balangan: 1. Datuk Kandang Haji : 17 Rabiul Akhir / 27 Jan 2016 ------------------------------------------------------ Kab. Tanah Laut: 1. Habib Muhammad bin Abdullah Al-Athas : 11 Shafar / 23 Nov 2015 & 11 Nov 2016 2. Datuk Insad : 5 Rabiul Awal / 17 Des 2015 & 5 Des 2016 ------------------------------------------------------ - Kab. Tanah Bumbu : 1. Syarifah Hajjah Aminah binti Al-Habib Salim Assegaff ( Ibu Ifah Kuning ) : 7 Jumadil Awal / 16 Feb 2016 2. Habib Mushaffa Ahmad bin Al-Habib Shaleh Al-Aydrus : 11 Rabiul Akhir / 21 Jan 2016 3. Sheikh Muhammad Riduan Shaleh : 3 Jumadil Akhir / 12 Maret 2016 4. Habib Mukhtar bin Habib Husein Al-Aydrus : 24 Jumadil Awal / 4 Maret 2016 5. Syarif Ali bin Pangeran Syarif Abdurrahman Al-Aydrus : 7 Syawal / 12 Juli 2016 6. Mufti Haji Muhammad Arsyad Lamak bin Mufti Haji Muhammad As'Ad Al-Banjary ( Kubah Pagatan ) : 23 Rabiul Awal / 4 Jan 2016 & 23 Des 2016 7.Habib Muhammad bin Ali Al-Aydrus (Habib Mancung) : 14 Dzulqaidah / 17 Agustus 2016 8. Habib Mustafa bin Pangeran Syarif Ali Al-Aydrus : 27 Jumadil Awal / 7 Maret 2016 9. Habib Usman bin Segaf Al-Aydrus : 27 Jumadil Awal / 7 Maret 2016 10. Habib Alwy bin Syarif Umar Al-Aydrus : 8 Rabiul Awal / 20 Des 2015 / 8 Des 2016 11. Habib Husein bin Syarif Umar Al-Aydrus : 10 Sya'ban / 17 Mei 2016 ------------------------------------------------------ - Kab.Kota Baru : 1. Syarif Umar bin Pangeran Syarif Ali Al-Aydrus : 21 Sya'ban / 28 Mei 2016 2. Syarif Alwy bin Al-Habib Hasan Al-Aydrus : 27 Rajab / 5 Mei 2016 3. Tuan Guru Sheikh Muhammad Dahlan ( Guru Cantung ) : 25 Rabiul Awal / 6 Jan 2016 & 25 Des 2016 4. Sheikh Qusyairin Iman Shah: 7 Dzulqaidah / 10 Agustus 2016 ------------------------------------------------------
* WAKTU PELAKSANAAN HAUL BESAR DITENTUKAN OLEH PANITIA PELAKSANA, SEHINGGA PELAKSANAAN HAUL BISA BERBEDA DENGAN TANGGAL WAFATNYA.
* Semoga dengan adanya tulisan ini, Jadwal Haul Para Tokoh Agama, Habaib dan Ulama Kalimantan Selatan ini, akan lebih memudahkan kita untuk mengingat dan mempersiapkan diri untuk berhadir di acara Haul-haul beliau-beliau nantinya  Semoga ada berkahnya untuk kita semua. Aamiin Allahumma Aamiin

SILAHKAN DI SAVE / SHARE - SEMOGA BERKAH & BERMANFAAT UNTUK KITA SEMUA. AAMIIN.

N/B: Apabila ada Tokoh, Habaib atau Ulama yang tidak terjadwal di atas Agar kiranya memberitahukan Nama lengkap beliau, Tanggal Haulnya beserta Daerahnya. Insya Allah nanti akan kami tambahkan di daftar. Afwan 

Minggu, 03 April 2016

Inilah Kekejaman Raja-Raja Di Nusantara

Inilah Daftar Kekejaman Raja-raja di Nusantara Raja-raja Nusantara ini melakukan kekejaman, mulai dari minta disembah oleh kaum brahmana, sampai membantai ribuan ulama.

Sejarah kerajaan di Nusantara tidak hanya berisi catatan soal kebesaran dan jatuh bangunnya raja-raja mereka. Tidak semua raja-raja tersebut mampu berlaku adil dan bijaksana. Kekuasaan absolut menjadi ajang mempertunjukkan kelaliman. Berikut ini raja-raja dan kekejamannya yang pernah tercatat dalam sejarah Nusantara.

Kertajaya Memaksa Brahmana untuk Menyembahnya

Raja Kediri Kertajaya alias Dangdang Gendis (memerintah 1194-1222) menyatakan diri sebagai dewa dan memerintahkan rakyat dan para pemuka agama menyembahnya. Kelakuannya tak seperti leluhurnya, Airlangga, pendiri kerajaan Kahuripan, yang terkenal karena toleransi beragama antara Budha dan Hindu. Tak terima kelaliman Kertajaya, banyak kaum brahmana melarikan diri.

“Para brahmana yang berpengaruh lari ke timur untuk beraliansi dengan Ken Arok, perebut tahta dari Janggala,” tulis Ann R. Kinney dalam Worshipping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java. Perang besar terjadi pada 1222, pasukan Kertajaya kalah. Ken Arok lalu mendirikan Kerajaan Singasari sembari meneruskan tradisi toleransi beragama Kediri. (Baca: Siapa Sebenarnya Ayah Ken Arok?)

Kertanegara Mengiris Telinga Duta Mongol

Tahun 1289, datanglah rombongan utusan Kubilai Khan dari Tiongkok ke tanah Jawa untuk menemui raja Singasari, Kertanegara (memerintah 1268-1292). Utusan itu meminta upeti dari Jawa sebagai bukti tunduk. Salah satu dari mereka, Meng Khi, menghadap raja. Sebagai jawabannya kepada Kubilai Khan, Kertanegara memotong telinga dan hidung Meng Khi dan mengusir rombongan itu pulang. Tak terima, pada 1292 Kubilai Khan mengirim ekspedisi ke Jawa dengan seribu kapal dan 20.000 prajurit untuk menghukum Singasari. Namun Kertanegara keburu dibunuh oleh bawahannya dari Kediri, Jayakatwang.

Di kutip dari tulisan : Rahadian Rundjan

Aceh Dan Ottoman Dalam Koin Emas

koin-emas-aceh.jpg

Aceh-Ottoman dalam Koin Emas Penemuan koin emas bertuliskan nama Sultan Aceh dan Sultan Ottoman menandakan hubungan antara kedua kerajaan Islam itu.

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~• RATUSAN keping koin emas kuno peninggalan Kesultanan Aceh ditemukan penduduk di Gampong Pande, Aceh, pada 11 November 2013. Beberapa koin bertuliskan nama Alaudin Riayat Syah Al-Kahar, sultan Aceh, berdampingan dengan Sulaiman I, sultan Ottoman Turki. Penemuan ini bukti penting yang menegaskan hubungan diplomatik antara Aceh dan Ottoman sejak abad ke-16.

Sultan Al-Kahar adalah Sultan Aceh ketiga yang berasal dari Dinasti Meukuta Alam, dinasti pendiri Kerajaan Aceh. Dia berkuasa antara tahun 1537 sampai 1571. Pada masanya, Aceh menjadi kekuatan politik dan ekonomi yang dominan di Sumatra dan Semenanjung Malaka.

Portugis, yang menguasai Malaka sejak tahun 1511, menjadi rival Aceh dalam meluaskan pengaruhnya di Selat Malaka, baik dalam konteks politik maupun ekonomi. Karena itu, Aceh menjalin kontak dengan Kesultanan Ottoman untuk menjajaki kerjasama menghadapi Portugis.

“Setelah tumbuh menjadi lebih besar dari sebelumnya, Kesultanan Ottoman menjelma menjadi tempat bagi kerajaan-kerajaan Islam di Timur (India dan Kepulauan Nusantara) yang baru berkembang menaruh harapan dalam menghadapi Portugis,” tulis Giancarlo Casale dalam The Ottoman: Age of Exploration.

Utusan Aceh kali pertama datang ke Istanbul pada 1562. Mereka meminta bantuan senjata berupa meriam. Terkesan dengan utusan Aceh ini, sultan yang berkuasa saat itu, Sulaiman I, mengirimkan meriam beserta teknisinya serta seorang diplomat bernama Lutfi Bey.

Kedatangan Lutfi Bey ke Aceh menjadi penting karena berdasarkan laporannya, orang-orang Turki menjadi paham posisi strategis Aceh sebagai pusat perdagangan dan garis terdepan umat Islam dalam menghadapi Kristen Portugis di Nusantara. Aceh sendiri antusias menjadi bawahan Kesultanan Ottoman.

“Surat diplomatik yang Lutfi Bey bawa ketika dia kembali ke Istanbul pada 1566, menyatakan bahwa Sultan Al-Kahar tidak lagi ingin sekadar meminta senjata kepada Sultan Sulaiman I. Tidak pula ingin menjalin hubungan politik antar dua kerajaan yang berdiri sama sejajar. Melainkan dia ingin agar dirinya dan negerinya, Aceh, diperintah secara langsung oleh Sultan Sulaiman I sebagai ganti bantuan Ottoman dalam menghadapi Portugis,” lanjut Casale.

Antusiasme Aceh ditanggapi positif oleh Sultan Sulaiman I sebelum akhirnya dia mangkat dan digantikan Sultan Selim II. Dia memerintahkan angkatan lautnya untuk mengirim armada sebanyak 15 kapal layar ke Aceh yang bermuatan prajurit, penasehat militer, teknisi meriam, juga tukang-tukang seperti penambang, pandai besi, dan pandai emas.

Sayangnya, armada yang dijadwalkan tiba di Aceh pada 1568 terpaksa mengalihkan perjalanan ke Yaman, Arab Selatan, untuk memadamkan sebuah pemberontakan. Hanya dua buah kapal yang tiba di Aceh tanpa membawa senjata. Kedua kapal itu membawa sekelompok pedagang dan teknisi meriam, yang tidak cukup untuk memuluskan rencana Sultan Al-Kahar menyerang Portugis di Malaka pada 1570.

Penambangan dan penempaan bijih besi bukan barang baru di Aceh. Sejak zaman Samudra Pasai pada abad ke-14, timah dan emas telah ditemukan, bahkan dijadikan satuan mata uang dengan ukiran nama raja yang berkuasa di kedua sisinya. Mereka menempa mata uang timah yang bernama cash dan mata uang dari emas yang bernama mas. Sistem ini kemudian diadopsi raja-raja Aceh.

Menurut Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Sultan Al-Kahar-lah yang memperkenalkan mata uang Aceh pertama, yakni dirham.

“1 pardew (mata uang Portugis yang ditempa di Goa, India) sama dengan 4 dirham Aceh,” tulis Lombard. “Namun nilai mata uang itu sendiri sering mengalami perubahan yang besar sekali. Para penjelajah selalu memberi nilai yang berbeda-beda, kadang-kadang bahkan dalam jarak waktu yang hanya beberapa bulan.”

Nama Sultan Sulaiman I yang terukir bersanding dengan Sultan Al-Kahar dalam beberapa koin emas Aceh merupakan bukti pengakuan Kesultanan Aceh atas kekuasaan Kesultanan Ottoman sebagai pemegang inti dunia Islam saat itu. Nama Sultan Ottoman juga selalu disebutkan dalam tiap khotbah Jumat...

Sabtu, 02 April 2016

Rumah Peninggalan Gusti Kacil Di Pulau Bangka

gusti-kacil1.jpg
Rumah peninggalan Gusti Kacil di Pulau Bangka
Di dalam buku sejarah Banjar tersebut sebuah nama Pangeran Muda (Pangeran Moeda). Sedangkan dalam kitab para raja yang memerintah negeri Banjar, yang disusun oleh H. Mahmud Siddik bin Syekh Abdurrahman Shiddiq di Keraton Kuin Banjar, tertulis nama Gusti Mas Muda dengan gelar Gusti Kacil.

Siapakah Gusti Kacil? Zuriat keturunan dari sebelah ibu Pangeran Dungking bin Pangeran KH. Dipasanta sampai seterusnya zuriat ke atas bersambung ke Syekh Muhammad Arsyad Al- Banjary. Pangeran KH. Dipasanta wafat di Padang sewaktu membantu Imam Bonjol dalam Perang Padri. Penulis kitab Syajarah al Arsyadiyyah Syekh Abdurrahman Siddik (Mufti Kerajaan Indragiri) pernah belajar ilmu agama dengan pamannya H. Muhammad As'ad, keturunan Pangeran KH Dipasanta di Padang.

Sedangkan dari sebelah ayah Gusti Kacil zuriat keturunan Pangeran Surianata beristrikan Putri Junjung Buih. Gusti Kacil dilahirkan di Martapura 1825. Gusti Kacil memiliki dua saudara yakni Gusti Ismail dan Gusti Mustopa.

Silsilah Gusti Kacil sebagai berikut: Gusti Kacil bin Gusti Muhammad Yusuf bin Gusti Ahmad. Leluhur Gusti Kacil adalah Pangeran Antasari putra Sultan Takhlilullah bin Sultan Sa'idullah.

Pangeran Muda atau Pangeran Mas Muda dengan gelar Gusti Kacil pernah memangku jabatan penting saat pergolakan Perang Banjar.

Pada rapat besar di Kandangan pada tahun 1859 yang dipimpin oleh Pangeran Hidayatullah dan didampingi oleh Aminullah, Demang Leman dan Temanggung Jalil, Gusti Kacil dipercaya sebagai pimpinan wilayah Martapura.

Beberapa pimpinan wilayah lainnya adalah H Sambas (Pengaron), H Buyasin (Batu Tungku), Tumenggung Tambunau/Antaludin dan Kiai Cakrawati (Amandit), Demang Leman (Batang Alai), Tumenggung Jalil (Balangan). Sementara pucuk pimpinan Pangeran Antasari berkedudukan di Tabalong mencakup Tanah Dusun.

Pada rapat besar itu pula lahir keputusan untuk membuat benteng pertahanan di Gunung Madang, yang dibantu oleh sejumlah punggawa.

Sebelum Gusti Kacil memangku jabatan teras di Kesultanan Banjar di Martapura banyak Pangeran/Sultan dan perangkat Kesultanan ditangkap dan ada yang diasingkan keluar Banjar seperti keluarga Pangeran Amir diasingkan ke Srilangka (Ceylon), Pangeran Hidayatullah diasingkan ke Cianjur, Sultan Tamjidillah II diasingkan ke Jakarta. Ada juga yang tewas dibunuh oleh kompeni Belanda.

Melihat kekejaman Belanda kepada rakyat dan anggota keluarga kerajaan, Gusti Kacil tak berdiam diri. Sikap politiknya yang anti Belanda ia perlihatkan dengan turun langsung dalam perang antara Kesultanan Banjar melawan Kompeni Belanda, Agustus 1859 di Martapura.

Pada pertempuran di Martapura itu, Gusti Kacil selaku pimpinan wilayah dengan gagah beraninya berhadapan dengan Belanda. Berbekal strategi tempur, ilmu bela diri yang ia kuasai, Gusti Kacil mengamuk bersenjatakan sebilah keris peninggalan Putri Junjung Buih.

Pada peristiwa tersebut banyak pasukan kompeni Belanda menjadi korban. Belanda marah sehingga keluar perintah tangkap untuk Gusti Kacil. Namun usaha Belanda untuk menangkap Gusti Kacil tidak pernah berhasil. Tak kurang akal, Belanda membuat sayembara siapa yang bisa menangkap Gusti Kacil dalam keadaan hidup atau mati akan mendapat hadiah sebanyak 250 F. Sayembara ini juga tidak berhasil untuk menangkap Gusti Kacil.

Kompeni Belanda mendengar kabar bahwa satu-satunya orang yang mampu menangkap dan menaklukan ilmu Gusti Kacil adalah seorang ulama yang berilmu tinggi yakni Datu Landak. Nama asli Datu Landak adalah Syekh Muhammad Afif, buyut dari Syekh H. Muhammad Arsad Al-Banjary (Datu Kalampayan).

Maka diundanglah Datu Landak untuk menghadap kompeni Belanda. Namun Datu Landak menolak bertemu Belanda. Sebelumnya, berita diburunya Gusti Kacil oleh Belanda telah sampai di telinga Datu Landak. Dan ini sangat bertentangan sekali dengan Datu Landak, tiada kompromi untuk kompeni Belanda bagi Datu Landak. Selain dari itu di belakang Gusti Kacil untuk melawan Kompani Belanda tidak lepas dari peran dan bantuan Datu Landak. Apalagi, antara Datu Landak dengan Gusti Kacil masih memiliki hubungan keluarga. Datu Landak adalah sepupu Gusti Kacil dari pihak ibu.

Dengan latar belakang di atas tidak mungkin bagi Datu Landak menangkap Gusti Kacil untuk diserahkan kepada Belanda. Hasil musyawarah antara Datu Landak, Gusti Kacil, pihak keluarga dan perangkat kesultanan maka diambil keputusan bahwa Gusti Kacil harus meninggalkan Banjar demi keselamatan dirinya dan menghindari dari pertumpahan darah yang lebih banyak.

Akhirnya, pada tahun 1864 empat orang putra terbaik banua meninggalkan Banjar yaitu Gusti Kacil, Datu Landak, Gusti Mustofa (kakak Gusti Kacil) dan seorang hulubalang yang tidak diketahui namanya.

Sewaktu meninggalkan Banjar, Gusti Kacil, Datu Landak, Gusti Mustofa dan seorang hulubalang, mengarungi lautan memakai sampan. Di lautan sampan mereka pecah. Dua orang akhirnya terdampar di Banten, yakni Gusti Mustofa dan seorang hulubalang. Sedangkan Datu Landak dan Gusti Kacil terdampar di Muntok, Pulau Bangka.

Kamis, 24 Maret 2016

Seperti Apakah Orang Banjar Di Abad 21 ?

5565df940423bd94018b4567.jpg
Dalam mengawali tulisan, terlebih dahulu saya akan menjabarkan apa dan siapa yang disebut dengan urang banjar|اورڠ بنجر, atau dalam Bahasa Indonesia disebut Orang Banjar sendiri. A.Gazali Usman (1989) menjelaskan yang disebut urang banjar merupakan penduduk yang mayoritas sekarang mendiami daerah Kalimantan Selatan, dalam pengertian kesukuan, suku banjar merupakan kesatuan etnis melayu yang bercampur dengan penduduk DAS Negara, DAS Barito, DAS Martapura dan DAS Tabanio (DAS: Daerah Aliran Sungai) yang selanjutnya dalam percampuran dikenal dengan banjar hulu, banjar batang banyu dan banjar kuala. Pada prosesnya juga terjadi proses migrasi besar-besaran yang terjadi pada sekitar abad 18-19 ke kantong-kantong kepulauan melayu yang didasari oleh sebab agama, perang dan adat merantau sendiri. Saya sendiri merupakan peranakan banjar asli, dimana pedatuan dari sebelah ayah merupakan datang dari Kampung Dalam Pagar Martapura , dan pedatuan dari sebelah ibu datang dari daerah Muara Tapus ,Alabio (HSU), Dalam catatan sejarah menunjukkan urang banjar sendiri pada awal abad ke-17, 18 dan 19 dikenal akan tiga hal, yaitu intelektualitas, keberanian dan kebersamaannya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa ulama yang muncul, seperti Datuk Sheikh Muhammad Arsyad Bin Abdullah Al-Banjary atau yang lebih dikenal dengan Datuk Kelampayan dengan masterpiece beliau berupa Kitab Sabil Al-Muhtaddiin yang menjadi rujukan fikih di Nusantara (Indonesia,Singapore,Malaysia,Brunei,Thailand,Philipines) , Datuk Sheikh Muhammad Nafis Al-Banjary dengan kitab Ad-duruun nafis nya, Datuk Sheikh Abdurrahmaan Siddiq Bin Datuk Sheikh Muhammad Afif (Mufti Kesultanan Indragiri, Riau,) dan lain sebagainya. Budaya intelektualitas ini masih terpelihara hingga saat ini, utamanya di lingkungan Pesantrian/pesantren klasik. Pada masyarakat umum sendiri budaya intelektualitas dalam menuntut ilmu perlahan masih berjuang akan eksistensinya ditengah pengaruh global asing yang menyebabkan budaya latah atau ikut-ikutan, yang patut disayangkan tidak heran kalau kebiasaan latah yang semakin lama semakin mendominasi menjadikan ciri khas ketika orang luar melihat masyarakat banjar dewasa ini sebagai orang udik, yang gampang terpengaruh mengikuti mode dan kebiasaan budaya luar, dimana sangat disayangkan yang diambil justru budaya buruknya.

Urang Banjar pada abad ke-19 Dalam suatu catatan VOC yang bertugas di kesultanan banjar melaporkan sewaktu mereka menghadap kepada Sultan yang berkuasa pada saat itu, Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang memerintah pada tahun 1758 - 1761, dimana dalam laporannya kepada residen de Lilc dikatakan: “Residen jangan mengira bahwa di Banjar ini sama halnya dengan di Banten atau Jawa. Orang Banten atau Jawa walaupun dia dipukul kompeni dengan cambuk di kepalanya, sekali-kali tidak berani mengatakan bahwa pukulan itu sakit, tetapi orang Banjar mendengar kata-kata yang keras saja sudah marah dan bila sampai terjadi begitu maka seluruh Banjar akan merupakan buah-buahan yang banyak pada satu tangkai ” Hal ini menggambarkan bagaimana sifat asli masyarakat banjar merupakan masyarakat yang keras dan tegas, dimana hal ini sendiri dapat dilihat secara umum dari betapa kerasnya perang yang berkecamuk pada tahun 1859 - 1905 yang dikenal dengan perang banjar, didasari oleh semakin merajalelanya Belanda dalam mencampuri urusan kesultanan dan tata sosial serta politik wilayah banjar sendiri.

Perjalanan waktunya, sifat-sifat positif dan negatif diatas terus berproses dan berasimiliasi dengan budaya, adat istiadat dan kebiasaan baru yang datang ke daerah banjar sendiri. Sehingga pada akhirnya hal yang sangat disayangkan dewasa ini dalam pandangan saya masyarakat banjar cenderung pelan - pelan bergeser dari kedominasian sikap dan sifat positifnya sehingga tertinggal hal negatif seperti latah, keras dan emosional, kalau dalam bahasa banjar sering ada istilah kada kawa dicelengi sadikit balalu handak manimpas, yang pada akhirnya menyebabkan urang banjar yang mulanya kemampuan intelektualitas nya diakui di Nusantara dimana karya tulis dan sumberdaya manusianya sendiri menjadi rujukan, bahkan diundang secara khusus untuk menjadi mufti kerajaan di luar Banjar, perlahan-lahan bergeser dan jika hal ini terus dibiarkan lama-lama akan tenggelam dan akhirnya tersingkir dari persaingan global, dalam contoh sederhananya lihat saja bagaimana pelajar dari banjar memandang pelajar-pelajar lulusan dari Jawa, belum lagi bertarung sebagian besar sudah akan minder dan bersikap pesimis, yang akhirnya menyingkirkannya juga dalam konteks persaingan. Lalu, bagaimana mencegah dan mengatasi hal ini? bagaimana peranan urang banjar di abad 21, yang mau tidak mau harus bersaing dalam persaingan global dengan bangsa lain, dan dengan suku lain dalam konteks nasional? Kembali kita kutip pernyataan dari Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah kepada residen Belanda, dimana beliau mengatakan ...........seluruh Banjar akan merupakan buah-buahan yang banyak pada satu tangkai. Kalimat ini semestinya merupakan ungkapan positif yang menjelaskan bahwa urang banjar merupakan kelompok masyarakat yang keras, tegas, ulet dan erat kerjasamanya. Sikap keras dan tegas dalam berjuang yang pada abad 17, 18 dan 19 berada dalam konteks memperjuangkan tanah dari penjajah, hendaknya dewasa ini kita membutuhkan kemauan keras, ketegasan, keuletan dan kerjasama yang kuat dalam perjuangan membangun ummat dan bangsa, kembali meneruskan semangat intelektualisme ulama-ulama besar banjar yang dalam kekinian kita memerlukan sumberdaya manusia yang handal dalam berbagai bidang, tidak hanya dalam bidang agama, namun juga bidang lain seperti pendidikan, hukum, lingkungan, hubungan internasional, tata negara, ekonomi, dan lain sebagainya, sehingga urang banjar kembali dapat melahirkan intelektual-intelektual yang suara dan kebermanfaatannya mampu terdengar di Nusantara bahkan hingga Internasional. Wallahua'lam, hal ini merupakan instropeksi yang harus dipikirkan kembali, dan bagaimana agar dapat terus bergerak maju.

  • Posted by :

Azmirza El-Banjary

  • Di Rangkum dari berbagai Sumber