Populer

Cari Blog Ini

Music Listening

AI MUSIC GENERATOR

Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2021

SUNAN GIRI PENDAKWAH ISLAM PERTAMA DI KALIMANTAN

 SUNAN GIRI

PENDAKWAH ISLAM PERTAMA DI KALIMANTAN







Ada satu fakta sejarah yang jarang diungkap oleh para peneliti, apalagi diketahui jamak oleh orang awam bahwa pengaruh masuknya Islam di bumi Banjar tak terlepas dari pengaruh dakwah walisongo (wali sembilan) khususnya Sunan Giri .

Saya secara pribadi tidak melihat kiprah dakwah itu sebagai bagian dari dakwah politik kerajaan Islam Demak, sebab kiprah Raden Paku atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Giri itu sudah lebih dahulu dari berdiri dan tumbuhnya Kerajaan Islam Demak sebagai kekuatan baru pesaing kerajaan Hindu Majapahit yang sudah mulai runtuh ketika itu.


Jika dilihat dari kronologis sejarahnya, kiprah dakwah Sunan Giri telah ada berlangsung pada awal abad ke-15 Masehi di Kalimantan Selatan. Kedatangan Sunan Giri ditengarai pada tahun 1470 M; 

Dimana ketika itu pusat perdagangan di Pelabuhan Bandar Masih (yang kemudian berganti nama penyebutannya menjadi Banjarmasin) sedang mengalami puncak keramaian interaksi pedagang dari pelbagai Negara (Mancanegara).

Ada pula penelitian yang menyebutkan kedatangan Sunan Giri pertama kalinya di pelabuhan Muara Bahan ( Bandar Utama Kerajaan Negara Daha /Pra Kesultanan Banjar)  yang hari ini dikenal dengan nama Marabahan. Kedatangan beliau bukan sekedar misi dakwah, namun juga dalam rangka perdagangan, sebab kedatangan beliau bersama tiga buah kapal dagang.

Terlepas apakah misi beliau dalam rangka berdagang atau berdakwah semata, namun catatan sejarah yang tidak bisa dilupakan bahwa orang-orang dayak Bakumpai atau Urang Bakumpai yang tinggal di pesisir Muara Bahan, ternyata mereka telah ditemukan memeluk Islam lebih dahulu berbanding, masuknya Islam Raja Pertama Banjar;

KDYMM Sultan Suriansyah pada kisaran tahun 1526 M dengan diutusnya Khatib Dayan dari kerajaan Demak atas bantuan bala tentara Demak membantu memenangkan peperangan Pangeran Samudera (nama lain KDYMM Sultan Suriansyah sebelum memeluk Islam ).


Saya melihat kiprah Sunan Giri di Kalimantan pada umumnya, khususnya di bumi Banjar sebagai tanggung jawab serta tugas para pendakwah khususnya bagi kalangan Alawiyyin yang memiliki misi meng-islamkan bumi Nusantara, termasuk bumi kerajaan Banjar yang ketika itu masih dipimpin oleh kerajaan Daha yang memeluk agama Hindu.


Meskipun faktanya, kerajaan Daha memeluk agama Hindu, namun pada masyarakat Banjar yang notabene suku Melayu tidak ditemukan adanya kepercayaan agama Hindu yang mengakar kuat pada keyakinan masyarakatnya, terkecuali hanya beberapa tradisi simbolik dalam beberapa aspek kecil saja yang kemudian berasimilasi dengan nilai-nilai Islami .


Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan dan mengakar dari agama Hindu bagi masyarakat Melayu Banjar, hingga datangnya pengaruh Islam yang benar-benar menjadi roh dan nafas kehidupan bagi masyarakat orang Melayu Banjar.


Jika dirunut lebih mendalam lagi, 

Sunan Giri merupakan keturunan Rasulullah SAW

melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad an-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Ibrahim Zainuddin Al-Akbar As-Samarqandy (Ibrahim Asmoro), Maulana Ishaq, dan Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Dengan demikian, sumber dakwah Islamnya masyarakat Melayu Banjar boleh dikatakan bukan semata dari pengaruh Islam Demak di Jawa, akan tetapi lebih awal memang bersumber langsung dari keturunan Ahlul Bait yang sumber utamanya bermuara pada datuk pertama mereka Al-Imam Ahmad bin Muhajir di Yaman.

Secara kajian ilmiah, saya secara pribadi tidak menemukan adanya pengaruh kekhalifahan Turki Utsmani pada periodesasi ini. Sebab pada rentang abad ke-15 M yang ketika itu bertepatan dengan kepemimpinan Sultan Muhammad al-Fatih Sang Penakluk Constantinopel (1451-1481 M) atau jika ditarik lebih awal lagi pada masa pemerintahan ayahnya Sultan Muhammad I (1421-1451 M).


Pada masa itu, kekhalifahan Turki Ustmani (Ottoman Empires)  tengah menghadapi banyak peperangan dan penaklukan pasca peperangan Salib yang sedang bergelora di Eropa. Dengan pengertian lain, kekhalifahan Turki Ustmani belum memusatkan adanya hubungan kerjasama politik atau pun militer dengan kerajaan Islam di Nusantara.

Kembali pada Islamisasi di bumi Kerajaan Banjar awal bahwa jelas di sana belum ada pengaruh politik, baik dari kerajaan Islam di Jawa maupun kerajaan Islam yang tengah berkuasa di Asia atau di Timur Tengah kala itu.

Semangat dakwah yang pertama kali tertancap di bumi Kalimantan murni atas dasar kemurniaan dakwah mengenal keagungan Islam secara kultural yang bersumber langsung dari para ulama dan dai yang ikhlas lillahi ta'ala. 

Selanjutnya, pengaruh kultural ini akan terlihat pada sepak terjang perjalanan Islam di bumi Banjar mulai abad ke-15 M hingga abad 21 hari ini yang nampak jelas pada praktik keberagamaan masyarakat muslimnya yang lebih nyaman dengan gaya sufistik, ketimbang gaya pergerakan Islam progresif atau revolusioner. 


Dengan kata lain, masyarakat muslim Banjar tidak terlalu tertarik dengan gaya Islam pergerakan atau revolusioner. Dan tidak ada fakta sejarah atau situs sejarah adanya pengaruh kekhalifahan Turki Ustmani pada masa kerajaan Banjar pada periodesasi awal ini.

Inilah mengapa kultur budaya dan nuansa keislaman bagi orang Melayu Banjar menyatu dengan kehidupan mereka yang lebih senang merindukan kebersamaan bersama Tuhan dan Rasulnya dalam amaliah-amaliah 


Wallahu Ta'ala A'la

Penulis : Ustaz Miftah El-Banjary

(Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur'an)


#FolksOfBanjar #KesultananBanjar #IslamBanjar #SejarahBanjar #MelayuBanjar #SejarahMasuknyaIslamDiKalimantan



Kamis, 28 Februari 2019

Makam Raja Banjar ke IV  DYMM Sultan Musta'In Billah Ditemukan di Bawah Pohon Kasturi Raksasa di Martapura

Pohon Kasturi


Batu Nisan Sultan Musta'in Billah



Makam Raja Banjar ke IV  DYMM Sultan Musta'In Billah Ditemukan di Bawah Pohon Kasturi Raksasa di Martapura

Sebuah makam yang diduga merupakan tempat persemayaman Raja Banjar ke IV, Sultan Mustainbillah, akhirnya ditemukan oleh para Dzuriyat Kesultanan Banjar.
Makam yang diyakini merupakan salah satu Raja Banjar itu berada di bawah sebuah pohon Kasturi berukuran raksasa berdiameter 150 cm diperkirakan berusia 200 tahun, di Desa Tangkas RT 3, Kecamatan Martapura Barat, Martapura, Kabupaten Banjar , Kalimantan Selatan

Di lokasi tersebut para Dzuriyyat yang telah lama melakukan pencarian Raja Banjar tersebut, menemukan sebuah Batu Nisan batu berukuran besar dengan ukiran batu bercabang dua yang menandai keberadaan makamnya.
Ketua Zuriyyat Pangeran Hidayatulah di
Kalsel, Gusti Sofyan Hilmi, mengatakan, di dalam buku-buku yang meriwayatkan sejarah Banjar, mencantumkan enam Sultan. Makam lima Sultan telah diketahui, tinggal Raja Banjar keempat tersebut yang belum.
"Hanya Sultan Mustainbillah yang tidak diketahui makamnya. Kalau wafatnya pada tahun 1619," sebut dia, Jumat (1/1/2016)
Dari penelusuran, didapat petunjuk tentang makam sultan tersebut di kawasan Sungai Tabukan. “Ketika dicari, tidak ditemukan. Ketika dicari di kawasan Sungai Tabukan Martapura, lalu bertanya kepada warga, ditunjukkanlah makam dimaksud tersebut,” ujarnya.
Dulunya, di lokasi makam ada kubah juga, tetapi hancur dimakan usia karena hujan, panas serta faktor lain. Makam tersebut dirawat Gusti Dayat. Namun, sepeninggal Gusti Dayat, tidak ada lagi yang merawat.
“Warga sekitar, tahunya memang makam raja. Makanya, banyak yang menaruh kembang dan kain kuning di makam beliau," imbuh Gusti Sofyan.
Pohon Kasturi Raksasa di atas Makam
Raja Banjar ditebang, untuk memudahkan perawatan makam.
Dengan temuan tersebut, lanjutnya, para Zuriyyat serta komunitas peduli makam raja-raja Banjar memutuskan untuk merawat kembali makam ini. Setelah pohon kasturi ditebang, rencana berikut adalah membangun kubah berarsitektur rumah banjar berukuran 4 x 4 meter
Disinggung mengenai makam yang sebelumnya ditemukan di Desa Sungai Kitano dan disebut makam Sultan Mustainbillah, Gusti Sofwan membenarkan. Namun ia juga mengungkapkan makam itu adalah Makam Sultan Inayatullah, yakni anak dari Sultan Mustainbillah.
"Bisa dilihat dari nisannya. Di Sungai Kitano, lebih kecil ukurannya dari makam yang baru ditemukan. Makam yang baru ditemukan, paling besar nisannya. Cuma, ada kemiripan bentuk nisan antara kedua makam," bebernya.
Hal senada diutarakan Ketua Peduli Makam Al Khairat, Uhibbul Hudda. Berdasarkan bentuk nisan makam tersebut, menandakan makam raja-raja dulu. Bentuk nisannya, lebih besar dari nisan Sultan Inayatullah.
"Itu bukan batu hasil olahan daerah kita. Bisa jadi, batu nisan ini dari Persia atau bisa juga Majapahit," lontarnya.

Keterangan gambar : Nisan dari Makam Raja Banjar IV Sultan Mustainbillah yang ditemukan di Kecamatan Martapura Barat Jumat (1/1/2015) diamankan di rumah warga.

#FolksOfBanjar #KesultananBanjar #KesultananKutaringin #SultanMustainBillah

SHEIKH ALI BIN ABDULLAH AL-BANJARY


SHEIKH ALI BIN ABDULLAH AL-BANJARY
JURU TULIS KITAB I'ANAH ATH-THALIBIN

Di kalangan santri di Indonesia dan Santri Alam Melayu kitab I’anah Ath-Thalibin sangat dikenal. Namun siapa sangka, penulisnya (juru tulis Syekh Bakri Satha) ternyata seorang syekh keturunan Banjar , Kalimantan Selatan
Syekh keturunan Banjar itu bernama Syekh Ali bin Abdullah bin Mahmud bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau dilahirkan di Makkah Al Mukarramah tahun 1285 Hijriyah bertepatan dengan tahun 1868 Miladiyah (Masihi), dan tumbuh di dalam keluarga shaleh dan shalehah.
Ayahnya, Syekh Abdullah bin Mahmud Al Banjari merupakan ulama karismatik di Makkah Al Mukarramah. Beliau dijuluki dengan julukan Syekh Abdullah Wujud dikarenakan apabila beliau berdzikir, tubuhnya tidak lagi nampak terlihat, melainkan hanya pakaian dan sorbannya saja.
Di dalam keluarganya yang shaleh dan menjunjung tinggi ilmu agama itulah Syekh Ali tumbuh besar, hingga beliau mewarisi kecintaan pada ilmu agama sebagaimana ayah, kakek, dan datuknya yang lebih dulu menjadi ulama besar di zaman mereka.
Syekh Ali tak mau menjadi pemutus “nasab emas” keilmuan para leluhurnya, beliau pun dengan gigihnya menimba ilmu kepada banyak ulama, di antaranya kepada Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha, Syekh Said Yamani, Syekh Yusuf Al Khaiyat, Sayyid Husein bin Muhammad Al Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan As Saqaf (Assegaf), Mufti Abid bin Husein bin Ibrahim Al Makki, Habib Ahmad bin Hasan Al Atthas, Habib Umar bin Salim Al Atthas, Syekh Mahfuz Termas, Syekh Ahmad Fathani, Syekh Zainuddin As Sumbawi dan lainnya.
Dalam ilmu nahwu, sharaf, dan Fiqih Syekh Ali belajar kepada Syekh Abu Bakar Satha, Syekh Said Yamani, dan Syekh Mahfuz Termas (Ulama dari tanah Jawi). Dalam bidang hadits beliau berguru kepada Syekh Said Yamani, Sayyid Husein bin Muhammad Al Habsyi, Habib Ahmad bin Hasan As Saqaf (Assegaf), Mufti Abid bin Husein bin Ibrahim Al Makki. Adapun dalam ilmu falaq, Syekh Ali belajar kepada Syekh Yusuf Al Khaiyat. Tafsir, kepada Sayyid Abu Bakar Satha. Dan, mengambil ijazah Thariqah Sammaniyah kepada Syekh Zainuddin As Sumbawi.
Menjadi Juru Tulis Gurunya
Guru dari Syekh Ali, Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha adalah salah satu ulama besar bermazhab Syafi’i yang hidup pada akhir abad ke-13 H dan permulaan abad ke-14 H. Kala itu, Sayyid Abu Bakar as Satha mengajar kitab syarah Fath al Mu’in karya Al Allamah Zainuddin al-Malibari, di Masjidil Haram.
Selama mengajar Kitab Fathul Mu’in, Sayyid Abu Bakar Satha menulis catatan sebagai penjelasan dari kalimat-kalimat yang terdapat dalam Kitab fathul Mu’in.
Catatan-catatan inilah yang kemudian diminta untuk dikumpulkan oleh para sahabat beliau, guna dijadikan sebuah kitab (hasyiyah) untuk memahami Kitab Fathul Mu’in.
Saat itu, Syekh Ali menjadi perhatian di antara sekian banyak murid yang mengaji kepada Sayyid Abu Bakar Satha. Kecakapannya dalam bidang ilmu fiqih membuat Sayyid Abu Bakar menunjuk Syekh Ali sebagai katib (Juru tulis) kepercayaannya ketika mengarang kitab. Salah satu kitab yang diketahui merupakan hasil tulis dari Syekh Ali adalah Kitab ‘Ianah Ath-Thalibin, syarah (penjelasan ) dari Kitab Fathul Mu’in karya Al Allamah Zainuddin al-Malibari.
“Kitab asli tulisan tangan beliau itu ada di Sumatra,” kata Ustadz Muhammad bin Husin bin Ali Al Banjari.
Kitab ini merupakan tulisan bermodel hasyiyah, yaitu berbentuk perluasan penjelasan dari tulisan terdahulu yang lebih ringkas. Kitab I’anah Ath-Thalibin ini selesai ditulis pada Hari Rabu ba’da Ashar, 27 Jumadil al-Tsani Tahun 1298 H.
Kitab I’anah Ath-Thalibin memiliki kelebihan sebagai fiqh mutakhkhirin yang lebih aktual dan kontekstual karena memuat ragam pendapat yang diusung ulama mutaakhkhirin utamanya Al-Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar dan banyak lainnya yang tentunya lebih mampu mengakomodir kebutuhan penelaah akan rujukan yang variatif dan efektif.
Rujukan penyusunan kitab ini adalah kitab-kitab fiqh Syafi’i mutaakhkhirin, yaitu Tuhfah al-Muhtaj, Fath al-Jawad Syarh al-Irsyad, al-Nihayah, Syarh al-Raudh, Syarh al-Manhaj, Hawasyi Ibnu al-Qasim, Hawasyi Syekh ‘Ali Syibran al-Malusi, Hawasyi al-Bujairumy dan lainnya.
Mursyid Thariqah Sammaniyah
Dalam bidang tasawuf, Syekh Ali Al Banjari diketahui pernah mengambil ijazah Thariqah Sammaniyah kepada Syekh Zainuddin As Sumbawi, hingga menjadi mursyid dalam thariqah tersebut. Hal ini diketahui dengan adanya catatan silsilah masyaikh (keguruan) pada Thariqah Sammaniyah yang terdapat nama beliau di dalamnya.
Thariqah Sammaniyah adalah thariqah yang didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani. Di antara murid Syekh Muhammad Samman adalah Datuk Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliaulah yang membawa thariqah ini ke tanah Banjar, dan meng-ijazahkannya kepada keluarga dan pengikut beliau. Dari keluarga dan pengikut beliau inilah kemudian thariqah tersebut terjaga hingga sekarang.
Mursyid Thariqah Sammaniyah yang masyhur dari keturunan Datuk Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Tuan Guru Sekumpul). Di antara mata rantai sanad keguruan Tuan Syekh Muhammad Zaini dalam bidang Thariqah Sammaniyah ini, terdapat nama Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari. Berikut perinciannya sanad keguruan dari Syekh Samman hingga Syekh Muhammad Zaini:
Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani,
Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari,
Syekh Syihabuddin Al Banjari
Syekh Nawawi bin Umar Al Bantani
Syekh Zainuddin bin Badawi As Sumbawi, Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari
Syekh Muhammad Syarwani bin Haji Abdan Al Banjari
Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari.
Mengajar di Masjidil Haram
Setelah dinilai guru-gurunya mumpuni dalam bidang keilmuan, Syekh Ali pun diizinkan mengajar di Masjidil Haram dalam mata pelajaran Nahwu, Sharaf, dan Fiqih Mazhab Syafi’ie.
Sejak saat itu pula, rumahnya di Daerah Syamiyah, Jabal Hindi, menjadi tempat tujuan para penimba ilmu. Terlebih, ketika umat Islam Seluruh dunia berdatangan untuk menunaikan ibadah haji. Momentum ibadah haji ini biasanya dimanfaatkan para muslimin untuk menimba ilmu dari ulama-ulama besar di tanah haram, tak terkecuali dengan Syekh Ali.
Dari sekian banyak murid Syekh Ali Al Banjari yang datang dari tanah Banjar dan kemudian menjadi ulama besar, di antaranya: Tuan Guru Zainal Ilmi (Dalam Pagar,Martapura), Syekh Sya’rani bin Haji Arif (Kampung Melayu), Syekh Muhammad Syarwani bin Haji Abdan Al-Banjary (Bangil, Surabaya), Syekh Seman bin Haji Mulya (Keraton,Martapura), Syekh Hasyim Mukhtar, Syekh Nasrun Thahir, Syekh Nawawi Marfu’, Syekh Abdul Karim bin Muhammad Amin Al Banjari (wafat di Makkah).
Berhenti Mengajar di Masjidil Haram
Setelah sekian lama tanah haram hidup tenang, dan Syekh Ali tenang menjalani rutinitasnya sebagai pengajar di Masjidil Haram, Saudi Arabia dilanda perpecahan. Perang antara kubu Syarif Husein (Turki Usmani) dengan kubu Muhammad Su’ud bin Abdul Aziz.
Peperangan tersebut tidak hanya berkisar perebutan daerah, tapi juga keyakinan dalam beragama. Kubu Muhammad Su’ud yang membawa keyakinan Wahabi kemudian membuat “onar” di tanah haram. Para ulama Ahlussunnah di zaman itu dipanggil, tak terkecuali dengan Syekh Ali.
Sempat terjadi perdebatan sengit antara Syekh Ali dengan ulama wahabi tentang firman Allah Ta’la, “Yadullah fauqa aidihim”(Al Fath ayat 10). Ulama Wahabi berpandangan lafaz “Yad” disana adalah tangan, dan Syekh Ali dengan tegas tidak menerima pandangan Mujassimah (menyerupakan Tuhan dengan makhluk, red) tersebut. Beliau cenderung dengan pandapat tafsir tentang ayat tersebut yang menyatakan: Bermula kekuasaan itu atas segala kekuasaan mereka itu. Lafadz “Yad” dimaknai Qudrat. Dalam debat itu, beliau menang telak atas ulama Wahabi. Sehingga, Syekh Ali yang tadinya akan dipancung, urung dilaksanakan.
Dalam masa peperangan itu-lah, Syekh Ali Al Banjari menitipkan anaknya Husin Ali kepada Tuan Syekh Kasyful Anwar Al Banjari untuk dibawa ke tanah Banjar. Syekh Kasyful Anwar adalah sahabat Syekh Ali ketika mengaji kepada Sayyid Abu Bakar Satha, yang juga keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Sejak perpecahan itu-lah Syekh Ali Al Banjari tak lagi mengajar di Masjidil Haram. Namun, beliau masih menerima orang-orang yang datang menemuinya. Baik yang menimba ilmu atau yang hanya meminta doa. Karena nama Syekh Ali tidak hanya besar disebabkan kedalaman ilmunya, tapi juga kemustajaban doanya. Sehingga, banyak orang yang datang menemuinya hanya untuk didoakan beliau.
Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari wafat di Makkah Al Mukarramah, Khamis malam (Malam Jumaat) 12 Dzulhijjah 1307 Hijriyah dimakamkan di Mu’alla, Mekkah.
Silakan share , tapi sertakan nama penulisnya. Sebab, suatu saat mungkin ada yang menjadikan referensi penelitian. Tulisan ini bersumber dari wawancara penulis dengan Ustadz Muhammad Husein Ali bin KH Husin Ali bin Syekh Ali bin Abdullah Al Banjari (Cucu Syekh Ali di Martapura).
Jika ada salah dan khilaf, baik di sengaja maupun yang tidak disengaja, penulis menghaturkan ampun dan maaf yang sebesar-besarnya. Semoga Allah membukakan pintu tobat, ampunan, taufiq, hidayah, istiqomah, dan husnul khotiman pada kita sekalian baik bagi penulis maupun pembaca berkat Rasulullah SAW, Syaikhuna Sekumpul, berkat Syekh Ali Al Banjari, dan berkat orang-orang shaleh dulu-sekarang hingga akhir zaman, amin ya Rabbal ‘alamin
SOURCE & WRITER :
Penulis: Muhammad Bulkini Ibnu Syaifuddin
# FolksOfBanjar # # I ’anahAth-Thalibin
# SheikhAli

Jumat, 20 Mei 2016

Filipina Negeri Yang Di Murtadkan

1-154.jpg

Islam masuk ke Filipina sebelum penjelajah Spanyol menginjakkan kaki di tanah negeri ini. Itu dibuktikan dengan adanya laporan seorang pengembara Cina pada zaman Dinasti Yuan, 1280-1368. Muslim di Filipina biasanya dikenali sebagai masyarakat Moro. Mereka umumnya berdiam di Pulau Mindanao (pulau kedua terluas di Filipina), Kepulauan Sulu, Palawan, Basilan, dan pulau-pulau sekitarnya. Secara geografis, gugusan pulau-pulau ini berada di selatan Filipina, sedangkan bagian utara negeri ini adalah gugusan Kepulauan Luzon. Sejumlah literatur menyebutkan, istilah ‘Moro’ merujuk kepada kata Moor, Mariscor, atau Muslim. Kata Moor berasal dari istilah latin, Mauri, sebuah istilah yang sering digunakan orang-orang romawi kuno untuk menyebut penduduk wilayah Aljazair barat dan Maroko. Ketika bangsa Spanyol tiba di wilayah Filipina dan menemukan sebuah bangsa yang memiliki agama dan adat istiadat seperti orang-orang Moor di Spanyol Andalusia, mereka mulai menyebut orang-orang di Filipina dengan istilah Moro. Dalam sejarahnya, Islam masuk ke Filipina, tidak lama setelah Islam berkembang di dunia Melayu. Islam masuk ke wilayah Filipina Selatan, khususnya kepulauan Sulu dan Mindanao pada 1380 M yang dibawa oleh seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul al Makhdum (Syeikh Makhdum). Banyak pedagang dan dai Muslim yang mengikuti Syeikh Makhdum. Mereka berdiam di sana dan mengajarkan Islam kepada penduduk setempat. Ini berarti, kedatangan Islam di Filipina jauh lebih awal daripada kedatangan kolonial Barat, khususnya bangsa Spanyol yang masuk ke kawasan itu pada 1566 M. Adalah Raja Baguinda, seorang pangeran dari Minangkabau, Sumatra Barat, tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan tersebut. Raja Baguinda tiba di Kepulauan Sulu setelah berhasil mendakwahkan Islam di Kepulauan Zamboanga dan Basilan. Atas kerja kerasnya, Kabungsuwan Manguindanao, raja terkenal dari Manguindanao, pun akhirnya memeluk Islam. Dari sinilah awal peradaban Islam di wilayah ini mulai dirintis. Pada masa itu, sudah dikenal sistem pemerintahan dan peraturan hukum, yaitu Manguindanao Code of Law, atau Luwaran yang didasarkan atas Minhaj dan Fathu-i-Qareeb, Taqreebu-i-Intifa dan Mir-atu-Thullab. Manguindanao kemudian menjadi seorang Datuk yang berkuasa di Provinsi Davao di bagian tenggara pulau Mindanao. Setelah itu, Islam disebarkan ke pulau Lanao dan bagian utara Zamboanga serta daerah pantai lainnya. Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina semuanya berada di bawah kekuasaan pemimpin-pemimpin Islam yang bergelar datuk atau raja. Versi lain menyebutkan, Islam datang di Kepulauan Filipina jauh sebelum kedatangan Villalobos–seorang penjelajah Spanyol yang memasuki Filipina pada 1542. Islam sudah dikenal di beberapa daerah di Filipina pada abad ke-8 sampai 10, yakni tatkala Islam mengembangkan sayap ke segenap penjuru dunia. Ketika itu, saudagar-saudagar Arab sudah menginjakkan kaki ke kawasan Asia Tenggara, termasuk ke Kepulauan Filipina. Ini dibuktikan dengan adanya laporan seorang pengembara Cina pada zaman Dinasti Yuan (1280-1368). Disebutkan bahwa pada kurun ini Kepulauan Jolo di barat daya Mindanao, sudah menjadi pusat perdagangan, disinggahi saudagar-saudagar Arab, Muangthai, Indonesia, dan India. Di Jolo, kebudayaan Islam berkembang pesat sementara penduduk asli Filipina lainnya, termasuk Mindanao, masih terbilang primitif. Para saudagar Arab pun memperlihatkan pengaruh besar. Mereka pula yang mula-mula mendirikan kesultanan Islam. Syeikh Abu Bakar, orang Arab kelahiran Makkah, pada 1450 mendirikan pemerintahan di Buansa (Jolo). Di bawah pemerintahan Abu Bakar, pengkajian Islam mulai dilaksanakan secara luas. Lembaga-lembaga politik dibentuk sesuai dengan garis-garis Islam. Para dai dikirim ke luar Buansa untuk mengislamkan penduduk di sekitarnya. Awal abad ke-15, Raja Baguinda mendirikan kesultanan di tepi Sungai Kotabato. Islam terus menjalar ke utara dan pada abad ke-16 pengaruhnya sampai ke Kepulauan Visayas, Teluk Manila. Kemudian, di sanalah terjadi bentrokan dengan orang Spanyol. Sejak masuknya orang-orang Spanyol ke Filipina, penduduk pribumi telah mencium adanya maksud lain dibalik ekspedisi ilmiah Ferdinand de Magellans. Spanyol menaklukkan wilayah utara dengan mudah tanpa perlawanan berarti, tapi tidak demikian halnya dengan wilayah selatan. Mereka justru menemukan penduduk wilayah selatan melakukan perlawanan sangat gigih, berani, dan pantang menyerah. Tentara kolonial Spanyol harus bertempur mati-matian dengan jarak kilometer demi kilometer untuk mencapai Mindanao-Sulu. Kesultanan Sulu pada akhirnya takluk pada 1876 M. Sekalipun gagal menundukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap menganggap kedua wilayah itu merupakan bagian dari teritorialnya. Pada 1898 M, Spanyol kemudian menjual Filipina kepada Amerika Serikat melalui Traktat Paris. Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan diri sebagai seorang sahabat yang baik dan dapat dipercaya. Ini dibuktikan dengan ditandatanganinya Traktat Bates (20 Agustus 1898 M) yang menjanjikan kebebasan beragama, kebebasan mengungkapkan pendapat, serta kebebasan mendapatkan pendidikan bagi Bangsa Moro. Namun, traktat tersebut dianggap hanya taktik mengambil hati orang-orang Islam agar tidak memberontak, karena pada saat yang sama Amerika tengah disibukkan dengan pemberontakan kaum revolusioner Filipina utara pimpinan Emilio Aguinaldo. Terbukti setelah kaum revolusioner kalah pada 1902 M, kebijakan AS di Mindanao dan Sulu bergeser kepada sikap campur tangan langsung dan penjajahan terbuka. Setahun kemudian (1903 M), Mindanao dan Sulu disatukan menjadi wilayah Provinsi Moroland dengan alasan untuk memberadabkan (civilizing) rakyat Mindanao dan Sulu. Malapetaka Sejatinya, kedatangan bangsa Eropa dan Amerika, boleh dikata, merupakan malapetaka bagi Moro. Migrasi secara besar-besaran tak bisa dihindari. Konflik budaya, kekuasaan, ekonomi, dan kepentingan-kepentingan lainnya, membuat Mindanao panas. Buntutnya, muncul persoalan multikompleks. Golongan Islam merasa bahwa mereka adalah pewaris sah Mindanao dan daerah-daerah yang pernah dikuasai Islam. Sementara itu, para migran–umumnya beragama berbeda–mayoritas telah merasa secara sah pula mendiaminya. Muncul pula kecurigaan bahwa pemerintah terlalu berpihak sebelah. Orang Moro yang kebanyakan hidup bertani tak percaya pada pemerintah Filipina. Mereka lebih percaya pada para datuk yang menjadi pemimpin lokal. Segala undang-undang dan hukum yang dikeluarkan pemerintah cenderung diabaikan. Soal tanah, misalnya, mereka lebih mendengar fatwa datuk. Sesuai tradisi, tanah adalah kepunyaan marga (clan) dan diatur oleh datuk. Datuk pula yang berhak mengendalikan hukum adat, seperti tradisi peradilan agama, poligami, perkawinan, dan perceraian. Sebaliknya, pemerintah menganggap umat Islam Mindanao sengaja mengisolasi diri dari golongan lain. Mereka dituduh antipati terhadap pemerintah, bahkan cenderung menunjukkan sikap bermusuhan. Pemerintah merasa telah berusaha semaksimal mungkin untuk membangun Mindanao. Misalnya, dengan mengadakan perbaikan di bidang kesempatan kerja, ekonomi, sosial, dan budaya. Inilah, agaknya, yang perlu diurai: mendekatkan kesamaan dalam perbedaan. Kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah pada akhirnya melahirkan perlawanan baru. Dibentuklah apa yang disebut sebagai Muslim Independent Movement (MIM) pada 1968 dan Moro Liberation Front (MLF) pada 1971. Perkembangan berikutnya, MLF sebagai induk perjuangan Bangsa Moro akhirnya terpecah: Moro National Liberation Front (MNLF) pimpinan Nurulhaj Misuari dan Moro Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hashim. Namun, dalam perjalanannya, ternyata MNLF pimpinan Nur Misuari mengalami perpecahan kembali menjadi kelompok MNLF-Reformis pimpinan Dimas Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf pimpinan Abdurrazak Janjalani (1993). Kini, melihat kondisi Muslim di Filipina Selatan, ada yang menyebutnya sebagai minoritas di negeri sendiri. sumber : republika

Selasa, 05 April 2016

Jadwal Haul Para Tokoh Ulama & Habaib Di Kalimantan Selatan

haul3.jpg

JADWAL HAUL TOKOH ULAMA & HABAIB DI KALIMANTAN SELATAN ------------------------------------------------------ - BANJARMASIN : 1. Sultan Surian Syah (Sultan Banjar Pertama): 12 Rabiul Awal / 24 Des 2015 & 12 Des 2016 2. Habib Hamid bin Abbas Bahasyim ( Habib Basirih ) : 18 Jumadil Awal / 27 Feb 2016 3. Tuan Sheikh Mufti Haji Jamaluddin Al-Banjary ( Surgi Mufti ) : 8 Muharram / 21 Okt 2015 / 21 Okt 2016 4. Tuan Guru Sheikh Muhammad Amin bin Ya'qub ( Datuk Amin Benua Anyar ) : 30 Syawal / 30 Juli 2016 5.Tuan Guru Haji Ahmad Bakeri ( Guru Bakeri ) : 20 Rabiul Awal 6. Tuan Guru Haji Muhammad ( Ayahanda Tuan Guru Ahmad Zuhdiannor / Guru Zuhdi : 17 Muharram ------------------------------------------------------ - Kab.Banjar ( Martapura ) : 1. Datuk Sheikh Muhammad Arsyad Al-Banjary ( Datuk Kelampayan )(Pengarang Kitab Sabil Al-Muhtaddin) : 6 Syawal / 11 Juli 2016 2. Datuk Sheikh Abdul Hamid ( Datuk Abulung ) : 12 Dzulhijjah / 26 Sept 2015 & 14 Sept 2016 3. Tuan Guru Sheikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjary ( Tuan Guru Sekumpul ) : 5 Rajab / 10 April 2016 4. Tuan Guru Sheikh Muhammad Kasyful Anwar bin Ismail Al-Banjary ( Guru Kasyful ) : 18 Syawal / 23 Juli 2016 ------------------------------------------------------ - BANJARBARU : 1. Sharifah Badrun binti Syed Yusuf Al-Qodiry Al-Hasani ( 29 Syawal / 3 Agustus 2016 ------------------------------------------------------ - Kab Barito Kuala: 1.Datuk Sheikh Haji Muhammad Abdusshamad Al-Banjary ( Datuk Bakumpai ) : 13 Safar / 25 Nov 2015 / 13 Nov 2016 ------------------------------------------------------ - Kab. TAPIN : 1. Datuk Sheikh Muhammad Abdush Shamad ( Datuk Sanggul ) : 28 Dzulhijjah / 12 Okt 2015 & 30 Sept 2016 2. Datuk Sheikh Abdul Mu'in ( Datu Nuraya Padma Tunggal ) : 15 Dzulhijjah / 29 Sept 2015 / 17 Sept 2016 3. Datuk Suban : 14 Syawal / 21 Mei 2016 4. Datuk Sheikh Shalman Al-Farisi ( Datuk Gadung ) : 9 Dzulhijjah / 23 Sept 2015 / 11 Sept 2016 ------------------------------------------------------ - Kab.Hulu Sungai Selatan : 1. Datuk Sheikh Haji. Sa'dudin ( Datuk Taniran ) : 5 Safar / 17 Nov 2015 / 5 Nov 2016 2. Al-Habib Ibrahim Al-Habsyie : 14 Safar / 26 Nov 2015 / 14 Nov 2016 3. Datuk Muhammad Thaher bin H. Syahbuddin ( Datuk Daha ) : 10 Syawal / 15 Juli 2016 ------------------------------------------------------ Kab.Hulu Sungai Tengah : 1. Tuan Guru Haji Muhammad Ramli ( Wali Katum ) : 29 Sya'ban / 4 Juni 2016 2. Tuan Guru Haji Ahmad Mughnie Ayahanda Daripada Tuan Guru Haji Mohd Bakheit Barabai 12 Dzulhijjah / 14 Sept 2016 ------------------------------------------------------ Kab.Hulu Sungai Utara: 1. Sheikh Abdurrasyid ( Pendiri Pondok Pesantrian Rakha Desa Pekapuran ) : 12 Syawal / 17 Juli 2016 2. Tuan Guru Haji Ahmad Riduan ( Guru Lok Bangkai ) : 12 Sya'ban / 19 Mei 2016 ------------------------------------------------------ - Kab.Tabalong: 1. Datuk Sheikh Muhammad Nafis bin Idris Al-Banjary (Datuk Nafis) Pengarang Kitab Ad-Durrun Nafis : 14 Rabiul Akhir / 24 Jan 2016 ------------------------------------------------------ - Kab.Balangan: 1. Datuk Kandang Haji : 17 Rabiul Akhir / 27 Jan 2016 ------------------------------------------------------ Kab. Tanah Laut: 1. Habib Muhammad bin Abdullah Al-Athas : 11 Shafar / 23 Nov 2015 & 11 Nov 2016 2. Datuk Insad : 5 Rabiul Awal / 17 Des 2015 & 5 Des 2016 ------------------------------------------------------ - Kab. Tanah Bumbu : 1. Syarifah Hajjah Aminah binti Al-Habib Salim Assegaff ( Ibu Ifah Kuning ) : 7 Jumadil Awal / 16 Feb 2016 2. Habib Mushaffa Ahmad bin Al-Habib Shaleh Al-Aydrus : 11 Rabiul Akhir / 21 Jan 2016 3. Sheikh Muhammad Riduan Shaleh : 3 Jumadil Akhir / 12 Maret 2016 4. Habib Mukhtar bin Habib Husein Al-Aydrus : 24 Jumadil Awal / 4 Maret 2016 5. Syarif Ali bin Pangeran Syarif Abdurrahman Al-Aydrus : 7 Syawal / 12 Juli 2016 6. Mufti Haji Muhammad Arsyad Lamak bin Mufti Haji Muhammad As'Ad Al-Banjary ( Kubah Pagatan ) : 23 Rabiul Awal / 4 Jan 2016 & 23 Des 2016 7.Habib Muhammad bin Ali Al-Aydrus (Habib Mancung) : 14 Dzulqaidah / 17 Agustus 2016 8. Habib Mustafa bin Pangeran Syarif Ali Al-Aydrus : 27 Jumadil Awal / 7 Maret 2016 9. Habib Usman bin Segaf Al-Aydrus : 27 Jumadil Awal / 7 Maret 2016 10. Habib Alwy bin Syarif Umar Al-Aydrus : 8 Rabiul Awal / 20 Des 2015 / 8 Des 2016 11. Habib Husein bin Syarif Umar Al-Aydrus : 10 Sya'ban / 17 Mei 2016 ------------------------------------------------------ - Kab.Kota Baru : 1. Syarif Umar bin Pangeran Syarif Ali Al-Aydrus : 21 Sya'ban / 28 Mei 2016 2. Syarif Alwy bin Al-Habib Hasan Al-Aydrus : 27 Rajab / 5 Mei 2016 3. Tuan Guru Sheikh Muhammad Dahlan ( Guru Cantung ) : 25 Rabiul Awal / 6 Jan 2016 & 25 Des 2016 4. Sheikh Qusyairin Iman Shah: 7 Dzulqaidah / 10 Agustus 2016 ------------------------------------------------------
* WAKTU PELAKSANAAN HAUL BESAR DITENTUKAN OLEH PANITIA PELAKSANA, SEHINGGA PELAKSANAAN HAUL BISA BERBEDA DENGAN TANGGAL WAFATNYA.
* Semoga dengan adanya tulisan ini, Jadwal Haul Para Tokoh Agama, Habaib dan Ulama Kalimantan Selatan ini, akan lebih memudahkan kita untuk mengingat dan mempersiapkan diri untuk berhadir di acara Haul-haul beliau-beliau nantinya  Semoga ada berkahnya untuk kita semua. Aamiin Allahumma Aamiin

SILAHKAN DI SAVE / SHARE - SEMOGA BERKAH & BERMANFAAT UNTUK KITA SEMUA. AAMIIN.

N/B: Apabila ada Tokoh, Habaib atau Ulama yang tidak terjadwal di atas Agar kiranya memberitahukan Nama lengkap beliau, Tanggal Haulnya beserta Daerahnya. Insya Allah nanti akan kami tambahkan di daftar. Afwan 

Minggu, 03 April 2016

Rasulullah S.A.W Pernah Menyebut Bangsa Indonesia

al-maalki1.jpg
Tatkala salah satu guru Prof. DR. Al-Muhaddits As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dan Al-'Allamah Al-'Arif billah Sheikh Ustman bersama rombongan ulama lainnya pergi berziarah ke Makam Rasulullah saw., tiba-tiba beliau diberikan kasyaf (tersingkapnya hijab) oleh Allah swt. dapat berjumpa dengan Rasulullah saw.

Di belakang Nabi Muhammad saw. sangat banyak orang yang berkerumunan. Ketika ditanya oleh guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?”

Rasulullah saw. pun menjawab: “Mereka adalah umatku yang sangat aku cintai.”

Dan diantara sekumpulan orang yang banyak itu ada sebagian kelompok yang sangat banyak jumlahnya. Lalu guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki bertanya lagi: “Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?”

Rasulullah saw. kemudian menjawab: “Mereka adalah bangsa Indonesia yang sangat banyak mencintaiku dan aku mencintai mereka.”

Akhirnya, guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada jama’ah: “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.” (Dikutip dari ceramah Tuan Guru Sheikh Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi).

Aceh Dan Ottoman Dalam Koin Emas

koin-emas-aceh.jpg

Aceh-Ottoman dalam Koin Emas Penemuan koin emas bertuliskan nama Sultan Aceh dan Sultan Ottoman menandakan hubungan antara kedua kerajaan Islam itu.

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~• RATUSAN keping koin emas kuno peninggalan Kesultanan Aceh ditemukan penduduk di Gampong Pande, Aceh, pada 11 November 2013. Beberapa koin bertuliskan nama Alaudin Riayat Syah Al-Kahar, sultan Aceh, berdampingan dengan Sulaiman I, sultan Ottoman Turki. Penemuan ini bukti penting yang menegaskan hubungan diplomatik antara Aceh dan Ottoman sejak abad ke-16.

Sultan Al-Kahar adalah Sultan Aceh ketiga yang berasal dari Dinasti Meukuta Alam, dinasti pendiri Kerajaan Aceh. Dia berkuasa antara tahun 1537 sampai 1571. Pada masanya, Aceh menjadi kekuatan politik dan ekonomi yang dominan di Sumatra dan Semenanjung Malaka.

Portugis, yang menguasai Malaka sejak tahun 1511, menjadi rival Aceh dalam meluaskan pengaruhnya di Selat Malaka, baik dalam konteks politik maupun ekonomi. Karena itu, Aceh menjalin kontak dengan Kesultanan Ottoman untuk menjajaki kerjasama menghadapi Portugis.

“Setelah tumbuh menjadi lebih besar dari sebelumnya, Kesultanan Ottoman menjelma menjadi tempat bagi kerajaan-kerajaan Islam di Timur (India dan Kepulauan Nusantara) yang baru berkembang menaruh harapan dalam menghadapi Portugis,” tulis Giancarlo Casale dalam The Ottoman: Age of Exploration.

Utusan Aceh kali pertama datang ke Istanbul pada 1562. Mereka meminta bantuan senjata berupa meriam. Terkesan dengan utusan Aceh ini, sultan yang berkuasa saat itu, Sulaiman I, mengirimkan meriam beserta teknisinya serta seorang diplomat bernama Lutfi Bey.

Kedatangan Lutfi Bey ke Aceh menjadi penting karena berdasarkan laporannya, orang-orang Turki menjadi paham posisi strategis Aceh sebagai pusat perdagangan dan garis terdepan umat Islam dalam menghadapi Kristen Portugis di Nusantara. Aceh sendiri antusias menjadi bawahan Kesultanan Ottoman.

“Surat diplomatik yang Lutfi Bey bawa ketika dia kembali ke Istanbul pada 1566, menyatakan bahwa Sultan Al-Kahar tidak lagi ingin sekadar meminta senjata kepada Sultan Sulaiman I. Tidak pula ingin menjalin hubungan politik antar dua kerajaan yang berdiri sama sejajar. Melainkan dia ingin agar dirinya dan negerinya, Aceh, diperintah secara langsung oleh Sultan Sulaiman I sebagai ganti bantuan Ottoman dalam menghadapi Portugis,” lanjut Casale.

Antusiasme Aceh ditanggapi positif oleh Sultan Sulaiman I sebelum akhirnya dia mangkat dan digantikan Sultan Selim II. Dia memerintahkan angkatan lautnya untuk mengirim armada sebanyak 15 kapal layar ke Aceh yang bermuatan prajurit, penasehat militer, teknisi meriam, juga tukang-tukang seperti penambang, pandai besi, dan pandai emas.

Sayangnya, armada yang dijadwalkan tiba di Aceh pada 1568 terpaksa mengalihkan perjalanan ke Yaman, Arab Selatan, untuk memadamkan sebuah pemberontakan. Hanya dua buah kapal yang tiba di Aceh tanpa membawa senjata. Kedua kapal itu membawa sekelompok pedagang dan teknisi meriam, yang tidak cukup untuk memuluskan rencana Sultan Al-Kahar menyerang Portugis di Malaka pada 1570.

Penambangan dan penempaan bijih besi bukan barang baru di Aceh. Sejak zaman Samudra Pasai pada abad ke-14, timah dan emas telah ditemukan, bahkan dijadikan satuan mata uang dengan ukiran nama raja yang berkuasa di kedua sisinya. Mereka menempa mata uang timah yang bernama cash dan mata uang dari emas yang bernama mas. Sistem ini kemudian diadopsi raja-raja Aceh.

Menurut Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Sultan Al-Kahar-lah yang memperkenalkan mata uang Aceh pertama, yakni dirham.

“1 pardew (mata uang Portugis yang ditempa di Goa, India) sama dengan 4 dirham Aceh,” tulis Lombard. “Namun nilai mata uang itu sendiri sering mengalami perubahan yang besar sekali. Para penjelajah selalu memberi nilai yang berbeda-beda, kadang-kadang bahkan dalam jarak waktu yang hanya beberapa bulan.”

Nama Sultan Sulaiman I yang terukir bersanding dengan Sultan Al-Kahar dalam beberapa koin emas Aceh merupakan bukti pengakuan Kesultanan Aceh atas kekuasaan Kesultanan Ottoman sebagai pemegang inti dunia Islam saat itu. Nama Sultan Ottoman juga selalu disebutkan dalam tiap khotbah Jumat...

Senin, 07 Maret 2016

Sang Pembela Rasulullah Di Hukum Mati

pembela-nabi-1.jpg

Pembela Rasulullah dihukum mati oleh pihak negara Pakistan. Ia merupakan tentara pengawal hakim Pakistan bernama Muhammad Mumtaz Hussain.

Muhammad Mumtaz dijatuhi hukuman mati karena telah membunuh seorang Hakim Wilayah Pinjab negara Pakistan sekitar 5 tahun yang lalu. Hakim tersebut bernama Shalman Tatsir. Sang hakim dibunuh karena telah mencela dan menghina Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di depan para tentara dan juga masyarakat umum.

Kejadian tersebut bermula dari perkataan sang hakim yang menyatakan bahwa undang-undang negara Pakistan yang menegaskan tentang hukuman mati bagi para penghina Rasulullah merupakan sebuah undang-undang yang ilegal atau gelap dan harus diperbaharui (diamandemen).

Tak hanya itu saja, sang hakim lantas menghina Rasulullah dan mencaci makinya. Sontak sang pengawal Hakim bernama Assyahid Mumtaz Hussain yang berada tidak jauh dari dirinya langsung berdiri dan membunuh hakim tersebut dengan 40 tembakan peluru timah secara terus menerus. Ia tidak rela jika Rasulullah dihina dan dicaci oleh hakim tersebut.
Setelah kejadian tersebut, pihak pemerintah Pakistan justru memenjarakannya dan divonis hukuman gantung. Pelaksanaan hukuman gantung tersebut dilaksanakan pada hari Senin tepatnya tanggal 29 Februari 2016 atau 20 Jumadil Ula 1437 H.
Sang pembela Rasulullah itu pun digantung dalam keadaan tersenyum dan disebutkan bahwa ia pernah bermimpi bertemu dengan Rasulullah ketika mendekam di penjara.

Pemakamannya pun sangat ramai oleh para peziarah dan terhitung lebih dari 6 juta orang ikut menyolatkan jenazah pembela Rasulullah ini.
pembela-nabi-2.jpg

***

Sudah seharusnya bagi seorang mu’min untuk membela Rasulullah dibandingkan semua yang ada di dunia ini. Karena dengan mencintainya, keimanan kita telah dianggap sempurna.

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan berjihad di Jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq.” (QS At Taubah 24)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda dalam hadistnya.

“Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR Bukhari)

Sangat miris sekarang ini dimana banyak orang akan marah dan berlaku keras kepada mereka yang menghina keluarga dan kelompoknya. Namun ketika Rasulullah dihina dan dicaci, tak sedikit pun reaksi untuk membela meski hanya dengan sikap atau bahkan ketegasan hati.

Umat muslim kini seakan tidak peduli dengan agamanya sendiri dan menganggap agama ibarat sebuah ajaran jaman dulu yang tidak perlu lagi harus diperjuangkan ataupun diamalkan.

Dari kisah diatas menjelaskan bahwa tentara pengawal tersebut rela kehilangan pekerjaannya, jabatannya hingga nyawanya sekalipun demi kecintaannya kepada Rasulullah. Ia tidak rela jika Rasulullah yang begitu menjadi tauladan hidup manusia harus dicaci dan dimaki dengan seenaknya.

Meski menjadi kontroversi tentang benar atau salahnya sikap tersebut, namun ketahuilah bahwa cinta kepada Allah dan RasulNya akan memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan siapapun.

Wallahu A’lam

Source : Pakistan News

Jumat, 04 Maret 2016

Peranan Penguasa Dan Ulama Dalam Penyiaran Islam Di Kalimantan

Islam di Kalimantan - Peranan Penguasa dan Ulama dalam Penyiaran Islam (Sejarah Islam Asia Tenggara)
Judul : Islam di Kalimantan - Peranan Penguasa dan Ulama dalam Penyiaran Islam
Mata Kuliah :Sejarah Islam Asia Tenggara
PENDAHULUAN
Pada awal abad VII M, Allah telah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan ajaran Islam. Karena petunjuk Allah lewat kelembutan Nabi dalam penyampaian wahyu, maka Islam segera dapat tersebar dan diterima oleh sebagian penduduk dunia. Pemeluk agama Islam pertama adalah bangsa Arab, karena Islam diturunkan ditengah-tengah mereka. Kemudian didorong oleh panggilan suci maka sebagian penduduk Arab berusaha menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Mereka membawa Islam ke Indonesia dengan jalan damai dan berangsur-angsur, bukan melalui jalan paksaan atau peperangan maupun kekerasan. Sebagian ahli sejarah yang lain mengatakan bahwa Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke-13 dengan berdirinya kerajaan Islam di Aceh. Seiring hal tersebut, Islam telah pula menyebar tak terkecuali di bumi Kalimantan (1). Setelah era kegemilangan Kesultanan Islam yang dipelopori oleh Kesultanan Malaka (2) pada abad ke 15, kemudian di Nusantara sendiri pernah berdiri Kesultanan Palembang Darussalam (3) selama tahun 1659 – 1825, bumi Nusantara tidak kehilangan Kerajaan-kerajaan bercorak Islam. Hal ini ditandai dengan lahirnya kembali kesultanan atau kerajaan bercorak Islam di bumi Kalimantan. 1. Kedatangan Islam dan Perkembangannya di Kalimantan Selatan a. Awal Kedatangan Islam di Tanah Kalimantan Menurut sebagian ahli sejarah, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 atau ke 8 Masehi atau abad pertama atau kedua hijriyah melalui dua jalur, yakni : - Jalur utara dengan rute : Arab (Mekkah dan Madinah) – Damaskus – Baghdad – Gujarat (Pantai Barat India) – Srilangka – Indonesia - Jalur selatan dengan rute : Arab (Mekkah dan Madinah) – Yaman – Gujarat (Pantai Barat India) – Srilanka – Indonesia (4) Sebelum Islam masuk di Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha . Kerajaan Hindu yang ada ( abad ke 7-12 M) sebagai berikut : Kutai di Kalimantan, Taruma Negara di Jawa Barat, Mataram Hindu atau yang disebut dengan kerajaan Sanjaya di Jawa Tengah, Isana di Jawa Timur, Kediri di Jawa Timur, Galuh di daerah Galuh, Ciamis Jawa Barat, Padjajaran berpusat di Pakuan Pajajaran, sebelah barat sungai Citarum Jawa Barat, dan Warmadewa atau Udayana di Bali. Sedangkan Kerajaan Budha yang ada adalah : Kalingga di Jawa Tengah dan Syailendra di Jawa Timur.(5) Secara garis besar penyebaran Islam terjadi melalui tiga cara : 1. Perdagangan Pedagang muslim Arab selain berdagang mereka juga bertindak sebagai muballigh. Mereka datang ke Indonesia lewat Gujarat dan Srilanka sehingga ada pengertian bahwa masuknya agama Islam dibawa oleh pedagang Gujarat yang sudah tidak asli lagi. Sesungguhnya yang terjadi adalah para pedagang Arab itu singgah di Gujarat dan menyampaikan ajaran Islam kemudian bersama-sama dengan penduduk Gujarat menuju ke Indonesia. Maka agama Islam yang berkembang di Indonesia masih asli dan menarik minat penduduk, mereka mengadakan penyesuaian dengan kebudayaan daerah. 2. Pernikahan Para pedagang muslim itu ada yang menetap di Indonesia dan menikah dengan penduduk setempat. Sudah barang tentu mereka menjadi keluarga muslim dan penyebar agama Islam yang gigih. 3. Pembebasan Budak Pada masa masuknya Islam di Indonesia, perbudakan masih berlaku. Banyak budak saudagar Hindu dan Budha yang dibeli oleh saudagar muslim kemudian dimerdekakan. Mereka masuk dalam keluarga muslim karena keadilan, maka tak segan mereka akhirnya menganut agama Islam. Jelaslah Islam masuk ke Indonesia tanpa paksaan, bahkan dilandasi oleh cinta kasih dan damai. Agama Islam dapat diterima oleh sebagian penduduk Indonesia yang haus akan keadilan. Melalui ajaran tentang cinta kasih, perdamaian, persamaan tanpa membedakan kasta dan keadilan Islam dapat terus berkibar di Indonesia hingga kini. Para ulama awal yang berdakwah di Sumatera dan Jawa melahirkan kader-kader dakwah yang terus menerus mengalir. Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo (7) kala itu. Di pulau ini, ajaran Islam masuk dari dua pintu. Jalur pertama yang membawa Islam masuk ke tanah Borneo adalah jalur Malaka yang dikenal sebagai Kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan penjajah Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar. Para mubaligh-mubaligh dan komunitas Islam kebanyakan mendiami pesisir Barat Kalimantan. Jalur lain yang digunakan menyebarkan dakwah Islam adalah para mubaligh yang dikirim dari Tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini menemui puncaknya saat Kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak mubaligh ke negeri ini. Perjalanan dakwah pula yang akhirnya melahirkan Kerajaan Islam Banjar dengan ulama-ulamanya yang besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad al Banjari. (8) Berdasarkan prasasti-prasasti yang ada disekitar abad V M di Kalimantan Timur telah ada kerajaan Hindu yakni kerajaan Kutai (9). Sedangkan kerajaan-kerajaan Hindu yang lain adalah Kerajaan Sukadana di Kalimantan Barat, kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan. Pada abad XVI Islam memasuki daerah kerajaan Sukadana. Bahkan pada tahun 1590 kerajaan Sukadana resmi menjadi kerajaan Islam, yang menjadi sultan pertamanya adalah sultan Giri Kusuma. Setelah itu digantikan oleh putranya Sultan Muhammad Syafiuddin. Beliau banyak berjasa dalam pengembangan agama Islam karena bantuan seorang muballigh bernama Syekh Syamsudin. Di Kalimantan Selatan pada abad XVI M masih ada beberapa kerajaan Hindu antara lain Kerajaan Banjar, Kerajaan Negaradipa, Kerajaan Kahuripan dan Kerajaan Daha (10). Kerajaan-kerajaan ini berhubungan erat dengan Majapahit. Ketika Kerajaan Demak berdiri, para pemuka agama di Demak segera menyebarkan agama Islam ke Kalimantan Selatan. Raja Banjar Raden Samudra masuk Islam dan ganti nama dengan Suryanullah. Sultan Suryanullah dengan bantuan Demak dapat mengalahkan Kerajaan Negaradipa. Setelah itu agama Islam semakin berkembang di Kalimantan. Kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia dan sebagai kerajaan Hindu. Dengan pesatnya perkembangan Islam di Gowa, Tallo dan terutama Sombaopu, maka Islam mulai merembas ke daerah Kutai. Mengingat Kutai terletak di tepi Sungai Mahakam maka para pedagang yang lalu lalang lewat selat Makasar juga singgah di Kutai. Sebagai muballigh mereka tidak menyianyiakan waktu untuk berdakwah. Islam akhirnya dapat memasuki Kutai dan tersebar di Kalimantan Timur mulai abad XVI.(11) b. Perkembangan Islam di Kalimantan Selatan Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengIslaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti oleh elit ibukota, masing-masing disertai kelompok bubuhannya, dan oleh elit daerah, juga diikuti warga bubuhannya, dan demikianlah seterusnya sampai kepada bubuhan rakyat jelata di tingkat paling bawah.(12) Melalui hal ini, sangat dimungkinkan sekali bahwa Islam telah menjadi dasar agama dan mendarahdaging di Kesultanan Banjar. Islam berkembang sangat pesat dan memperoleh tempat yang sepantasnya di bumi Banjar. 2. Sejarah Kesultanan Banjar a. Awal Berdirinya Kesultanan Banjar Kesultanan Banjar atau Kesultanan Banjarmasin adalah sebuah kerajaan Islam yang berdiri di Kalimantan Selatan. Kerajaan ini pada mulanya berpusat di Banjarmasin (13), tetapi kemudiannya berpindah ke Martapura di Kabupaten Banjar. Banjar adalah penerus kerajaan Negara Daha, sebuah kerajaan Hindu yang beribu kota di kecamatan Daha Selatan. Ketika di Banjarmasin, Kesultanan ini mendapat nama Kesultanan Banjarmasin. Ketika awal abad ke 16, Kalimantan Selatan diperintah oleh kerajaan Negara Daha (14). Kerajaan Negara Daha merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara Dipa, kerajaan Hindu yang berkedudukan di kota Amuntai, Hulu Sungai Utara. Menurut Hikayat Banjar, Kerajaan ini semula dipimpin seorang Raja Puteri Junjung Buih yang kemudian menikah dengan seorang pangeran Majapahit, yaitu Pangeran Suryanata (Raden Putra). Sebelum Kerajaan Negara Dipa sudah berdiri sebelumnya Kerajaan Tanjung Puri, yang berada di kota Tanjung, Tabalong yang didirikan suku Melayu dan Kerajaan Nan Sarunai yang didirikan suku Dayak Maanyan di lembah sungai Tabalong. Kerajaan Nan Sarunai masih merupakan kerajaan satu etnik tertentu saja (Maanyan), sedangkan Kerajaan Negara Dipa merupakan kerajaan multi-etnik pertama di daerah ini.(15) Di daerah-daerah taklukkanya, sebuah pajak atau cukai haruslah dibayar oleh kerajaan daerah itu kepada raja Daha. Ini menyebabakan daerah Banjarmasin berkeinginan untuk keluar daripada pengaruh Daha. Ketua daerah Banjarmasin, Patih Masih, kemudiannya berbincang dengan ketua daerah lain iaitu Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung dan Patih Kuwin untuk memerdekakan daerah mereka daripada kerajaan Daha. Mereka kemudiannya berpakat untuk meminta tolong daripada Raden Samudera, seorang cucu Maharaja Sukarama; seorang raja Daha. Raden Samudera ketika itu sedang dalam penyembunyian di daerah Muara Barito kerana ancaman bapa saudaranya, Pangeran Tumenggung yang ketika itu adalah raja Daha. Dibawah pimpinan Raden Samudera, tercetuslah pemberontakan Banjar ini dengan bantuan Kesultanan Demak dari Jawa. Setelah berjaya menumpaskan kerajaan Daha, Raden Samudera memeluk Islam dan memakai gelaran Sultan Suriansyah dan dimahkotakan sebagai sultan Banjar pertama. Suriansyah adalah Sultan pertama dari Kerajaan Banjar. Sultan ini juga digelari Panembahan Batu Habang atau Susuhunan Batu Habang, yang dinamakan berdasarkan warna merah (habang) pada batu yang menutupi makamnya di Komplek Makam Sultan Suriansyah di kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Nama kecilnya adalah Raden Samudera kemudian ketika diangkat menjadi Raja di Banjarmasih oleh para patih, namanya menjadi Pangeran Samudera. Ketika memeluk Islam, namanya menjadi Sultan Suriansyah. Selain itu nama lainnya yang dipakai adalah Suryanullah. Raden Samudera adalah putera dari Puteri Galuh (Ratu Intan Sari) puteri dari Maharaja Sukarama dari Kerajaan Negara Daha. Nama "Suriansyah" sering dipakai sebagai nama anak laki-laki suku Banjar atau orang Melayu-Kalimantan.(16) b. Peranan Kesultanan Banjar Dalam Penyebaran Islam Kemenangan Raden Samudera atas Pangeran Tumenggung pada abad XVI merupakan suatu perwujudan terjadinya pergeseran politik dari negara yang ekonominya berbasiskan agraris (Daha) kepada negara yang bersifat maritim, dan Islam dijadikan sebagai agama negara. Gelar yang dipergunakan oleh Raden Samudera sejak saat itu berubah menjadi Sultan Suriansyah. Kemudian menjadi Kerajaan Banjar. Dalam Hikayat Banjar ditemui istilah-istilah seperti: Negeri Banjar, Orang Banjar, Raja Banjar dan Tanah Banjar. Istilah-itilah itu mengacu kepada pengertian wilayah Kerajaan ini, yaitu wilayah kerajaan dimana penduduknya disebut orang Banjar dan rajanya disebut Raja Banjar.(17) Kesultanan Banjar terus berkembang, hingga menghasilkan banyak keturunan dan memiliki catatan tersendiri dalam sejarah Kerajaan Islam Nusantara. Adapun silsilah raja-raja / penguasa Banjarmasin adalah (18) : 1. Raja I adalah Sultan Suriansyah 2. Raja II adalah Sultan Rahmatullah 3. Raja III adalah Sultan Hidayatullah 4. Raja IV adalah Sultan Mustainbillah 5. Raja V adalah Sultan Inayatullah 6. Raja VI adalah Sultan Saidullah 7. Raja VII adalah Sultan Tahalidullah 8. Raja VIII adalah Sultan Amirullah Bagus Kusuma 9. Raja IX adalah Sultan Agung 10. Raja X adalah Sultan Amirullah Bagus Kusuma (kedua kali) 11. Raja XI adalah Sultan Hamidullah 12. Raja XII adalah Sultan Tamjidullah 13. Raja XIII adalah Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah 14. Raja XIV adalah Susuhunan Nata Alam 15. Raja XV adalah Sultan Sulaiman Saidullah 16. Raja XVI adalah Sultan Adam Alwasikh Billah 17. Raja XVII adalah Sultan Tamjidullah Alwasikh Billah Kerajaan Banjar yang berkembang sampai abad ke-19 merupakan sebuah kerajaan Islam merdeka dengan nation atau bangsa Banjar sebagai bangsa dari Kerajaan Banjar. Pada akhir abad ke-19 ekspansi kolonial Belanda berhasil menguasai Kerajaan Banjar dan secara sepihak mengumumkan Proklamasi Penghapusan Kerajaan Banjarmasin pada tanggal 11 Juni 1860. Wilayah kerajaan yang berhasil dikuasainya dijadikan Karesidenan Afdelling Selatan dan Timur Borneo (Residentie Zuider en Oosterafdeling van Borneo). Sejak itulah bangsa Banjar turun derajatnya menjadi bangsa jajahan. Mereka tidak lagi disebut sebagai suatu nation akan tetapi hanya sebagai Urang Banjar. c. Berakhirnya Kesultanan Banjar Pemberontakan Pangeran Samudera merupakan pembuka jaman baru dalam sejarah Kalimantan Selatan sekaligus menjadi titik balik dimulainya periode Islam dan berakhirnya jaman Hindu. Sebab dialah yang menjadi cikal bakal Islam Banjar dan pendiri Kerajaan Banjar. Dalam perkembangan sejarah berikutnya pada Tahun 1859 seorang Bangsawan Banjar yaitu Pangeran Antasari (19) mengerahkan rakyat Kalimantan Selatan untuk melakukan perlawanan terhadap kaum kolonialisme Belanda meskipun akhirnya pada Tahun 1905 perlawanan-perlawanan berhasil ditumpas oleh Belanda. Pada periode pasca Proklamasi Kemerdekaan merupakan momentum yang paling heroik dalam sejarah Kalimantan Selatan, dimana pada tanggal 16 Oktober 1945 dibentuk Badan Perjuangan yang paling radikal yaitu Badan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK) yang dipimpin oleh Hadhariyah M. dan A. Ruslan, namun dalam perjalanan selanjutnya gerakan perjuangan ini mengalami hambatan, terutama dengan disepakatinya perjanjian Linggarjati pada tanggal 15 Nopember 1945. Berdasarkan perjanjian ini ruang gerak pemerintah Republik Indonesia menjadi terbatas hanya pada kawasan Pulau Jawa, Madura dan Sumatera sehingga organisasi-organisasi perjuangan di Kalimantan Selatan kehilangan kontak dengan Jakarta, kendati akhirnya pada tahun 1950 menyusul pembubaran Negara Indonesia Timur yang dibentuk oleh kaum kolonial Belanda, maka Kalimantan Selatan kembali menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia sampai saat ini.(20) 3. Peranan Ulama Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan a. Ulama di Kesultanan Banjar - Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari bin Abdullah Al-Aidrus Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812) adalah ulama fiqih mazhab Syafi'i pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Ia adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan Hukum Fiqih mazhab Syafi'i di Asia Tenggara. Jalur nasabnya adalah Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama'ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja'far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu'minin Ali Karamallah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW. Ia adalah pelopor pengajaran Hukum Islam di Kalimantan Selatan. Ulama-ulama yang muncul dikemudian hari, menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar adalah dari didikan suraunya di Desa Pagar Dalam yang didirikannya setelah kembali dari menuntut ilmu di tanah Mekkah.(21) Diriwayatkan, pada waktu Sultan Tahlilullah (1700 - 1734 M) memerintah Kesultanan Banjar, suatu hari ketika ber-kunjung ke kampung Lok Ngabang. Sultan melihat seorang anak berusia sekitar 7 tahun sedang asyik menulis dan menggambar, dan tampaknya cerdas dan berbakat, diceritakan pula bahwa ia telah fasih membaca Al-Quran dengan indahnya. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan. Kemudian atas permintaannya sendiri, pada waktu berumur sekitar 30 tahun. Sultan mengabulkan keinginannya untuk belajar ke Mekkah memperdalam ilmunya, dan lebih dari 30 tahun kemudian, setelah gurunya menyatakan sudahlah cukup bekal ilmunya, barulah ia kembali pulang ke Banjarmasin. Akan tetapi Sultan Tahlilullah seorang yang telah banyak membantu dan memberi warna pada kehidupannya telah mangkat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan HW, yaitu cucu Sultan Tahlilullah yang sejak semula telah akrab bagaikan bersahabat. Kepada Sultan Tahlilullah ia tidak sempat menyatakan terimakasihnya ataupun memberikan pengabdiannya dan mereka terpisah karena jarak dan umur.(22) Sekembalinya dari Mekkah, hal pertama yang dikerjakan nya ialah membuka tempat pengajian (semacam pesantren) bernama Pagar Dalam, yang kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kampung yang ramai tempat menuntut ilmu agama Islam. Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam dikerajaannya, meminta kepada Syekh Muhammad Arsyad agar menulis sebuah Kitab Hukum Ibadat (Hukum Fiqh) yang kelak kemudian dikenal dengan nama Kitab Sabilal Muhtadin. Sebelumnya, untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, ia telah menulis beberapa kitab serta risalah-risalah, di-antaranya ialah Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh, Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang sesat, Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri, Kitabul Faraidl, semacam hukum-perdata. Da-ri beberapa risalahnya, dan beberapa pelajaran penting yang langsung diajarkannya, oleh murid-muridnya kemudian dihimpun dan menjadi semacam Kitab Hukum Syarat, yaitu tentang syarat syahadat, sembahyang, bersuci, puasa dan yang berhubungan dengan itu, dan untuk mana biasa disebut Kitab Parukunan. Mengenai bidang Tasauf {semacam Filsafat Ketuhanan) ia juga menuliskan pikiran-pikirannya dalam Kitab Kanzul-Makrifah.(23) Karya Tulis Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari (24): 1. KITAB USHULUDIN Kitab yang berkaitan dengan keimanan dan ketauhidan, sifat-sifat Allah SWT dan Rasulullah SAW. Ditulis tahun 1774 M. 2. KITAB LUQTHATUL ‘AJLAN FI BAYANI HAIDHI WA ISTIHADHATI WA NIFASINNISWAN Kitab yang berisi mengenai haidh, istihadhah dan nifas. 3. KITAB FARA-IDH Kitab yang berisi mengenai hukum waris. 4. KITAB TUHFATURRAGHIBIEN Kitab yang berisi tentang iman, hal-hal yang merusak iman, tanda-tanda orang murtad dan hukumnya. Ditulis tahun 1774 M 5. KITAB AL-QAULUL MUKHTASHAR FI ‘ALAMATIL MAHDIL MUNTAZHAR Kitab yang berisi mengenai turunnya Imam Mahdi, Nabi Isa As, tentang Dajjal, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Ditulis tahun 1196 H. 6. KITAB ILMU FALAK Kitab yang berisi tentang cara menghitung kapan terjadinya gerhana matahari dan bulan. 7. KITABUN NIKAH Kitab yang berisi mengenai perwalian dan tata cara aqad nikah yang telah dicetak di Turki. 8. KITAB KANZUL MA’RIFAH Kitab Ilmu Tasauf 9. FATWA SULAIMAN KURDI Risalah fatwa-fatwa Syeikhul Islam Imamul Haramain ‘Alimul ‘Allamah Muhammad bin Sulaiman Al Kurdie. 10. KITAB SABILAL MUHTADIEN LITTAFAQQUH FI AMRIDDIN. Kitab Ilmu Fiqih 11. MUSHAF AL QURAN AL KARIEM Al Quran yang ditulis dengan perasaan seni (Kaligrafi) 12. KITAB FATHUL JAWAD Memuat ketentuan fikih tentang hak pemilikan, penguasaan, dan penggunaan tanah Beliau meninggal dunia pada malam Selasa yaitu di antara waktu Maghrib dan Isyak, pada 6 Syawal 1227 Hijrah bersamaan 13 Oktober 1812 Masehi. Beliau meninggal dunia pada usia 105 tahun dengan meninggalkan sumbangan yang besar terhadap masyarakat Islam di Nusantara. Bagi mengenang jasa dan sumbangan beliau, beberapa tempat di Indonesia telah mengabadikan nama dan karya beliau. Antaranya ialah Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad al Banjari dan Masjid Raya Sabilal Muhtadin.(25) b. Peranan Ulama di Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan Intensitas keberagamaan masyarakat Banjar meningkat tajam setelah Syekh Arsyad al-Banjari kembali dari mengaji di tanah Arab dan membuka pengajian di Dalam Pagar, sebuah perkampungan yang dibangunnya di atas tanah perwatasan yang dihadiahkan oleh sultan kepadanya, terletak sekitar lima kilo meter dari keraton. Murid-muridnya kemudian membuka pengajian pula di tempatnya masing-masing, yang antara lain adalah keturunannya sendiri, seakan-akan merupakan perwjudan dari hasil munajatnya kepada Tuhan agar dikaruniai ilmu keagamaan sampai tujuh keturunan ("alim tujuh turunan").(26) Setelah berada selama 30 tahun di Makkah dan lima tahun di Madinah, Syeikh Muhammad Arsyad al Banjari pulang ke tanah air untuk menyebarkan Islam. Setibanya beliau ke kampung halaman, beliau membuka pusat pusat pengajian untuk memudahkan masyarakat Islam menimba ilmu pengetahuan. Selain itu, Syeikh Muhammad Arsyad turut membiasakan diri bersama orang kampung berkebun, bersawah, dan bertani. Di samping aktif mengajar dan mendidik masyarakat Islam yang datang dari pelbagai pelosok daerah, beliau turut turun berdakwah ke segenap lapisan masyarakat yang terdiri daripada rakyat biasa hinggalah kepada golongan pembesar dan bangsawan. Dalam menyampaikan dakwah, Syeikh Muhammad Arsyad menggunakan pelbagai kaedah pendekatan iaitu Dakwah bil Hal (dakwah yang menggunakan pendekatan contoh dan akhlak yang dipamerkan oleh beliau), Dakwah bil Lisan (dakwah dengan menggunakan pendekatan lidah iaitu mengajak dan menyeru) dan Dakwah bil Kitabah (dakwah dengan menggunakan pendekatan penulisan buku dan risalah).(27) FOOT NOTE 1. Kalimantan adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa dan di sebelah Barat Pulau Sulawesi. Terbagi menjadi wilayah Brunei, Indonesia dan Malaysia. Seringkali pulau ini secara keseluruhan disebut Borneo sedangkan wilayah Indonesia disebut Kalimantan, lalu wilayah Malaysia disebut Sarawak dan Sabah. Selain itu ada pula kesultanan Brunei. http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan 2. Kerajaan Malaka didirikan oleh Parameswara antara tahun 1380-1403 M. Pada awalnya Malaka bukanlah sebuah Kerajaan beragama Islam. Hal ini berubah ketika Parameswara menikah dengan Putri Sultan Zainal Abidin dari Pasai dan masuk Islam pada tahun 1406, ia mengubah namanya menjadi Muhammad Iskandar Syah, dan menjadi Sultan Malaka. Selanjutnya, Malaka menjadi pusat perkembangan agama Islam di Asia Tenggara, hingga mencapai puncak kejayaan dimasa pemerintahan Sultan Mansyur Syah (1459-1477). Pada 10 Agustus 1511, sebuah armada laut Portugis yang besar dari India diketuai oleh Alfonso de Albuquerque datang ke Malaka kemudian akhirnya brehasil meruntuhkan Kesultanan Malaka. http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan _Malaka 3. Kesultanan Palembang merupakan sebuah Kerajaan Melayu Islam bercorak maritim yang berkedudukan di Palembang. Ia mulai memainkan peranan dalam sejarah Indonesia pada pertenghan abad ke-16, dan berakhir pada abad ke-19 setelah secara sistematis dan berencana dapat di kuasai oleh Belanda. Menurut sebuah versi Kesultanan Palembang dipimpin untuk pertama kali oleh Kyai Gedeng Suro. Di dalam sebuah catatan yang telah diterbitkan Woelders (1976: 118-9 ) yang didalam tulisan dinamakan “Daftar Raja-raja Palembang” diceritakan: Raja No 1 pada tahun 966 H yaitu Keding Suroh, lamanya ia menjadi raja dua likur tahun. Raja No 2 pada tahun 968 H diganti saudaranya Keding Ilir, lamanya setahun, tetapi ia berjuluk juga keding Suroh. http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan _Palembang 4. http://hbis.wordpress.com/2007/11/29/islam-di-indonesia 5. Ibid. 6. Borneo adalah nama alternatif untuk Kalimantan. Seringkali istilah ini dipakai untuk merujuk pulau "Borneo" atau "Kalimantan" secara keseluruhan. Sedangkan kata "Kalimantan" yang sebagian besarnya merupakan bekas wilayah Kerajaan Banjar hanya dipakai untuk merujuk ke bagian Indonesia. Sedangkan bahagian keseluruhan berikut Sabah, Sarawak dan Brunei disebut "Borneo". Pulau "Borneo" merupakan yang terbesar ketiga di dunia. Dan merupakan satu-satunya pulau di dunia yang terbagi kedalam 3 negara. Kata "Borneo" secara etimologis berasal dari kata Brunei, kerajaan yang pernah memerintah sebagian besar wilayah utara pulau ini (Sabah, Sarawak), meskipun sekarang hanya menguasai daerah sangat kecil saja. http://id.wikipedia.org/wiki/Borneo 7. Kesultanan Demak, adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan bagian dari kerajaan Majapahit, dan kesultanan ini merupakan pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kesultanan Demak mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan antar kerabat kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kesultanan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir. Salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang diperkirakan didirikan oleh para Walisongo. Lokasi ibukota Kesultanan Demak saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah. http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan _Demak 8. http://faktaandalusia.wordpress.com/2007/08/09/sejarah-awal-islam-kalimantan 9. Kutai Martadipura adalah kerajaan tertua bercorak Hindu di Nusantara dan seluruh Asia Tenggara. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut. Nama Kutai diberikan oleh para ahli karena tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini. Karena memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh akibat kurangnya sumber sejarah. http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kutai_Martadipura 10. Kerajaan Negara Daha adalah sebuah kerajaan Hindu (Syiwa-Buddha)yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan. Pusat ibukota kerajaan ini semula berada di kota Negara (kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan) dan terakhir di Marampiau (kecamatan Candi Laras Selatan, Tapin) berdekatan dengan lokasi situs Candi Laras, sedangkan Bandar perdagangan berada di Bandar Muara Bahan (sekarang kota Marabahan, Barito Kuala). Kerajaan Negara Daha merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara Dipa yang berkedudukan di Candi Agung, kota Amuntai, Hulu Sungai Utara. Yang terletak di sekitar percabangan sungai Bahan (sungai Negara) yang bercabang menjadi sungai Tabalong dan sungai Balangan dan sekitar sungai Pamintangan (sungai kecil anak sungai Negara). Untuk menghindari bala bencana ibukota kerajaan dipindahkan ke arah hilir sungai Negara (sungai Bahan) sehingga disebut dengan nama yang baru sesuai letak ibukotanya ketika dipindahkan yaitu Kerajaan Negara Daha. http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Negara_Daha 11. http://hbis.wordpress.com/2007/11/29/islam-di-indonesia 12. http://www.indomedia.com/bpost/pudak/journal/islam.htm#1 13. Kota Banjarmasin adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota dari provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 72 km² atau 0,019% dari luas wilayah Kalimantan Selatan. Jumlah penduduk di kota ini adalah sebanyak 527.250 jiwa (2000) dengan kepadatan penduduk 7.325/km². http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Banjarmasin 14. http://ms.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banjar 15. http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banjar 16. http://wikipedia.org/wiki/Borneo 17. http://soborneo.blogspot.com/2006/04/sejarah-perkembangan-penduduk.html 18. http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banjar 19. Keruwetan politik dalam negeri Kesultanan banjar ini ahirnya menimbulkan meletusnya Perang banjar selama 4 tahun (1859 – 1863). Pada periode konflik fisik itulah, yaitu pada tahun 1859, muncul seorang pangeran setengah baya yang telah disingkirkan haknya, memimpin perlawanan terhadap Belanda. Dialah Pangeran Antasari yang lahir tahun 1809. Pangeran ini, telah bekerja sama dengan para petani. Dua tokoh pimpinan kaum petani saat itu Panembahan Aling dan Sultan Kuning, telah membantu Antasari untuk melancarkan serangan besar-besaran. Mereka menyerang pertambangan batubara Belanda dan pos-pos misionaris serta membunuh sejumlah orang Eropah. Sehingga pihak Kolonial mendatangkan bantuan besar-besaran. Antasari kemudian bergabung dengan kepala-kepala daerah Hulu Sungai, Marthapura, Barito, Pleihari, Kahayan, Kapuas, dan lain-lain. Mereka bersepakat mengusir Belanda dari Kesultanan Banjar. Maka perang makin menghebat, dibawah pimpinan Pangeran Antasari. Pernah pihak Belanda mengajak berunding, tetapi Pangeran Antasari tidak pernah mau. Daerah pertempurannya meliputi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Pada tahun 1862 Pangeran Antasari merencanakan suatu serangan besar-besaran terhadap Belanda, tetapi secara mendadak, wabah cacar melanda daerah Kalimanatan Selatan, Pangeran Antasari terserang juga, sampai ia meninggal pada 11 Oktober 1862 di bayan Begak, Kalimantan Selatan. Kemudian ia dimakamkan di Banjarmasin.

Kedekatan Bung Karno Dengan Ulama Banjar

Habib Alwi Barabai dan Presiden Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno menjabat erat tangan Habib Alwi bin Abdullah Al-Habsyi (Kapten Arab) Soekarno tak berusaha cepat-cepat melepaskan genggamannya kepada sesepuh masyarakat Barabai itu. Obrolan ringan pun terjadi antara kedua tokoh yang sama-sama memiliki kharisma ini. “Presiden Soekarno lawas maingkuti (lama memegang, red) tangan Habib Alwi,” ujar Syarifah Syehun, 80 tahun, putri Habib Alwi, mengenang kembali peristiwa penuh makna bagi warga Barabai yang berlangsung di Balai Rakyat, Barabai tahun 1953 itu. Soekarno ketika itu datang ke Kalimantan Selatan dalam suatu kunjungan kenegaraan. Masyarakat Barabai sepakat menunjuk Habib Alwi, seorang yang pernah menjabat Kapten Arab (Kaptein der Arabieren) di Banjarmasin, untuk mewakili mereka menyambut Bung Karno. Mengetahui bahwa yang akan datang ke Barabai adalah seorang Kepala Negara, warga masyarakat Kampung Kamasan yang terkenal sebagai perajin logam mulia emas sepakat membuat kenangan- kenangan kepada Bapak Bangsa. Mereka secara khusus membuat persembahan kerajinan (souvenir) berwujud tugu pahlawan dari emas. Souvenir itu miniatur dari bangunan tugu yang menghiasi alun-alun kota Barabai. “Habib Alwi yang tukang julung (yang menyerahkan, red),” kata Syarifah Syehun. Entah mengapa mereka menunjuk Habib Alwi sebagai wakil mereka. Padahal saat itu hadir lengkap orang-orang besar para petinggi daerah Hulu Sungai. Mungkin warga Barabai menilai hanya Habib Alwi yang pantas berdiri berhadapan dengan Soekarno. Waktu berjabat tangan dan berhadap-hadapan muka itulah mengalir percakapan antara mereka berdua: “Siapa nama Pak Haji,” ujar Presiden Soekarno. “Saya Sayyid Alwi,” jawab Habib Alwi. “Pak Sayyid orang Arab?” “Ya, saya orang Arab, lahir di Hadralmout.” “Mengapa orang Arab mau membantu perjuangan orang Indonesia?” “Saya muslim, dia juga juga orang muslim. Jadi wajib membantu. Ihkwanul muslimin (persaudaraan sesama orang Islam). “Kenapa Ibu (Fatmawati) tidak dibawa,” Habib Alwi yang gantian bertanya. “Baru bersalin, baru melahirkan,” jawab Soekarno. (Ibu Negara Fatmawati tidak bisa mendampingi kunjungan kenegaraan Bung Karno ke Kalimantan Selatan karena baru melahirkan Guruh Soekarnoputra). “Nanti Tuan datang ke Djakarta. Saya tunggu,” lanjut Soekarno. “Ya, nanti saya ke Batavia.” (Seorang wedana di Hulu Sungai membisiki Habib Alwi yang benar adalah Jakarta) “Bukan, sekarang Jakarta,” kata Soekarno. “Yakarta,” ujar Habib Alwi mengoreksi ucapannya. (Habib Alwi menyebut J dengan lafal Y). Hingga Habib Alwi meninggal dunia tahun 1967, ia tak memenuhi undangan pribadi Presiden pertama Republik Indonesia itu.

Jumat, 05 Juni 2015

Pasukan Elit Muslim JANISARRY (Ottoman Empires)

janisari.jpg
Dari namanya saja begitu asing di telinga. Sebenarnya Janisari merupakan salah satu pasukan elit muslim yang dimana saat itu agama Islam sedang berada di puncak penguasaan zaman. Bahkan kaum barat yang sekarang dengan congkak menginjak injak umat muslim dahulunya adalah kaum yang belum mengetahui peradaban. Tetapi semua itu berubah ketika Islam telah merambah dunia barat. Kata Janisari (berasal dari bahasa Turki Utsmaniyah: ينيچرى (Yeniçeri) yang berarti “pasukan baru”) adalah pasukan infanteri yang dibentuk oleh Sultan Murad I dari Kekalifahan Bani Seljuk pada abad ke-14. Pasukan ini berasal dari bangsa-bangsa Eropa Timur yang wilayahnya berhasil dikuasai oleh Turki. Utsmani Tentara ini dibentuk tak lama setelah Kekaisaran Byzantium kalah oleh Turki Utsmani. Alasan utama pembentukan laskar Janisari adalah karena tentara Turki Utsmani yang ada tidak memadai, terutama karena terdiri dari suku-suku yang kesetiaanya diragukan. Janisari awalnya adalah para tahanan perang (terutama yang asalnya dari Eropa Timur – Balkan) yang diampuni tetapi dengan syarat harus membela Kekaisaran Turki Utsmani. Sejalan dengan waktu, untuk memastikan kesetiaan kesatuan ini, selanjutnya Sultan punya ide untuk merekrut pasukan Janisari ini dari budak yang masih bocah, sehingga mereka bisa diajari (didoktrin) untuk membela dan mengawal Sultan. Pada masa itu, pasukan Janisari ini adalah pasukan terkuat di dunia. Konon pasukan ini adalah pasukan yg pertama sekali memakai senapan. (yang kemudian ditiru oleh orang Eropa). Saat itu Turki memiliki persediaan mesiu yang cukup banyak (dimana pada saat itu di daerah lain masih langka). Pasukan ini adalah pasukan kedua setelah Mongol yang berhasil menjajah Eropa. Janisari adalah brigade terpisah dari pasukan reguler Turki yang bertugas mengawal Sultan Dinasti Utsmani (Ottoman Empire). Sedangkan Bani Seljuk adalah Dinasti sebelum Utsmani. Utsman diambil dari pemimpin kabilah Osmani yg mempunyai kekuatan yang besar sewaktu Bani Seljuk masih berkuasa. Waktu Seljuk pecah, kabilah yang dipimpin Osmani menyatukannya kembali dibawah bendera baru. Kekuasaan Turki Utsmani mencapai seluruh wilayah di Balkan dan Eropa Tenggara. Kota Wina dua kali diserang oleh kakuatan Turki Utsmani, tetapi karena seluruh kerajaan di Eropa bersatu untuk membendung dengan kekuatan penuh dan logistik yang memadai, ambisi Turki Utsmani untuk menguasai seluruh Eropa tidak berhasil. Pasukan jannisarry terbagi menjadi 2 type yaitu : 1. Jannisarry Heavy Infantry, merupakan pasukan infantry bentukan pertama yang membawa nama harum pasukan turki ke berbagai belahan eropa dan asia, pasukan ini menggunakan baju zirah dan rantai besi, tidak membawa tameng dan bersenjatakan haldberd (semacam tombak panjang yang memiliki mata kapak). pasukan ini sangat ganas dan nyaris tak terkalahkan dalam setiap pertempuran. (coba mainkan game “MEDIEVAL TOTAL WAR 2) 2. Jannisarry Musketter (Kaveleri). Setelah sukses menguasai sebagian besar eropa, maka kekaisaran ottoman mulai membentuk satuan pasukan penembak khusus yang dicomot dari pasukan infantry janissary terdahulu, dan diberikan senapan teknologi terbaik di jamannya yaitu ” musketter” yang lebih baik dari hand gun biasa… Selain Janisari, Turki Utsmaniyah juga masih mempunyai kesatuan elite lainnya, yaitu: Tentara Ghulam, Cavalary Sipahi, dan tentunya pasukan Onta. Pakaian khas Janisari adalah sejenis long musket. Ciri khasnya adalah topinya yang memakai tutup kain dari depan ke belakang leher, menyerupai sorban. Kisah terkenal mengenai kehebatan pasukan ini adalah ketika Byzantine kalah total saat Constantinopel ditaklukan oleh Turki Utsmani yang dipimpin oleh Sultan Mahmud Al-Fatih, beliau anak dari Sultan Murad II. Saat itu Janisari adalah pasukan yang berperan penting dalam pertempuran tersebut. Yang menarik, pada zaman Sultan Mahmud, Pasukan Janisari termasuk yang ikut bertempur melawan Dracula si Penyula dari Wallachia dekat Transevalnia yang haus darah. Dracula (Vlad Teppes) sempat dikalahkan adiknya sendiri yaitu Radu yang saat itu menjadi pemimpin Janisari untuk menaklukan Dracula. (Dracula artinya anak Dracul atau anak naga karena bapaknya adalah Vlad Dracul yang menjadi anggota Ordo Naga). Selama beberapa abad Janisari bertahan sebagai pasukan elit pengawal Sultan. Karena statusnya itu Janisari, baik secara jumlah dan status berkembang semakin besar. Sekitar abad 19 Janisari dibubarkan oleh Sultan Mahmud II pada tahun 1826 karena terjadinya insiden Auspicious, dimana laskar Janisari mencoba melakukan kudeta terhadap kekaisaran Turki Ottoman.

Selasa, 30 Desember 2014

Kesultanan Ustmaniyah (Ottoman Empires)

ottoman-sultan-selim-iii.jpg
KESULTANAN USTMANIYAH TURKY Kerajaan Ottoman adalah titik awal yang jelas, sebab semenjak pendudukannya terhadap Eropa Tenggara, kerajaan Ottoman menjadi pengulangan kolonialisme Islam yang agresif. Ottoman atau keluarga Bani Osmani ini adalah bagian kecil dari keseluruhan suku-suku bangsa Turki yang dikenal sebagai bangsa Turki yang masuk ke Anatolia atau Asia Kecil semenjak abad ke sebelas yang lalu. Bangsa ottoman adalah pemimpin- pemimpin yang terus-menerus berjuang menentang Byzantine, terutama setelah mereka bergerak ke Anatolia barat laut di abad ketiga belas. Pengikut-pengikutnya mendapatkan reputasi sebagai ghazi atau prajurit yang berjuang memerangi umat Kristen karena Iman, dan sebagai akibatnya adalah suksesinya yang sekarang dikenal sebagai dinasti Ottoman, yang menampung kerajaan-kerajaan kecil bangsa Turki yang lain. Pada tahun 1357 mereka menyeberangi Dardenalles menuju ke semenanjung Gallipoli dan sebelum akhir abad empat belas telah menduduki beberapa propinsi di kerajaan Byzantine, termasuk Yunani dan Bulgaria. Konstantinople sendiri akhirnya jatuh pada tahun 1453. Awal abad ke enam belas adalah periode derasnya ekspansi Ottoman lebih lanjut. Pada tahun 1517 Syria dan Mesir diduduki dari raja-raja Mamluknya, walaupun sesudah kemenangan pada tahun 1526 sebagian besar wilayah Hongaria berada di bawah kekuasaan Ottoman dan pada tahun 1529 tentara Ottoman mengepung Vienna sekalipun tidak berhasil merebut wilayah tersebut. Semenjak tahun 1534 bangsa Ottoman mempunyai angkatan laut yang handal di Lautan Tengah dan melaksanakan tugasnya dalam perang dengan Spanyol dan kekuasaan kekuasaan Eropa yang lain. Algeria segera mereka kuasai dan akhirnya menambahkan Tunisia sebagai wilayah kerajaan Ottoman. Ottoman juga melanjutkan ekspansinya menuju ke bagian tenggara, menduduki Iraq dan bagian-bagian wilayah Arabia dan mempertahankan armadanya di Samudera Hindia. Elite Ottoman melihat peristiwa ini sebagai ekspansi Islam yang berlangsung terus- menerus sampai meliputi seluruh dunia dan perencanaan administrasi negara Kerajaan dirancang untuk mempromosikan ekspansi lebih lanjut. Bagi bangsa Eropa Barat, kemajuan Ottoman merupakan agresi Islam. Dengan agresi Islam ini menegaskan bahwa Islam adalah agama kekejaman dan agama pedang, yang menakutkan. Maka tidak mengherankan kalau pada tahun 1542, Dewan Kota Praja Basel di Switzerland membekukan sebuah penerbit karena mencoba menerbitkan terjemahan Al Qur'an yang digarap oleh Robert dari Ketton. Dewan Kota Praja ini mempertengkarkan kalau "dongeng dan bid'ah yang dibuat-buat" dalam Al Qur'an itu mengganggu umat Kristen. Namun demikian, sang pembaharu besar -- Martin Luther mendesak bahwa penerbitan itu akan lebih berbahaya ketimbang menguntungkan umat Islam dan terlebih dahulu harus dihilangkan pada tahun 1543 bersamaan dengan bahan-bahan ilmiah tentang Islam yang lain. [1] Selama satu setengah abad kerajaan Ottoman masih tetap kuat, namun di perempat akhir abad ke tujuh belas, mulailah timbul tanda-tanda kelemahannya. Pengepungan atas Vienna di tahun 1683 lagi-lagi mengalami kegagalan dan kerajaan Ottoman kini menghadapi Persekutuan Suci dari Austria, Polandia, Vennice dan Paus, begitu pula bangsa Rusia. Semenjak tahun 1699 mereka telah banyak menderita kekalahan dan dalam perjanjian damai Karlovitz, Ottoman harus menyetujui penyerahan wilayah-wilayahnya kepada Austria, Vennice dan Polandia. Sungguhpun demikian, mereka tetap mempertahankan Eropa bagian tenggara, termasuk pantai barat dan utara Laut Hitam. Namun pada abad sembilan belas, Kerajaan Ottoman kembali kehilangan sebagian besar wilayahnya yang dimulai dengan kemerdekaan Yunani pada tahun 1829 dan pendudukan Perancis atas Algeria pada tahn 1830. Oleh karena kekuatan-kekuatan bangsa Eropa inilah kerajaan Ottoman menjadi "the sick man of Europa" Orang Eropa yang sakit dan hanya persaingan mereka inilah yang mencegah terjadinya perpecahan-perpecahan yang dahulunya pernah terjadi. Setelah kekalahannya dalam perang Balkan di tahun 1912-1913, semua wilayah ini masih tetap berada di bawah Kerajaan Ottoman, dengan wilayah Eropanya adalah kawasan di sekitar Istanbul meluas sampai ke sebelah utara Edirne (Adrianople) dan ke barat sampai ke Gallipoli. Pada tahun 1922 bangsa Turki di bawah kekuasaan Mustafa Kemal menghapus nama Kerajaan Ottoman dan diganti dengan bentuk Republik Turki. Wilayah-wilayah propinsi Asia dan Afrika dahulu telah hilang kecuali Anatolia yang masih berada di wilayah Republik Turki ini. Mesir agaknya merupakan kasus khusus. Muhammad Ali, opsir Ottoman keturunan Albania, yang datang ke Mesir dengan tentaranya yang mengusir Perancis. Muhammad Ali sejak tahun 1805 mengangkat dirinya sebagai pimpinan negara Mesir dan dikenal oleh penguasa- penguasa Ottoman di Istanbul sebagai Pasha atau gubernur dan jabatan pasha ini diberikan oleh nenek moyang leluhurnya secara turun-temurun. Modernisasinya di bidang militer menjadikannya mampu merebut Sudan dan bahkan Syria dalam sesaat, dan secara umum mulai memperkenalkan pendidikan model Eropa bagi bangsa Mesir. Semenjak tahun 1882, para pengganti Muhammad Ali ini dengan amat berat berhutang kepada kekuatan- kekuatan bangsa Eropa sebagai hasil kemajuan militer dan menghabiskan dana yang begitu besar, serta keuangan negara berada di bawah kontrol Eropa. Ketika terjadi revolusi militer yang akan membahayakan stabilitas keamanan negara, Inggris ikut campur tangan atas separuh kreditor bangsa Eropa dan semenjak saat itulah sampai tahun 1922 Residen Inggris adalah penguasa Mesir yang sebenamya, sekalipun secara nominal masih merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Ottoman dengan keturunan Muhammad Ali sebagai Khedive atau kepala negara. Pada tahun 1922 Mesir menjadi negeri yang merdeka secara formal dengan rajanya adalah Fu'ad I.

Minggu, 16 November 2014

Hikayat Iskandar Zulkaqarnain (Alexander Yang Agung)

alexander-the-great.jpg Iskandar Zulkarnain dikenali sebagai raja dan penakluk yang tiada tolak bandingnya. Di kalangan umat Islam, beliau dikenali sebagai Iskandar Agung. Manakala dalam masyarakat Barat, beliau dipanggil Alexander The Great. Namun, perbezaan nama itu menimbulkan persoalan yakni adakah kedua-dua nama itu orang yang sama ataupun tokoh yang berbeza. Persoalan ini masih belum terjawab. Di kalangan ulama dan para sarjana, mereka berbeza pendapat mengenai perkara ini kerana terdapat beberapa perbezaan dan ketidakselarasan cerita mengenai Iskandar Zulkarnain mengikut versi Islam dan barat. Namun begitu A. Yusuf Ali, salah seorang ulama yang terlibat dalam menterjemah dan mentaksirkan al-Quran ke dalam bahasa Inggeris, menyimpulkan bahawa Iskandar Zulkarnain yang disebut dalam Quran dan sejarah Islam sama dengan Alexander The Great di barat. Perbezaan nama itu timbul kerana Raja Iskandar Zulkarnain menguasai empayar yang luas melangkaui dari benua Eropah sampai ke Timur Jauh. Beliau memerintah dua kerajaan dunia iaitu Timur dan Barat. Iskandar Zulkarnain pernah memimpin bala tentera ke Parsi, India, Bulchistan, dan Asia Tenggara. Malahan pernah belayar mengelilingi Semenanjung Tanah Melayu dan singgah di kota Medang Kamulan timur yang terletak di Kelantan.Di Medang, Iskandar Zulkarnain merancang untuk menguasai seluruh Kepulauan Melayu. Menurut catatan sejarah, Iskandar Zulkarnain berada Pulau Jawa selama 20 tahun untuk tujuan berdakwah. Setelah itu, beliau memimpin angkatan tenteranya menuju ke China. Kedatangannya mendapat tentangan yang hebat daripada Maharaja China. Tetapi bala tentera Iskandar Zulkarnain terlalu kuat dan akhirnya tentera China menyerah kalah.Maharaja China terpaksa menyerahkan bahagian timur Wilayah Shensi kepada Iskandar Zulkarnain. Beliau telah melantik seorang gabenor dan menamakan wilayah itu ‘Shang’ iaitu dari sebutan Cina ‘Yaksan’, nama asal Iskandar Zulkarnain. Selepas berjaya menguasai sebahagian wilayah Shang, China, Iskandar Zulkarnain meneruskan misi penaklukan ke negara Korea sebelum menyeberang ke Kepulauan Jepun. Dengan itu, tercapailah hasrat Iskandar Zulkarnain untuk sampai ke negara matahari terbit iaitu tempat yang paling hujung di sebelah timur. Di setiap negara yang ditaklukinya, Iskandar Zulkarnain telah mengambil kesempatan untuk menyebarkan agama Nabi Ibrahim. Hampir tiga perempat dan penjuru dunia telah dijejaki oleh Iskandar Zulkarnain. Perihal ini ada disebut dalam al-Quran bahawa Iskandar Zulkarnain telah sampai ke negara matahari jatuh iaitu Norway dan terbit yakni Jepun. Sebab itulah beliau digelar “Zulkarnain” yang dalam bahasa Arab membawa pengertian “yang mempunyai dua tanduk”. Dua tanduk itu merujuk kepada dunia barat dan timur. Iskandar Zulkarnain dipercayai hidup lebih 3500 tahun yang lalu.Mengikut kitab Sulalatus Salatin, raja-raja Melayu merupakan keturunan Iskandar Zulkarnain. Ramai pengkaji sejarah meragui hubungan tersebut dan menyifatkannya sebagai percubaan penulis kitab itu untuk mengangkat martabat dan menunjukkan kehebatan serta kemuliaan raja- raja pada zaman dahulu. Sesetengah pula yang menyifatkannya sebagai mitos yang sengaja diadakan. Begitu juga legenda mengenai Iskandar Zulkarnain sengaja diperbesar- besarkan.Mengikut legenda barat, Raja Iskandar Agung pernah membina tembok gerbang besi bagi menyekat Yakjuj dan Makjuj yang lari ke sebuah gunung. Tujuannya ialah untuk mengelakkan kedua-dua makhluk ini daripada membuat onar dan mencetuskan huru-hara. Gerbang besi ini kononnya pernah ditemui oleh seorang pengembara China pada kurun ke-7 Masihi. Pengembara yang bernama Hiouen Tsiang menjumpai gerbang itu ketika dalam perjalanannya ke India. Beliau hanya menemui dua daun pintu yang diperbuat daripada besi dan digantung dengan loceng- loceng. Pintu gerbangnya sudah tidak wujud lagi. Keadaan ini mungkin disebabkan gerbang besi itu telah dirobohkan oleh orang-orang Monggol yang keluar menjelajah ke barat. Tembok gerbang besi itu dipercayai terletak di sebuah daerah yang bernama Hissar iaitu lebih kurang 150 batu dari Bukhara. Kisah Iskandar Zulkarnain turut disebut secara tidak langsung dalam kitab Injil. Iskandar Agung atau Alexander The Great dibayangkan sebagai seorang raja yang gagah perkasa dan memerintah jajahan yang besar. Namun empayar jajahannya musnah selepas kematiannya. Josephus, seorang ilmuwan yang berbangsa Yahudi-Palestin yang hidup hampir sezaman dengan Nabi Isa a.s. pernah menulis secara panjang lebar mengenai lawatan Iskandar Zulkarnain ke Juruselam dan Baitul Mukaddis yang menjadi kota suci kepada orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam.Baitul Mukaddis pernah diperintah oleh Nabi Sulaiman dan Nabi Daud. Selepas kewafatan kedua-dua nabi tersebut, orang Yahudi berbalah sesama sendiri dan menyebabkan kota itu jatuh ke tangan Iskandar Zulkarnain. Selepas Iskandar Zulkarnain meninggal dunia, Baitul Mukaddis jatuh pula ke tangan beberapa kuasa seperti Rom, Parsi, dan Islam. Sehingga ke hari ini, Baitul Mukaddis masih menjadi rebutan di kalangan orang-orang Islam, Yahudi, dan Nasrani dan menyebabkan pergolakan di Palestin masih menjadi isu yang tidak kunjung selesai.Yang lebih menarik dan pelik mengenai Iskandar Zulkarnain ialah beliau dikatakan pernah berguru dengan Aristottle, anak murid Plato, ahli falsafah Yunani yang terkenal. Justeru itu, timbul persoalan apakah Aristottle merupakan seorang yang beragama Islam kerana tidak mungkin bagi Iskandar Zulkarnain yang menganut ajaran Nabi Ibrahim mempelajari sesuatu yang bertentangan dengan akidah dan kepercayaannya. Bukan sekadar itu, Iskandar Zulkarnain juga dikatakan memperturunkan zuriatnya di Asia Tenggara, India, dan Parsi. Di antaranya ialah “Bharata” yang lahir di Pulau Jawa. Daripada “Bharata” pula lahir Anushirwan yang menjadi Raja Parsi dan turun kaum Pandawa serta Kaurawa dalam abad pertama Masihi.Nampaknya terdapat usaha daripada pelbagai bangsa dan kaum untuk menghubungkan keturunannya dengan Iskandar Zulkarnain. Jadi sudah tentu Iskandar Zulkarnain merupakan seorang tokoh dunia yang begitu hebat sehingga namanya disebut hampir dalam kebanyakan peradaban besar dan utama dunia. Setiap bangsa dan peradaban mempunyai panggilan yang tersendiri terhadap Iskandar Zulkarnain. Mereka cuba menampilkan sifat- sifat Iskandar Zulkarnain mengikut acuan serta nilai masyarakatnya. Oleh hal yang demikian, bukan suatu perkara yang menghairankan kalau Iskandar Zulkarnain mempunyai nama dan panggilan yang lain selain daripada Iskandar Agung dan Alexander The Great. Hal ini kerana pada hakikatnya kedua-duanya merupakan orang dan tokoh yang sama. Source : Buku Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia

Rabu, 06 Agustus 2014

Ini Fakta Sejarah Yg Di Sembunyikan Bahwa Pemerintah Islam Lah Yg Pertama Kali Mengakui Kemerdekaan Amerika

pemerintah-islam-aku-nega.jpg Pada tahun1776. Saat itu 13 Koloni Amerika, yang sedang berperang melawan penguasa Inggris Raya, tiba- tiba mengumumkan kemerdekaan mereka. Koloni yang sebelumnya dibentuk dari emigrasi warga Inggris puritan, setelah gagal mengganti konstitusi Inggris, English Common Law, dengan Biblical Laws, pada tahun 1642 sampai 1648 itu, kini menjadi negara baru. Pada awalnya, di benua baru itu, mereka hanya ingin mendirikan komunitas dengan perundangan sendiri yang mereka inginkan dengan nama The Plymouth Colony. Adalah Mohammed Ben Abdellah al-Khatib, dikenal dengan sebutan Mohammed III, Raja Maroko (1757-1790) yang pertama merasa simpati dengan perjuangan bangsa baru ini. Dua pengamat hubungan internasional Gary Clyde Hufbauer dan Claire Brunel dalam sebuah jurnal di Peterson Institute for International Economics berjudul Capitalizing on the Morocco-US Free Trade Agreement: a road map for success, menjelaskan bahwa Raja Marokolah yang pertama mengakui kemerdekaan Amerika Serikat tahun 1777. Mohammed al-Khatib bahkan saat itu memberi bantuan militer ke pihak AS saat Presiden George Washington meminta izinnya tahun 1789 agar kapal-kapal AS boleh berlayar di sekitar Maroko. Walaupun berperan penting dalam mendorong lahirnya sebuah negara yang kemudian menjadi adi daya dan pemain tunggal percaturan politik internasional, biografi Mohammed III tidak banyak dituliskan. Dia merupakan putra Sultan Abdallah IV yang berkuasa di Maroko 1745 sampai 1757. Sebelum memangku sebagai kepala negara, anggota Dinasti Alaouite ini pernah menjadi Gubernur Marrakesh tahun 1750 dan menjabat sementara sebagai Sultan tahun 1748. Kemampuannya dalam dunia diplomasi dan hubungan internasional membuatnya dikenal sebagai pemimpin yang berpikiran terbuka dibandingkan pendahulunya. Ia menandatangani berbagai perjanjian damai dengan negara-negara Eropa, dan membatasi kekuasaan para perompak, bajak laut Barbary. Visi ekonominya mendorong negara untuk menghidupkan kembali kota maritim Essaouira dan mengundang investor, pedagang dan pelaku usaha Yahudi dan Inggris untuk menanamkan modalnya di sana. Dalam proyek revitalisasi kota tua Casablanca (Derb Tazi) dan renovasi Kasbah Marrakesh, raja keturunan Nabi SAW ini menggunakan banyak teknisi dan arsitek Eropa seperti Théodore Cornut dan muallaf Inggris Ahmed el Inglizi. Mungkin karena itu, dalam pertemuan Raja Maroko dengan Presiden AS Barack Obama baru- baru ini, seorang penulis di Middle East Voices di VOANews, Kamis (22/11), Vish Sakthivel mengatakan, sudah saatnya AS dan Maroko me- reset kembali hubungan bilateral mereka ke arah yang lebih baik, mengingat eratnya pertalian sejarah antar keduanya. "Administrasi [AS] harus bekerja di luar kepentingan seremonial dalam momen kunjungan Raja Maroko, sebuah kunjungan yang pertama ke Washington sejak tahun 2004," katanya. "[AS] harus menggarisbawahi dengan substantif komitmen Amerika untuk kemitraan yang kuat dengan negara Afrika Utara yang mengejutkan cukup tangguh itu."

Minggu, 29 Juni 2014

Kumpulan Ucapan Dan Kata Mutiara Ramadhan 1435H

puasa.jpg Ucapan Selamat Puasa Ramadhan 1435 H – Bulan suci Ramadhan telah tiba rasa suka cita terasa disetiap umat muslim di seluruh dunia alangkah baiknya rasa suka ini kita bagikan bersama teman dekat dan keluarga tercinta melalui ucapan kata kata indah selamat Puasa Ramadhan 1435 H tahun 2014. Nah bagi kamu yang kesulitan membuat ucapan selamat puasa ramadhan 1435 H 2014 tidak perlu pusing memikirnya palingseru.com telah merangkum beberapa kata kata ucapan selamat puasa ramadhan 1435 H di Internet yang bisa kamu kirimkan ke teman dan saudara melalui sms, bbm, facebook dan twiiter. Ucapan selamat Puasa Ramadhan 1435 H juga bisa kamu jadikan untuk status facebook dan twitter serta status ucapanPuasa Ramadhan 1435 H di bbm. Lihat Juga: Kumpulan Foto DP BBM selamat Puasa Ramadhan 2014 Ucapan Selamat Puasa Ramadhan 1435 H 2014 Matahari berdzikir, angin bertasbih dan pepohonan memuji keagungan-Mu. Semua menyambut datangnya malam Seribu Bulan. Selamat datang Ramadhan, Selamat beribadah puasa. Mohon Maaf Lahir dan Batin Ya Allah … Perkayalah Saudaraku ini dengan keilmuan Hiasi hatinya dengan kesabaran Muliakan wajahnya dengan ketakwaan Perindahlah fisiknya dengan kesehatan Serta terimalah amal ibadahnya dengan kelipatgandaan Karena hanya Engkau Dzat Penguasa Sekalian Alam Marhaban Ya Ramadhan Mohon maaf lahir dan batin gersang bumi tanpa hujan, gersang akal tanpa ilmu, gersang hati tanpa iman, gersang jiwa tanpa amal … Marhaban Ya Ramadhan selamat menunaikan ibadah puasa mohon maaf lahir dan batin jika hati seputih awan jangan biarkan ia mendung, jika hati seindah bulan hiasi dengan senyuman marhaban ya ramadhan selamat menunaikan ibadah puasa mohon maaf lahir dan bathin Sebelum cahaya padam, Sebelum hidup berakhir, Sebelum pintu taubat tertutup, Sebelum Ramadhan datang, saya mohon maaf lahir dan bathin … Jika semua harta adalah racun, maka zakatlah penawarnya. Jika seluruh umur adalah dosa, maka tobatlah obatnya. Jika seluruh bulan adalah noda, maka Ramadhan lah pemutihnya. Perkataan yg indah adlh “ALLAH” Lagu yg merdu adlh “ADZAN” Media yg terbaik adlh “AL QUR’AN” Senam yg sehat adlh “SHALAT” Diet yg sempurna adlh “PUASA” Kebersihan yg menyegarkan adlh “WUDHU” Perjalanan yg indah adlh “HAJI” Khayalan yg baik adlh ingat akan “DOSA&TAUBAT” Mudah2an bln yg suci ini bs membawa iman dan takwa, Amien … SEIRING TERBENAM MENTARI DI AKHIR SYA’BAN, TIBALAH KINI BULAN RAMADHAN, PESAN INI SEBAGAI GANTI JABAT TANGAN UNTUK MOHONKAN MAAF DAN KEKHILAFAN. MARHABAN YA RAMADHAN. Fajar ramadhan segera menghampiri dunia, selembar sutra menghapus noda, sebening embun penyejuk kalbu, sucikan hati bersihkan jiwa di bulan yang suci. selamat menunaikan ibadah puasa 1434 H semoga amal kita diterima Alllah SWT. Amiiin … Puasa mengambil jarak dengan dunia agar manusia tidak jadi budaknya karena dunia adalah permainan bermegah-megah dengan bangunan berbangga-bangga dengan kekayaan semua itu dapat melalaikan. Padahal manusia hanyalah pengembara saat mati hartanya tak akan dibawa hanya amal-saleh yang ikut serta Yang ada disisi manusia akan sirna Yang ada di sisi Allah abadi selamanya. Ibarat roda yang terus berputar, tak terasa debu dan kerikil mengotori dan menggoresnya. Begitulah perjalanan hdup kita berbagai kesalahan telah menodainya. Maka di bulan yang suci dan penuh rahmat ini mari kita maksimalkan ibadah kita. Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan 1434 H. Di bulan yang suci ini, ijinkanlah temanmu yang ganteng dan imut ini buat ngucapin met puasa ramadhan 1435h. Mohon maaf jika ada kesalahan dan kekhilafan yang belum sempat termaafkan. Sahabatku, jangan lupa bangun buat sahur yak.. karena aku gak mo liat kamu pingsan karena jujur aja badanmu gede banget.. berat sob, hehehe.. Met puasa ya.. Wahai saudaraku yang beriman. mari kita laksanakan ibadah puasa 1435 H ini dengan penuh semangat dan kekompakan. Jangan pas buka-nya aja kompak yach.. hahaha.. Bulan Ramadhan adalah bulan yang suci. Seperti embun pagi yang membasahi dedaunan di kala pagi. Embun sejuk yang akan membasuh dan membersihkan jiwa kita dari segala dosa. Selamat menunaikan Ibadah Puasa 1435 H