Populer

Cari Blog Ini

Music Listening

Translate

Senin, 25 Februari 2019

MAQAM DATU LABAH

MAQAM DATU LABAH
(Haji Gusti Saaluddin Bin Gusti Maleh)

Makam Wali Allah yang satu ini mulai dikenal masyarakat umum. Makam Datu Labah, tidak jauh tempatnya dengan keluarga dan pusara salah satu gurunya yaitu Syekh Ahmad bin H. Muhammad As’ad di Balimau.

Datu Labah bernama asli Haji Gusti Saaluddin bin Gusti Maleh diperkirakan lahir sekitar tahun 1821. Ayahnya seorang Pangeran di Kesultanan Kutawaringin yang bergelar Pangeran Adipati Antakesuma 2 bin Sultan Tuha Kesuma Yudha, beliau bersaudara kandung dengan Sultan Imanuddin bin Sultan Tuha Kesuma Yudha Sultan Kutawaringin ke IX, seorang sultan yang menancapkan tiang Sangga Banua sebagai simbol dipindahkannya ibukota Kesultanan Kutawaringin dari Kotawaringin Lama (Kolam) ke Pangkalan Bun pada tahun 1811 silam.

Dari beberapa catatan keluarga Pagustian di Kotawaringin, Martapura dan Amuntai. Pangeran Adipati Antakesuma 2 memiliki banyak anak di antaranya Ratu Sukma Negara dan Ratu Anom Suryawinata, pada versi lain disebutkan juga Haji Gusti Abdul Kopi.

Haji Gusti Saaluddin memiliki gelar kebangsawanan Pangeran Suryandaka Ardi Kesuma seseorang yang luas wawasan dalam ilmu agama dan juga sakti penuh wibawa. Haji Gusti Saaluddin diangkat sebagai seorang penghulu pada wilayah Banua Lima sekitar tahun 1860-1865. Distrik Amuntai/Amonthaij/Amoenthaij/Amoenthai adalah bekas distrik (kawedanan) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Onderafdeeling Amuntai, Alabio dan Balangan pada zaman kolonial Hindia-Belanda dahulu.

Sekadar gambaran sistem pemerintahan pada masa Sultan Adam Al Watsiqubillah seperti berikut :

1. Mufti : hakim tertinggi, pengawas Pengadilan umum
2. Qadi : kepala urusan hukum agama Islam
3. Penghulu : hakim rendah
4. Lurah : langsung sebagai pembantu
5. Lalawangan (Kepala Distrik) dan mengamati pekerjaan beberapa orang Pambakal (Kepala Kampung) dibantu oleh Khalifah, Bilal dan Kaum.
6. Pambakal : Kepala Kampung yang menguasai beberapa anak kampung.
7. Mantri : pangkat kehormatan untuk orang-orang terkemuka dan berjasa, di antaranya ada yang menjadi kepala desa dalam wilayah yang sama dengan Lalawangan.
8. Tatuha Kampung : orang yang terkemuka di kampung.
9. Panakawan : orang yang menjadi suruhan raja, dibebas dari segala macam pajak dan kewajiban.

Haji Gusti Saaluddin yang bergelar Datu Labah atau Datu Sulabah atau Datu Labai sejak kecil berada dalam lingkungan keluarga berkecukupan dan taat beragama. Ayahnya seorang Pangeran Adipati di Kesultanan Kutawaringin.

Masa mudanya dihabiskan menuntut ilmu agama di kota Martapura, kota yang kala itu terkenal sebagai gudangnya ulama-ulama terkemuka, para dzuriyyatnya Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang merupakan benteng aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah pada masa itu dan sampai sekarang.

Haji Gusti Saaluddin adalah keturunan bangsawan banjar yang dikenal berjiwa ksatria dan sangat mencintai rakyatnya. Saat diangkat menjadi penghulu, Haji Gusti Saaluddin bertekad menunaikan tugas dan kewajibannya itu dengan sebaik-baiknya yang didasari kecintaan dan baktinya kepada tanah leluhur datu-datunya.

Banua Lima atau sekarang orang menyebut Banua Enam merupakan sebuah wilayah dari Kesultanan Banjar yang meliputi daerah Amuntai, Alabio, Sungai Banar, Kalua dan Negara.

Pada masa Banua Lima masuk dalam kancah Perang Banjar yang merupakan reaksi terhadap sengketa pergantian tahta kesultanan ketika Pemerintah Hindia Belanda terlalu ikut campur dalam hal penunjukkan calon sultan yang sebenarnya kurang disenangi rakyat.

Dalam hal ini antara Pangeran Tamjid yang didukung penuh Belanda dengan Pangeran Hidayat yang didamba-dambakan rakyat sebagai pengganti kakeknya, Sultan Adam Al Watsiqubillah.

Haji Gusti Saaluddin yang merupakan salah satu tokoh Banua Lima dihadapkan keputusan sulit untuk menjatuhkan keberpihakan kepada siapa, antara membela marwah Kesultanan Banjar atau menghadapi taktik devide et impera yang dilakukan Belanda.

Namun setelah melalui tafakkur Ilallah serta sudut pandang yang murni terlahir dari hati seorang Putera Asli Banua, beliau mengambil keputusan bulat untuk bertekad berjuang bersama-sama Pangeran Hidayat,Tumenggung Jalil, Penghulu Rasyid, Gusti Matseman, Gusti Matsaid dan lain-lainnya.

DALAS BELANGSAR DADA, MUN MANYARAH KADA …Inilah kalimat yang terpatri di dalam jiwa para Pejuang Banjar saat itu, mereka merindukan syahid membela tanah leluhur dari kesewenang-wenangan Pemerintah Hindia-Belanda.

Belanda geram bukan main ketika mengetahui Haji Gusti Saaluddin bersama tokoh-tokoh Banua Lima lainnya membelot berpihak dan mendukung penuh Pangeran Hidayat sebagai ahli waris yang berhak menduduki tahta Kesultanan Banjar berdasarkan surat wasiat Sultan Adam Al Watsiqubillah.

Puncaknya ditandai dengan Haji Gusti Saaluddin menjadi Pamayung Sultan Banjar ketika Penabalan Pangeran Hidayatullah sebagai Sultan Banjar di Amuntai Sungai Banar.

Bergabungnya beliau di barisan Pejuang Banjar menimbulkan kerisauan dan kegusaran di kalangan pemerintah hindia belanda karena beliau dianggap salah satu sosok yang berpengaruh menjadi panutan di wilayah Banua Lima saat itu.

Kedudukannya sebagai seorang Penghulu serta merta dicopot pemerintah hindia belanda secara sepihak. Disebabkan mereka murka sekali setelah mengetahui keputusannya yang dianggap membangkang kepada Pemerintah Hindia Belanda, sampai-sampai gelar gustinya pun dihapuskan oleh Pemerintah Belanda.

Kampung Balimau dijadikannya tempat persembunyian dan pusat perjuangannya melawan penjajah karena letaknya yang strategis, sekaligus juga dekat dengan keluarga dan pusara salah satu gurunya yaitu Syekh Ahmad bin H. Muhammad As’ad Balimau.

Syekh Ahmad bin Muhammad As’ad bin Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Hubungan kekerabatan keluarga kesultanan dan keluarga Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan sudah terjalin lama. Sejak Syekh Muhammad Arsyad disekolahkan ke Mekkah oleh Sultan Tahlilullah Kemudian setelah datang dari Mekkah, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dikawinkan dengan Ratu Aminah binti Pangeran Thaha bin Sultan Tamjidillah, yang banyak melahirkan ulama-ulama besar tidak hanya di Banua Banjar tapi juga Kalimantan.

Haji Gusti Saaluddin di kampung ini menyamar sebagai seorang pengemis yang oleh masyarakat zaman itu disebut Labai sehingga membuat prajurit belanda terkecoh, sulit menemukan keberadaannya yang selalu berpindah-pindah tempat.

Dan juga di lain waktu sering wajah dia dihinggapi binatang lebah lalu membentuk seperti janggut yang menutupi wajah Haji Gusti Saaluddin. Hingga masyarakat ada yang menyebut dia Datu Labah.

Haji Gusti Saaluddin memiliki beberapa orang anak yang diketahui ada 4 orang anak yaitu Gusti Anang Acil,Gusti Biduri,Gusti Madari, dan Gusti Jawiyah. Namun dari cerita tutur dzuriyyat beliau yang ada di Balimau dan Danau Panggang, masih banyak anak-anak Datu Labah dari istri lainnya seperti di antaranya Gusti Shofiyyah yang menikah dengan Datu Panjang (gelar) menurunkan dzuriyyat di Desa Karang Paci seperti Suanang, Amin, Jumintan, Aluh Acil, Ilas dan Ampal.

Sebelum wafat beliau berdoa kepada Allah SWT untuk diberikan pahala Fii Sabilillah 7 turunan kepada dzuriyyat-dzuriyyatnya.

Ketokohan beliau sangat masyhur hingga setelah wafatnya, dari cerita turun temurun dari salah seorang dzuriyyatnya bahwa Haji Gusti Saaluddin berwasiat sebelum meninggal apabila sampai masanya perang berkepanjangan maka ambil lah sedikit bagian dari tanah di sekitar makam beliau untuk dijadikan “syarat” saat hendak pergi berperang.

Source : Muhammad Randi Rafsanjani

1 komentar:

  1. Jadi yg benar yg mana? Bapaknya datuk labah ?
    Datuk labah bin gusti maleh ??
    Datuk labah bin pangeran anta kusuma ??

    Jangan jangan ini pencaplokan kuburan orang lain? Karna jauh sekaki dari pangkalambun tiba2 di baliamau
    Baca manakib nya saja tidak rasional bapak datuk labah 2 orang

    BalasHapus

Silakan Tinggalkan Komentar anda disini dan harap gunakan Kata-Kata yg Sopan!....................