Link view...

WELCOME TO BANJARMASIN THE CITY OF THOUSAND RIVER



Kamis, 06 Januari 2011

SULTAN SURIANSYAH DAN PROKLAMASI ISLAM DI TANAH MELAYU BANJAR

Salah satu peninggalan kerajaan Islam Banjar yang sampai sekarang masih bisa dilihat oleh generasi sekarang sesudah lebih kurang 4 abad yang lalu adalah Masjid Sultan Suriansyah di Kuin. Sebagaimana namanya masjid ini dibangun pada masa pemerintahan raja Banjar pertama yakni Sultan Suriansyah yang sebelumnya bernama Raden Samudera. Besar kemungkinan masjid ini dibangun pada tahun 1528-an sesudah terjadinya pengislaman sebagian masyarakat Banjar, karena itu diperkirakan usianya tidak kurang dari 450 tahun sudah. Menurut cerita yang mendapatkan tugas mengumpulkan alat-alat bangunan atau kayu untuk bangunan masjid ini adalah seseorang yang bernama Patih Anom alias Arya Malingkang atau Datu Pujung, seorang tokoh yang disegani dan mempunyai kekuatan luar biasa. Oleh Patih Anom didatangkan empat buah tiang soko guru dari kayu Halayung yang besar, karenanya konstruksi pertama masjid ini terdiri dari tiang soko Halayung, lantai Halayung dan atap dari dari daun rumbia, letaknya berjarak lebih kurang 500 meter dari istana sultan.

Masjid Sultan Suriansyah ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran, perbaikan dan pergantian, misalnya tiang soko yang dulunya dari kayu Halayung diganti dengan kayu Bulan dan terakhir diganti dengan kayu Besi (Ulin). Kemudian atap yang dulunya rumbia diganti dengan atap sirap, begitu pula dengan dindingnya, yang sekarang sudah beton/semen. Pada zaman pemerintahan Sultan Tamzidillah I pernah diadakan perubahan, bentuk masjid dibuat berloteng empat tingkat yang ditambah dengan unsur-unsur yang belum ada pada aslinya, yaitu unsur menara empat rangkap. Loteng yang empat rangkap tersebut mengandung nilai-nilai religius dan filsafat ketuhanan yang tinggi, tingkat pertama mengandung pengertian syariat, kedua tariqat, ketiga adalah ma’rifat dan keempat adalah hakikat. Ada ukiran dan tulisan dari huruf Arab yang terdapat disalah satu pintunya dan merupakan wakaf dari Sultan Tamzidillah, kemudian juga ada sebuah mimbar berukir dari kayu ulin yang dibuat pada tahun 1292 H atau 1867 M.

Sebagai salah satu peninggalan sejarah dan aset umat yang berharga ada satu hal menarik dari keberadaan Masjid Sultan Suriansyah yang sedang mengalami pemugaran sekarang ini, yakni benarkah bahwa ia merupakan masjid tertua dan masjid pertama yang didirikan di Bumi Kalimantan (Banjarmasin)? Bila didasarkan pada catatan sejarah yang ada maka statement pertama pertanyaan di atas akan kita jawab dengan jawaban benar, sebab masjid ini memang merupakan masjid yang paling tua. Namun jawaban benar tersebut ternyata masih diragukan untuk pertanyaan yang kedua, sebab apabila di telusuri lebih jauh lagi tentang sejarah masuk dan perkembangan agama Islam di Bumi Kalimantan boleh jadi bahwa masjid pertama yang dibangun di Banua ini bukanlah masjid Sultan Suriansyah. Karena itu tulisan singkat ini bermaksud untuk membuka kembali wawasan kita tentang peristiwa permulaan masuknya Islam di Banua Banjar pada empatratus tahunan yang lampau menjelang kelahiran kota Banjarmasin.

Berdasarkan hikayat Banjar diceritakan bahwa cikal bakal berdiri kerajaan dan kota Banjarmasin bermula dari terjadinya perebutan suksesi kepemimpinan di kerjaan Daha (Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan) yang didirikan oleh Empu Djatmika pada tahun 1400 akhir. Berdasarkan wasiat raja Daha terakhir Maharaja Sukarama yang berpesan kepada putra-putri dan rakyat agar yang menggantikannya menjadi raja bila ia wafat adalah P. Samudera. Pesan ini ditentang oleh oleh P. Tumenggung dan putra lainnya. Karenanya ketika Maharaja Sukarama benar-benar wafat dan P. Samudaera masih kecil maka tak pelak lagi kerusuhan dan perebutan kekuasaan terjadi dalam kerajaan, sehingga oleh seorang Mahapatih (Mangkubumi) raja yang arif bijaksana bernama Arya Trenggana P. Samudera diungsikan ke daerah Banjarmasin yang waktu itu belum lagi dikenal, misalnya dalam kitab Negarakertagama disebutkan bahwa daerah yang dijadikan sebagai jajahan Majapahit di Kalimantan Selatan adalah Barito, Sawku dan Tabalong. Begitu pula dalam Sunda Manuscript 1518 atau Castanheda tak ada samasekali suatu bukti positif yang menyebutkan nama Banjarmasin.

Pengungsiannya ke daerah Banjarmasin yang dekat dengan daerah pelabuhan Muara Bahan (Marabahan) telah mempertemukan P. Samudera dengan Patih Masih yang menjadi pemimpin desa Oloh Masi yang meliputi daerah Kuin, Belitung, Tamban dan sekitarnya sekarang ini. Patih Masih adalah adalah patih dari golongan Oloh Masi atau orang Melayu, yang sebagai seorang patih memungkinkan ia mengetahui hal-hal dan perkembangan politik di Negara Daha, karena itu tak heran jika inisiatif pertama untuk merajakan P. Samudera datang dari orang-orang Melayu yang tinggal di pesisir Kuin. Ada dua alasan kenapa Patih Masih merasa berkepentingan untuk merajakan Raden Samudera, pertama karena ia dan masyarakatnya tidak mau lagi melihat daerahnya sebagai daerah jajahan yang terus-menerus mengantar upeti ke Negara Daha kepada Pangeran Tumenggung. Kedua sesuai dengan wasiat Maharaja Sukarama yang berhak menduduki kursi kerajaan Negara Daha sebenarnya adalah P. Samudera. Itulah sebabnya sesudah P. Samudera di rajakan mereka bersepakat untuk merebut bandar Muara Bahan dan menjadikannya sebagai bandar utama. Peristiwa ini menimbulkan terjadinya pertentangan yang semakin sengit sekaligus ketakutan penguasa kerajaan Negara Daha atas pengaruh yang lebih besar dari P. Samudera, sehingga pada akhirnya memicu terjadinya peperangan antara P. Samudera yang berdiam di daerah pesisir (muara Banjar) dengan P. Tumenggung penguasa daerah pedalaman. Perang keluarga antara Pangeran Samudera yang merupakan anak sepupu dari Pangeran Tumenggung diperkirakan terjadi pada tahun 1526, sebab pada masa itulah dilakukan pengiriman armada dan bantuan pasukan ke Banjarmasin oleh penguasa Kerajaan Demak Sultan Trenggana. Akhir dari peperangan keluarga tersebut dimenangkan oleh Raden Samudera dengan timbulnya kesadaran dari P. Tumenggung bahwa Raden Samuderalah yang berhak atas tahta kerajaan, sehingga akhirnya oleh Raden Samudera sebagian penduduk bekas kerajaan Negara Daha diimigrasikan ke Banjarmasin.

Dari gambaran di atas ada beberapa hal kembali yang menarik untuk dikaji ulang dalam konteks masuknya Islam di Kalimantan. Pertama penulis berasumsi bahwa jauh sebelum Raden Samudera memasuki Kuin, sebagian masyarakat Banjarmasin sudah ada yang beragama Islam, sebab letak Banjarmasin yang merupakan daerah pesisir laut dan dekat bandar Marabahan memungkinkan daerah ini untuk dikunjungi oleh mubalig-mubalig Islam dari daerah Sumatera dan Jawa. Karena itu menurut salah satu berita diriwayatkan bahwa salah seorang Walisongo yakni Sunan Giri atau Sultan Muhammad Ainul Yaqin ketika masih mengaji ilmu di pesantrennya Sunan Ampel Surabaya ia yang bernama kecil Joko Samudera pernah diutus, ditugaskan berdakwah dan mengadakan pelayaran ke pulau Banjar. Besar kemungkinan ketika tugas dakwah itu dilaksanakan oleh Sunan Giri Banjarmasin belum menjadi kota pelabuhan besar dan tidak disebut-sebut oleh orang, lebih-lebih lagi pada saat itu kerajaan Islam Banjar belum dibentuk oleh R. Samudera atau Sultan Suriansyah. Sehingga berita kedatangan Sunan Giri tersebut tidak kita temukan, karena memang belum tercatat secara jelas. Kedatangan Sunan Giri ke Banjarmasin ini membuktikan bahwa sesungguhnya ada sebagian dari masyarakatnya yang sudah memeluk agama Islam.

Kedua penulis berasumsi bahwa Patih Masih yang menjadi pemimpin orang-orang Melayu di Banjarmasin sebenarnya adalah seorang yang telah memeluk agama Islam, karenanya ia berusaha keras untuk menghapuskan dan melepaskan dominasi kekuasaan kerajaan Negara Daha yang beragama Budha/Hindu terhadap Banjarmasin dan daerah sekitarnya. Dengan cara merajakan Raden Samudera penerus atau generasi keturunan kerajaan Negara Daha/Negara Dipa yang terbuang dan membuat satu konsensus serta mendidik P. Samudera di rumahnya dalam lingkungan orang-orang Islam. Itulah sebabnya ketika Patih Masih mengusulkan dan mengutus Patih Balit untuk meminta bantuan kepada kerajaan Islam Demak (Jawa Tengah) Raden Samudera menyetujuinya. Dan sebagai seorang muslim setidaknya Patih Masih telah memiliki akses masuk ke kerajaan Demak, sehingga Demak mau membantu dengan satu syarat bahwa Islam harus dijadikan sebagai agama resmi negara oleh Pangeran Samudera dan rakyatnya kelak. Syarat ini dipenuhi oleh Raden Samudera yang pada akhirnya berganti nama menjadi Sultan Suriansyah, memaklumkan berdirinya kerajaan Islam Banjar, serta meresmikan diterimanya Islam secara luas oleh masyarakat Banjar dengan didirikanya masjid Sultan Suriansyah Kuin sebagai pusat peribadatan dan kegiatan dakwah.

Asumsi penulis yang ketiga adalah bahwa berdasarkan argumentasi di atas rasanya mustahil jika diterimanya Islam sebagai agama resmi masyarakat Banjar tanpa menimbulkan keributan, kerusuhan dan pergolakan, apabila agama Islam belum berakar atau dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Banjar. Dengan kata lain pergolakan akan terjadi jika sebagian besar masyarakatnya adalah penganut agama Budha atau Hindu. Namun ternyata kerusuhan tidak terjadi dan tidak pernah ada dalam catatan sejarah, sehingga membuktikan bahwa Islam sebelum diakui sebagai agama resmi negara telah terlebih dahulu dipeluk oleh sebagian masyarakat Melayu Banjar. Karenanya peristiwa pengislaman masyarakat Banjar yang dilakukan oeh ulama utusan kerajaan Demak Khatib Dayyan lebih banyak ditujukan kepada masyarakat kerajaan Negara Daha yang telah imigrasi ke daerah Banjarmasin dan sekitarnya.

Asumsi yang keempat didukung oleh data dan fakta bahwa sampai sekarang tidak ditemukan bukti-bukti yang bisa menguatkan bahwa di daerah Banjarmasin ada bangunan atau tempat peribadatan khusus agama Budha atau Hindu berupa candi seperti yang ditemukan di Amuntai (Candi Agung) dan di Margasari (Candi Laras) atau patung-patung yang bercorak Budha serta bekas-bekas yang menjadi bukti kuat bahwa agama Budha/Hindu tidak dianut secara umum oleh orang-orang yang mendiami daerah pesisir Banjarmasin dan sekitarnya.

Berdasarkan keempat asumsi dan argumentasi di atas maka penulis berkeyakinan bahwa masjid pertama yang didirikan di Bumi Kalimantan bukanlah masjid Sultan Suriansyah, tetapi ada masjid-masjid lain yang dibangun oleh masyarakat Islam Banjar terlebih dahulu. Akan tetapi keberadaan masjid-masjid tersebut tidak bisa dipertahankan karena dimakan oleh waktu dan usia, atau boleh jadi karena bentuk dan bahan bangunan yang masih bersifat sederhana, sehingga tidak bertahan lama, tidak tercatat dan dianggap tidak memiliki nilai sejarah yang menjadi tanda dari suatu peristiwa. Boleh jadi pula bahwa tempat lokasi bangunan Masjid Sultan Suriansyah sekarang pada mulanya adalah masjid kecil yang hanya mampu menampung sejumlah kecil jamaah dan konstruksi yang sederhana, sehingga perlu untuk dibangun kembali dengan model dan konstruksi yang lebih baik, lebih kuat dan lebih besar sebagaimana yang terlihat sekarang. Sebab Masjid Sultan Suriansyah merupakan tanda diterimnya Islam secara resmi oleh kerajaan, tempat peribadatan raja dan kaum bangsawan, tempat pertemuan dan peringatan keagamaan rakyat dan kerajaan. Karena itulah eksistensinya dianggap sebagai bangunan penting yang harus tetap lestari, dikenang, dan dicatat tinta sejarah.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa, pertama Masjid Sultan Suriansyah hanyalah masjid pertama yang dibangun oleh penguasa (pihak kerajaan Banjar) sebagai bukti dan pemenuhan konsensus yang telah disepakati oleh Raden Samudera atau Sultan Suriansyah dengan kerajaan Islam Demak di Jawa Tengah, bukan masjid pertama yang berdiri di bumi Kalimantan, sedangkan masjid pertama yang didirikan oleh masyarakat Islam Banjar hilang atau missing dalam catatan sejarah, apa namanya dan di mana bekas bangunannya? Kedua sebagian anggota masyarakat Banjar daerah muara atau pesisir sebagai salah satu kelompok yang menghuni Propinsi Kalimantan Sekarang sudah memeluk agama Islam jauh sebelum Raden Samudera atau Sultan Suriansyah memproklamirkan berdirinya kerajaan Islam Banjar. Karena itu masuknya Islam ke daerah ini diperkirakan tidak jauh berbeda dengan masuknya Islam ke Pulau Sumatera dan Jawa.

Tidak ada komentar:

Social Bookmark